Tuesday, December 15, 2015

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM FARMAKOLOGI ANALGESIK PADA MENCIT

BAB  1
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Obat adalah suatu bahan yang  yang berbentuk  padat , cair, atau gas yang menyebkan pengaruh terjadinya  perubahan fisik atau psikologis pada tubuh.Hampir semua obat berpengaruh terhadap system syaraf pusat. Obat tersebut bereaksi pada otak dan dapat mempengaruhi pikiran seseorang yaitu perasaan atau tingkah laku, hal ini disebut obat psikoaktif.
Obat dapatberasal dari berbagai sumber , banyak diperoleh dari ekstraksi tanaman,  misalnya nikotin dalam tembakau , kofein dari kopi dan kokain dari tanaman koka . Morfin dan kodein diperoleh dari tanaman opium, sedangkan heroin dibuat dari morfin dan kodein. Marijuana beasal dari daun, tangkai atau biji dari tanaman kanabis (Cannabis sativum) , sedangkan hashis dari minyak hash berasal dari resin tanaman tersebut, begitu juga ganja.
Nyeri terjadi jika organ tubuh, otot atau kulit terluka oleh benturan,penyakit ,keram , atau bengkak. Rangsangan penimbul nyeri umumnya mempunyai kemampuan yang menyebabkan sel-sel melepaskan enzim proteolitik (pengurai protein) dan polipeptida yang merangsang ujung syaraf yang kemudian menimbulkan impuls nyeri . Senyawa kimia dalam tubuh yang disebut prostaglandin bereaksi membuat ujung syaraf menjadi lebih sensitive terhadap rangsangan nyeri oleh polipeptida lain.

1.2  Rumusan Masalah
·        Bagaimana respon nyeri pada mencit ?
·        Bagaimana respon menjilat kaki depan atau meloncat saat mencit merasakan nyeri ?
·        Bagaimana respon nyeri mencit setelah pemberian obat analgesik?
·        Bagaimana mekanisme kerja obat analgesik?
1.3  Tujuan
·        Mengamati respon nyeri pada mencit yang ditimbulkan oleh bahan kimia.
·        Mengamati respon menjilat kaki depan atau meloncat ( merupakan respon nyeri mencit ) yang ditimbulkan termis.
·        Membandingkan hambatan respon nyeri yang timbul setelah pemberian obat analgesik.
·        Menjelaskan mekanisme kerja obat analgesik.








BAB  II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Dasar Teori
            Analgesik atau obat penghilang rasa nyeri adalah zat-zat yang mengurangi atau menghalau rasa nyeri tanpa menghilangkan kesadaran.(Tan hoan,1964)
            Nyeri adalah gejala penyakit atau kerusakan yang paling sering. Walaupun sering berfungsi untuk mengingatkan , melindungi dan sering memudahkan diagnosis , pasien merasakannya sebagai hal yang tidak mengenakkan. Kebanyakan menyiksa dan karena itu berusaha untuk bebas darinya.Seluruh kulit luar mukosa yang membatasi jaringan dan juga banyak organ dalam bagian luar tubuh peka terhadap rasa nyeri , tetapi ternyata terdapat juga organ yang tak mempunyai reseptor nyeri,seperti misalnya otak. Nyeri timbul jika rangsang mekanik, termal, kimia atau listrik melampaui suatu nilai ambang tertentu (nilai ambang nyeri) dan karena itu menyebabkan kerusakan jaringan dengan embebasan yang disebut senyawa nyeri. (Mutscher,1999)
            Semua senyawa nyeri (mediator nyeri) seperti histamine,brakidin, leukontriendon prostaglandin merangsang reseptor nyeri (nociceptor) di ujung-ujung saraf bebas di kulit, mukosa serta jaringan lain dan demikian menimbulkan antara lain reaksi radang dan kejang-kejang .Nociceptor ini juga terdapat diseluruh jaringan dan organ tubuh, terkecuali di SSP. Dari tempat ini rangsangan disalurkan ke otak melalui jaringan lebat dari tajuk-tajuk neuron dengan sangat banyak sinaps via sumsung tulang belakang , sumsum lanjutan dan otak tengah.Dari thalamus impuls kemudian diteruskan kepusat nyeri di otak besar dimana impuls dirasakan sebagai nyeri .(Tjaydan Raharja, 2007)
Prostgilandin di duga mensintesis ujung saraf terhadap efek kradilamin, histamine dan medikator kimia lainnya yang dilepaskan secara local oleh proses inflamasi. Jadi, dengan menurunkan sekresi PEG, aspirin dan AIN lainnya menekan sensasi rasa sakit. (Mycek J. Mary,2)
Medicetator nyeri yang penting adalah mista yang bertanggung jawab untuk kebanyakan reaksi. Akerasi perkembangan mukosa dan nyeri adalah polipeption (rangkaian asam amino) yang dibentuk dari protein plasma. Prosagilandin mirip strukturnya dengan asam lemak dan terbentuk dari asam-asam anhidrat. Menurut perkiraan zat-zat bertubesiset vasodilatasi kuat dan meningkat permeabilitas kapiler yang mengakibatkan radang dan nyeri yang cara kerjanya serta waktunya pesat dan bersifat lokal. (Tjay Hoan Tan, 2007)
            Adapun jenis nyeri beserta terapinya yaitu :
a.       Nyeri ringan
Contohnya  : sakit gigi, skit kepala, sakit otot karena reaksi virus , nyeri haid , dan keseleo. Pada nyeri dapat digunakan analgetik perifer seperti paracetamol, asetosal dan galfenin.
b.      Nyeri menahun
Contohnya  : Rheumatik  dan arthritis. Pada nyeri ini dapat digunakan analgetik anti inflamasi , seperti acetosal, ibuprofen dan indometacin
c.       Nyeri hebat menahun
Contohnya : kanker, rheumatic, neuralgia berat. Pada nyeri ini digunakan analgetik narkotik seperti fentanil, dekstromoramida, bezitramida. (Tan Hoan.1964)

2.2 Metode
1.      Alat :
·        Spuit injeksi 3 buah ( 1 cc )
·        Stopwatch
·        Mencit 2 ekor
2.      Bahan :
·        Larutan tylosa dalam air 1 %
·        Suspensi acetosal 1 % dalam larutan tylosa 1 %
·        Suspensi paracetamol dalam tylosa 1 %
·        Larutan sterill asam asetat 1 %
3.      Cara Kerja :
·        Mencit dibagi menjadi 2 kelompok ( control positif dan control negative )
·        Mencit 1 diberi larutan CMC-Na sebagai control negative
·        Mencit 2 diberi suspensi paracetamol0,5 ml secara subkutan
·        Setelah 2 mencit mendapatkan perlakuan , ditunggu hingga 30 menit .Kemudian masing-masing di injeksikan asam asetat 1 % secara intra peritorial.
·        Setelah 5 menit diamati dan dicatat jumlah nyeri yang timbulpada mencit berupa liukan  badan (perut kejang dan kaki ditarik kebelakang )
·        Pengamatan jumlah liukan dilakukan setiap 5 menit selama 20 menit.
·        Dibandingkan hasil yang diperoleh anatar mencit 1 dan 2
·        Meghitung presentase daya analgesic dengan rumus
% daya analgesik = 100-(p/k x 100 )
                       
                        Keterangan :
                                    P      : Jumlah kumulatif liukan mencit yang diberikan obat analgesic
                                    K      : Jumlah liukan mencit yang diberikan CMC-Na ( control negative )






BAB III
HASIL PERCOBAAN

3.1 Data hasil pengamatan

Keterangan
Waktu ( menit)
5
10
15
20
Total
Tikus A
( paracetamol+as. Asetat )
1
2
6
10
19
Tikus B
( as. Asetat )
3

10
17
21
51


3.2Perhitungan

Total tikus A                 : 19
Total tikus B                 : 51
% daya analgesik          : 100-(p/k x 100)
                                     : 100-(19/51x 100)
                                    : 100-37,25
                                    :62,75 %

Diket : p = 19 kali liukan /kejang
             K =51 kali liukan / kejang
                                   

















BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Analisa Data
            Berdasarkan hasil percobaan atau praktikum analgesik pada mencit dengan perlakuan secara subkutan CMC-Na sebagai control negative, sehingga hewan percobaan hanya diberikan CMC-Na pada awal percobaan dan penginduksi asam asetat pada 20 menit setelah pemberian CMC-Na tanpa pemberian sedian analgesik. Paracetamol sebagai control positif menggunakan metode rangsang kimia. Penambahan asam asetat 1% secara intra peritorial sebagai perangsang nyeri. Pemberian asam asetat setelah 5 menit pemberian obat, hal ini diharapkan agar obat yang diberikan belum bekerja sehingga Asam Asetat langsung berefek dan juga untuk mempermudah pengamatan onset dari obat itu. Asam asetat merupakan asam lemah yang tidak terkonjugasi dalam tubuh, pemberian sediaan asam asetat terhadap hewan percobaan akan merangsang prostaglandin untuk menimbulkan rasa nyeri akibat adanya kerusakan jaringan atau inflamasi. Prostaglandin meyebabkan sensitisasi reseptor nyeri terhadap stimulasi mekanik dan kimiawi sehingga prostaglandin dapat menimbulkan keadaan hiperalgesia, kemudian mediator kimiawi seperti bradikinin dan histamine merangsangnya dan menimbulkan nyeri yang nyata. Akibat dari adanya rasa nyeri inilah hewan percobaan akan menggeliatkan kaki belakangnya saat efek dari penginduksi ini bekerja. Pemberian sediaan asam asetat pada peritonial atau selaput gastrointestinal hewan memungkinkan sediaan lebih mudah diabsorbsi oleh tubuh dan cepat memberikan efek.
            Pertama yang dilakukan salah satu mencit diberi tanda merah ( untuk pemberian paracetamol secara subkutan ). Fungsi pemberian tanda adalah untuk membedakan antara mencit yang diberi analgesic dan yang tidak di beri analgesik sehingga tidak keliru dalam proses pengamatan.
            Pada mencit yang diberi tanda warna merahdiberi paracetamol 0,5 ml melalui subkutan dengan penyuntikan dilakukan dibawah kulit tengkuk dicubit diantara jempol dan jari telunjuk kemudian jarum disuntikan dibawah kulit diantara kedua jari  tersebut ditunggu sampai 5 menit kemudian disuntikkan asam asetat 1 % melalui intraperitorial dengan penyuntikan pada kulit abdomen dengan membentuk sudut 100ᵒ pada abdomen bagian tepi dan tidak terlalu kearah kepala untuk menghindari terkenanya kandung kemih dan hati.  Kemudian diamati jumlah respon nyeri yang timbul pada mencit berupaliukan badan pada 5 menit pertama 1 kali, menit ke-10 2 kali,menit ke-15 6 kali, dan menit ke-20b10 kali , jadi total liukan badan (perut kejang dan kaki ditarik kebelakang ) 19 kali.
            Sedangkan pada mencit kedua diberi asam asetat 1 %sebanyak 0,5 ml melalui intra peritorial dengan penyuntikan pada kulit abdomendengan membentuk sudut  100ᵒ  pada bagian tepi abdomen tidak terlalu kearah kepala untuk menghindari kandung kemih dan hati. Fungsi asam asetat disini yaitu untuk merangsang nyeri pada mencit. Kermudian diamati respon nyeri yang timbul pada mencit. Pada 5 menit pertama  3 kali, menit ke-10 10 kali, menit ke-15 17 kali, dan menit ke-20 21 kali liukan , jadi total liukan pada mencit ke- 2 51kali.
            Pada kelompok mencit yang diberi parasetamol, terlihat jumlah geliat yang ditunjukan mencit cukup sedikit dibandingkan dengan  yang hanya diberika asam asetat. Karena Mekanismenya kemungkinan menghambat sintesis prostaglandin (PG) yang menstimulasi SSP. Efek analgetik timbul karena mempengaruhi baik di hipotalamus atau ditempat cedera. Respon terhadap cedera umumnya berupa inflamasi, udem, serta pelepasan zat aktif seperti brandikinin, PG dan histamin. PG dan Brandikinin menstimulasi ujung saraf perifer dengan membawa implus nyeri ke SSP. Parasetamol  dapat menghambat sintesis PG dan brandikinin sehingga menghambat terjadinya perangsangan reseptor nyeri. Karena mempunyai mekanisme kerja menghambat berbagai reaksi in-vitro.

























BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
            Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa :
1)       Analgesik adalah senyawa dalam dosis teurapeutik dan meringankan atau menekan rasa sakit tanpa memiliki kerja anastesi umum.
2)      Pada pemberian obat paracetamoldan CMC-Na secara subkutan atau dampak analgetikum ditandai dengan adanya pengangkatan kaki pada  mencit ( meloncat ) setelah pemberian asam asetat secara intraperitorial pada menit ke 5 , 10 ,15 dan 20.
3)      Mencit dengan pemberian paracetamol dan asam asetat 1%  ( mencit 1 )tegangnya lebih seikit yaitu 19 kali dibandingkan dengan pemberian asam asetat ( mencit 2 ) dengan jumlah kejang 51 kali karena kelompok 1 diberi obat analgesic sebagai pereda nyeri dengan dosis analgesik 62,75%
4)      Obat analgesik memiliki target aksi pada enzim yaitu enzim siklooksigenase (cox) berperan dalam sintesa mediator nyeri , salah satunya prostaglandin. Pembentukan prostaglandin menginhibisi enzim cox pada daerah terluka dengan mengurangi pembentukan mediator nyeri.

5.2 Saran
     Kami sangat mengharapkan bimbingan dari para asisten dalam praktikum dan pembuatan laporan, agar dapat memperoleh hasil yang baik.










DAFTAR PUSTAKA
Anief, M., 1994. Farmasetika. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Ernerst, Mutschler. 1991. Dinamika Obat edisi kelima. Bandung. ITB.
Goodman& Gilman. 2003. Dasar Farmakologi Terapi vol 1.Jakarta. EGC.
Katzung, Bertram G. 1998. Farmakologi Dasar dan Klinik. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran   EGC.
Medicafarma.2008.AnalgesikAntipiretikdanNSAID.http://medicafarma.blogspot.com/2008/04/analgesik-antipiretik-dan-antiinflamasi.html (diakses pada tanggal 25 Oktober 2011).
Mutschler, Ernst. ed. V. Dinamika Obat , ITB 1999 Press : Jakarta
Tan, H. T. dan Rahardja. 2002. Obat-Obat Penting. Gramedia Pustaka Umum. Jakarta.
   Tjay dan K.Rahardja. 2007. Obat-Obat Penting. Jakarta: PT Elex Media Komputindo



No comments:

Post a Comment