Tuesday, December 15, 2015

BIOAVAIBILITAS (BIOEKUIVALENSI) PERMBERIAN OBAT SECARA SUBLINGUAL

BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang
Faktor yang dapat menentukan proses terapi, yaitu: diagnosa penyakit secara akurat, status klinik jelas, dan penentuan obat tepat. Pokok pentingnya biofarmasetika yang erat hubungannya dengan penentuan obat yang tepat. Biofarmasetika merupakan ilmu yang mempelajari tentang hubungan antara sifat fisikokimia formulasi dengan bioavailabilitas obat (Shargel & Andrew, 2005).
Biofarmasetika adalah pengkajian faktor-faktor fisiologis dan farmasetik yang mempengaruhi pelepasan obat dan absorbansi dari bentuk sediaan. Sifat-sifat fisika kimia dari obat dan bahan-bahan penambah menetapkan laju pelepasan obat dari bentuk sediaan dan transport berikutnya melewati membran-membran biologis, sedangkan fisiologis dan kenyataan biokimia menentukan nasib obat dalam tubuh (Lachman dkk, 1994).
Bioavailabilitas suatu obat mempengaruhi daya terapetik, aktivitas klinik, dan aktivitas toksik obat, maka biofarmasetika menjadi sangat penting. Biofarmasetika bertujuan mengatur pelepasan obat sedemikian rupa ke sirkulasi sistemik agar diperoleh pengobatan yang optimal pada kondisi klinik tertentu (Shargel & Andrew, 2005).
Biofarmasi sediaan obat yang diberikan secara sublingual perlu dipelajari agar dapat mengetahui proses pelepasan obat melalui penggunaan sublingual. Sediaan sublingual digunakan dengan cara meletakkan tablet dibawah lidah sehingga zat aktif diserap secara langsung melalui mukosa mulut agar menghasilkan ketersediaan obat yang cepat seperti tablet nitrogliserin.



B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Bagaimana anatomi dan fisiologi sublingual?
2.      Bagaimana pembuluh darah yang melewati sublingual?
3.      Bagaimana komponen dan karakteristik sublingual?
4.      Apakah faktor yang mempengaruhi proses biofarmasetik obat pada pemberian secara sublingual?
5.      Bagaimana evaluasi biofarmasetik sediaan subligual?

C.     TUJUAN
1.      Memahami anatomi dan fisiologi sublingual
2.      Mengetahui pembuluh darah yang melewati sublingual
3.      Mengetahui komponen dan karakteristik sublingual
4.      Mengetahui berbagai faktor yang mempengaruhi proses biofarmasetik obat pada pemberian secara sublingual
5.      Mengetahui evaluasi biofarmasetik sediaan subligual











BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.                 Pengertian Biofarmasetika Obat Sublingual
Biofarmasetika adalah ilmu yang mempelajari hubungan sifat fisikokimia formulasi obat terhadap bioavailabilitas obat. Bioavailabilitas menyatakan kecepatan dan jumlah obat aktif yang mencapai sirkulasi sistemik. Biofarmasetika bertujuan untuk mengatur pelepasan obat sedemikian rupa ke sirkulasi sistemik agar diperoleh pengobatan yang optimal pada kondisi klinik tertentu.
Faktor-faktor Farmasetik yang mempengaruhi Bioavailabilitas Obat:
1.        Disintegrasi
Proses disintergasi tidak menggambarkan pelarutan sempurna tablet atau obat.  Disintergasi yang sempurna ditakrifkan oleh USP XX sebagai “keadaan dimana berbagai residu tablet, kecuali fragmen-fragmen penyalut yang tidak larut, tinggal dalam saringan penguji sebagai massa yang lunak dan jelas tidak mempunyai inti yang teraba”
2.        Pelarutan (Disolusi)
Merupakan proses di mana suatu bahan kimia atau obat menjadi terlarut dalam suatu pelarut.  Suhu media dan kecepatan pengadukkan juga mempengaruhi laju pelarutan obat.  Kenaikkan suhu akan meningkatkan energi kinetik molekul dan meningkatkan tetapan difusi, D.  sebaliknya kenaikan pengadukan dari media pelarut akan menurunkan tebal “stagnant layer”, h, mengakibatkan pelarutan obat lebih cepat.
3.        Sifat fisikokimia obat
Makin besar luas permuakaan obat makin cepat laju pelarutan. Luas permukaan dapat diperbesar dengan memperkecil ukuran partikel.  Bentuk geometric partikel juga mempengaruhi luas permukaan dan selama perlarutan permukaan berubah secara konstan. Obat dalam keadaan anhydrous, maka laju pelarutan biasanya lebih cepat daripada bentuk garam hidrous.  Obat dalam bentuk amorf menunjukkan laju pelarutan yang lebih cepat daripada obat dalam bentuk kristal.
4.        Faktor formulasi yang mempengaruhi pelarutan obat
Misalnya bahan penyuspensi, bahan pelincir tablet, surfaktan, pembentukan garam dan kompleks, perubahan pH dsb.
Obat adalah semua zat baik dari alam (hewan maupun tumbuhan) atau kimiawi yang dalam takaran (dosis) yang tepat atau layak dapat menyembuhkan, meringankan atau mencegah penyakit atau gejala – gejalanya. Obat dapat diberikan pada pasien secara sublingual yaitu dengan cara meletakkan obat di bawah lidah. Cara sublingual ini, aksi kerja obat lebih cepat yaitu setelah hancur di bawah lidah maka obat segera mengalami absorbsi ke dalam pembuluh darah. Cara ini juga mudah dilakukan dan pasien tidak mengalami kesakitan. Pasien diberitahu untuk tidak menelan obat karena bila ditelan, obat menjadi tidak aktif oleh adanya proses kimiawi dengan cairan lambung. mencegah obat tidak di telan, maka pasien diberitahu untuk membiarkan obat tetap di bawah lidah sampai obat menjadi hancur dan terserap. Obat yang sering diberikan dengan cara ini adalah nitrogliserin yaitu obat vasodilator yang mempunyai efek vasodilatasi pembuluh darah. Obat ini banyak diberikan pada pada pasien yang mengalami nyeri dada akibat angina pectoris. Cara sublingual ini, obat bereaksi dalam satu menit dan pasien dapat merasakan efeknya dalam waktu tiga menit.
Pemberian obat secara sublingual merupakan pemberian obat yang cara pemberiannya ditaruh di bawah lidah. Hanya untuk obat yang bersifat lipofil. Tujuannya adalah agar efek yang ditimbulkan bisa lebih cepat karena pembuluh darah di bawah lidah merupakan pusat dari sakit. Orang tersebut tidak boleh minum atau makan apapun sampai obat itu hilang.
Kelebihan        :
1.      Efek obat akan terasa lebih cepat karena pembuluh darah dibawah lidah merupakan pusat dari sakit
2.      Menghindari kerusakan saluran cerna pada metabolisme di dinding usus serta hati
3.      Tidak diperlukan kemampuan menelan
4.      Kerusakan obat di saluran cerna dan metabolisme di dinding usus dan hati dapat dihindari (tidak lewat vena porta).
Kekurangan     :
1.      Absorbsi tidak adekuat,
2.      Mencegah pasien menelan
3.      Kondisi anatomis bawah lidah yang dapat mengakibatkan resiko cepat hilangnya zat aktif sebagai akibat sekeresi dan mobilisasi saliva.






B.                 ANATOMI DAN FISIOLOGI SUBLINGUAL
lee13a.jpg










Kelenjar ludah terdiri atas tiga pasang sebagai berikut:
1.        Kelenjar sublingual adalah kelenjar saliva yang paling kecil, terletak di bawah lidah bagian depan.
2.        Kelenjar submandibular  terletak di belakang kelenjar sublingual dan lebih dalam.
3.        Kelenjar parotid adalah kelenjar saliva paling besar dan terletak di bagian atas mulut depan telinga.
C.                 Pembuluh Darah yang Terdapat dalam Sublingual
·          Arteri carotid internal
Arteri ini tidak memiliki cabang pada leher
·          Arteri carotid eksternal
Arteri ini bercabang pada leher terhadap sudut mandibular. Ujungnya menyilang posterior belly otot di gastric dan otot stilohioid. Cabang-cabangnya menyilang muka dan kulit kepala. Arteri carotid eksterna memiliki cabang salah satunya adalah arteri lingual:


Arteri lingual
Arteri lingual muncul diatas level tulang hyoid. Berjalan kedalam otot hypoglossus dan menembus dasar lidah. Arteri ini berakhir pada ujung lidah dan memiliki 3 cabang yaitu:
a.       Arteri sublingual
Mensuplai dasar mulut, kelenjar sub lingual otot maylohvoid dan gingiyal lingual
b.      Arteri dorsal lingual
Mensuplai dorsum lidah, tonsil, palatum lunak danepiklottis
c.       Arteri deep lingual
Mensuplai ujung lidah sampai ke permukaan inverior
D.                Komponen dan Karakteristik Sublingual
Contoh Tablet Sublingual dan Bukal
Tablet bukal dan sublingual pemberiannya hanya terbatas pada gliseril trinitrat, nitrogliserin dan hormon - hormon steroid.
1.        Nitrogliserin
Sediaan nitrogliserin sublingual dan bukal dapat mengurangi serangan angina pada penderita iskemia jantung. Pemberian 0,3 – 0,4 mg melepaskan rasa sakit sekitar 75% dalam 3 menit, 15% lainnya lepas dari sakit dalam waktu 5 – 15 menit. Apabila rasa sakit bertahan melebihi 20 – 30 menit setelah penggunaan dua atau tiga tablet nitrogliserin berarti terjadi gejala koroner akut dan pasien diminta untuk mencari bantuan darurat (Sukandar, dkk, 2008).
Efek samping mencakup hipotensi postural yang berhubungan dengan gejala sistem saraf pusat, refleks takikardi, sakit kepala, dan wajah memerah, dan mual pada waktu tertentu (Sukandar, dkk, 2008).








E.                 Berbagai Faktor yang Mempengaruhi Proses Biofarmasetik Obat
pada Pemberian Sublingual
·          Sifat Fisika : daya larut obat dalam air/lemak.
·          Sifat Kimiawi : asam, basa, garam, ester, garam kompleks, pH, pKa.
·          Toksisitas : dosis obat berbanding terbalik dengan toksisitasnya.

F.                  Evaluasi Biofarmasetik Sediaan Sublingual
Dalam membuat tablet sublingual dan bukal ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu :
1.       Sifat dan Kualitas
Ciri – ciri fisik tablet sublingual dan bukal adalah datar atau oval, dan keras. Bentuk tersebut ditentukan oleh punch dan die yang digunakan untuk mengkompresi (menekan) tablet. Untuk menghasilkan tablet yang datar, maka punch-nya jangan terlalu cembung.
Adapun ketebalan tablet dipengaruhi oleh jumlah obat yang dapat diisikan ke dalam cetakan dan tekanan yang diberikan pada saat dilakukan kompresi (Ansel, 1989).
2.       Berat Tablet
Berat tablet ditentukan oleh jumlah bahan yang diisikan ke dalam cetakan yang akan ditekan. Volume bahan (granul) harus disesuaikan dengan beberapa tablet yang telah lebih dulu dicetak supaya tercapai berat tablet yang diharapkan. Penyesuaian diperlukan, karena formula tablet tergantung pada berat tablet yang akan dibuat.
Sebagai contoh, jika tablet harus mengandung 10 mg bahan obat dan bila yang akan diproduksi 10.000 tablet, maka diperlukan 100 gr dari obat tersebut dalam formula. Setelah penambahan bahan tambahan, formulanya mungkin meningkat menjadi 1000 gr. Ini berarti tiap tablet beratnya menjadi 100 mg dengan bahan obat yang terkandung 10 mg. Jadi, obat yang diisi ke dalam cetakan harus disesuaikan supaya dapat menampung volume granul yang beratnya 100 mg (Ansel, 1989). Kekerasan Tablet
3.       Tablet bukal sengaja dibuat keras.
Hal ini dimaksudkan agar obat yang disisipkan di pipi larut perlahan – lahan. Dalam proses kompresi, besarnya tekanan yang biasa digunakan adalah lebih kecil dari 3000 dan lebih besar dari 40.000 pound. Jadi, untuk membuat tablet bukal yang keras tekanan yang dibutuhkan juga besar. Pada saat ini banyak alat yang bisa digunakan sebagai tester pengukur kekerasan tablet, diantaranya Pfizer tablet hardness tester, HT500 Hardness Tester, dan Friabilator.
4.       Daya Hancur Tablet
Semua tablet dalam USP harus melalui pengujian daya hancur secara resmi yang dilaksanakan in vitro dengan alat uji khusus. Alat ini terdiri dari rak keranjang yang dipasang berisi 6 pipa gelas yang ujungnya terbuka, diikat secara vertikal di atas latarbelakang dari kawat stainless yang berupa ayakan dengan ukuran mesh nomor 10. Selama waktu pengujian, tablet diletakkan pada pipa terbuka dalam keranjang tadi, dengan memakai mesin, keranjang diturun-naikkan dalam cairan pencelup dengan frekuensi 29 – 32 kali turun – naik per menit. Layar kawat dipertahankan selalu berada di bawah permukaan cairan. Untuk tablet bukal dan sublingual, meggunakan air (cairan pencelup) yang dijaga pada temperatur 37oC, kecuali bila ditentukan ada cairan lain dalam masing – masing monogramnya. Tablet bukal harus melebur dalam waktu 4 jam dan tablet sublingual biasanya 30 menit (Ansel, 1989). 
Pengemasan dan Penyimpanan 
Pada umumnya tablet sangat baik disimpan dalam wadah yang tertutup rapat di tempat dengan kelembaban nisbi yang rendah, serta terlindung dari temperatur tinggi. Tablet khusus yang cenderung hancur bila kena lembab dapat disertai pengering dalam kemasannya. Tablet yang dirusak oleh cahaya disimpan dalam wadah yang dapat menahan masuknya cahaya (Ansel, 1989).
Tablet sublingual yang mengandung nitrogliserin (Tablet Nitrogliserin) memiliki peraturan tersendiri dalam pengemasannya, yaitu :
a.         Semua tablet nitrogliserin harus dikemas dalam wadah gelas dengan tutup logam yang sesuai dan dapat diputar.
b.        Tiap wadah tidak boleh berisi lebih dari 100 tablet.
c.         Tablet nitrogliserin harus disalurkan dalam wadah aslinya dan pada labelnya ada tanda peringatan “untuk mencegah hilangnya potensi, jagalah tablet ini dalam wadah aslinya dan segera tutup kembali wadahnya setelah pemakaian”.
d.        Semua tablet nitrogliserin harus disimpan dalam ruangan dengan temperatur yang diatur antara 59o - 86 oF (Ansel, 1989).
Pelaksanaan peraturan ini membantu memelihara keseragaman standar kandungan tablet nitrogliserin supaya lebih baik dari sebelumnya. Bagaimanapun juga, nitrogliserin merupakan cairan yang mudah menguap dari wadahnya bila terbuka dan khususnya apabila wadah tadi tidak tertutup rapat (Ansel, 1989). 













DAFTAR PUSTAKA
Shargel, Leon. 1988. Biofarmasetika dan Farmakokinetika Terapan- Leon Stargel dan Andrew B. C. Yu: penerjemah: Dr. Fasich., Apt, Dra. Siti Sjamsiah., Apt.  Surabaya:Airlangga University Press.
Ansel, H. C. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, edisi ke-4. Jakarta: UI press.
Lachman, L., Lieberman H. A., Kanig, J. L., 1994., Teori dan Praktek Farmasi Industri, diterjemahkan oleh Siti Suyatmi, edisi III, Jakarta: Universitas Indonesia.
Sukandar, E. Y., dkk. 2008. Iso Farmakoterapi. Jakarta: PT. ISFI






No comments:

Post a Comment