Tuesday, December 15, 2015

HASIL REVIEW JURNAL BIOTEKNOLOGI PEMBUATAN TEPUNG MOCAF DENGAN CARA FERMENTASI

BAB I
PENDAHULUAN

A.                LATAR BELAKANG
Bioteknologi merupakan suatu penggunaan biokimia, mikrobiologi, serta rekayasa genetika secara terpadu yang berfungsi untuk menghasilkan barang atau lainnya bagi kepentinganmanusia Bull (1982) melalui OECD (Organisation for Economic Cooperation and  Development). Bioteknologi konvensional adalah bioteknologi yang mengambil manfaatnya dari mikroorganisme untuk menghasilkan produk barang dan jasa sesuai dengan kebutuhan sehari-hari manusia melalui proses fermentasi. Penggunaan mikroba masih secara tradisional dalam produksi makanan dan tanaman serta pengawetan makanan. Contohnya seperti pembuatan tempe, tape, cuka, dan Iain-Iain. Bioteknologi modern berfungsi mengoptimalkan pemanfaatan biologi sel dan biologimolekuler untuk membuat suatu produk yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Bioteknologimodern menggunakan pemanfaatan bentuk rekayasa genetika untuk mengubah suatu sifatorganisme sehingga memiliki kemampuan yang diinginkan. Contohnya seperti produksi insulin,interferon, antibodi monoklonal.
Upaya mewujudkan ketahanan pangan nasional dan mengurangi ketergantungan impor pangan terutama terigu yang cenderung mengancam kedaulatan pangan nasional adalah perlu dikembangkan diversifikasi pangan dengan mengutamakan lokalita daerah seperti ubi kayu dan aneka ubi lainnya. Tepung ubi kayu yang telah dimodifikasi dan dikembangkan di Indonesia adalah tepung cassava fermentasi (MOCAF). Tepung tersebut dapat dijadikan sebagai bahan baku untuk pembuatan roti, mie dan produk–produk makanan lainnya yang membutuhkan bahan baku tepung.
Tepung MOCAF mempunyai prospek yang baik untuk mensubsitusi terigu, mengingat impor terigu 4,5 juta ton pada tahun 2010, bila substitusi tepung cassava sebesar 10% saja terhadap terigu, maka dibutuhkan 450 ribu ton tepung cassava. Hal ini setara dengan kebutuhan 1,8 juta ton ubikayu segar dan setara pula dengan kebutuhan 100 ribu hektar lahan ubi kayu siap panen (Ditjen PPHP, Kementrian Pertanian RI ).
Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia (Aptindo) memperkirakan, konsumsi terigu nasional pada tahun ini naik 10,5% menjadi 4,75 juta ton dibandingkan tahun lalu 4,3 juta ton. Tren peningkatan konsumsi terigu antara lain terdorong pemberlakuan kebijakan bea impor terigu sebesar 5% yang menyebabkan banyak importir terigu beralih menjadi produsen. Hal itu terjadi karena harga terigu impor menjadi lebih mahal setelah pengenaan bea masuk dibandingkan memproduksi dari dalam negeri. Solusi yang memungkinkan adalah dengan mensubstitusi tepung terigu dengan tepung mocaf.
Keberadaan tepung MOCAF sebagai alternatif dari tepung terigu, akan bermanfaat bagi industri pengolahan makanan nasional. Jenis dan karakteristik yang hampir sama dengan terigu, namun dengan harga yang jauh lebih murah membuat tepung MOCAF menjadi pilihan yang sangat menarik. Berbagai jenis produk olahan tepung terigu yang bisa digantikan oleh tepung MOCAF, juga membuat transisi pengguna kepada tepung MOCAF tidak sulit untuk dilakukan.
B.                 TUJUAN PENELITIAN
Untuk mengetahui cara pembuatan mocaf dengan proses fermentasi menggunakan mikrobakteri.
C.                 MANFAAT PENELITIAN
1.      Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai salah satu modifikasi pembuatan tepung MOCAF dengan penambahan bakteri asam laktat selama proses fermentasi. Penambahan bakteri asam laktat diharapkan dapat mempersingkat waktu fermentasi.
2.      Penelitian ini juga diharapkan dapat mengawali peningkatan tambahan produksi total tepung sekitar 20% dari kebutuhan impor nasional selama lima tahun kedepan.






BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.                DASAR TEORI
Singkong (Manihot Esculenta) merupakan komoditas tanaman pangan yang penting sebagai penghasil sumber bahan pangan karbohidrat dan bahan baku makanan, kimia dan pakan ternak. Indonesia memiliki potensi umbi-umbian sebagai sumber karbohidrat sekaligus bahan baku tepung lokal yang tidak kalah dengan terigu, yaitu ganyong, gembili, ubi jalar, garut, singkong (singkong) dan lain sebagainya. Rendahnya harga singkong dipengaruhi oleh sifat singkong segar yang mudah rusak bila tidak segera dilakukan penanganan pasca panen karena kadar air singkong segar yang tinggi, adanya asam sianida (HCN) yang menyebabkan racun.
Jenis singkong yaitu singkong pahit dan tidak pahit. Singkong pahit mengandung hidrosianida (HCN) yang lebih dari 100 ppm. Namun jenis ini mengandung karbohidrat yang lebih tinggi, sehingga baik dijadikan sebagai tapioka. Supaya aman dimakan, singkong pahit harus diproses terlebih dahulu sebelum dibuat tepung dengan cara direndam berulang-ulang agar kadar HCN nya berkurang. Sementara itu, singkong yang tidak pahit mengandung HCN kurang dari 50 ppm sehingga aman untuk dikonsumsi dan dijadikan aneka makanan (Murtiningsih dan Suryanti, 2011).
Singkong sering dianggap bahan baku yang bermutu rendah karena rendahnya protein, mineral dan vitamin. Namun varietas tertentu dari singkong mengandung banyak cyanogenic glikosida (linamarin dan lotaustralin) yang dapat dihidrolisis menjasi asam sianida (HCN) oleh enzim endogen (linamarase) ketika jaringan tanaman rusak selama pemanenan, pengolahan atau proses mekanis lainnya. Singkong juga mengandung asam tannic, zat ini yang dapat menimbulkan warna kusam pada produk olahan singkong sehingga mempunyai nilai pasar yang rendah. (Hahn, 1992)
Singkong di beberapa daerah penggunaannya digunakan sebagai makanan membantu untuk meringankan masalah kelaparan sehingga sangat penting dalam hal keamanan pangan. Proses untuk meningkatkan nilai protein dan mengurangi kadar HCN. Penelitian sebelumnya menggunakan prose fermentasi dimana Rhizopus oryzae dan Saccharomyces cereviseae digunakan untuk meningkatkan kadar protein dan menurunkan kadar HCN dari produk singkong.
Tepung mocaf merupakan komoditas tepung cassava dengan teknin fermentasi sehingga produk yang dihasilkan memiliki karakteristik mirip seperti terigu, yaitu putih, lembut, dan tidak berbau singkong. Karakterisrik yang mirip dengan terigu, tepung mocaf dapat menjadi komoditas subtitusi tepung terigu. Indonesia memiliki tingkat permintaan yang tinggi terhadap tepung terigu, baik oleh industri atau rumah tangga. Sedangkan kapasitas produksi tepung terigu di Indonesia masih rendah, tingginya permintaan tepung terigu menyebabkan harga tepung terigu menyebabkan harga tepung terigu yang tinggi. Produksi gandum nasional belum mampu memenuhi total permintaan dalam negeri sehingga dari tahun ke tahun terjadi peningkatan impor gandum. (Hadi, 2010).
Bakteri asam laktat (BAL) adalah kelompok bakteri gram positif berbentuk kokus atau batang, tidak membentuk spora, suhu optimum ± 400C, pada umumnya tidak motil, bersifat anaerob, katalase negatif dan oksidase positif, dengan asam laktat sebagai produk utama fermentasi karbohidrat. Sifat-sifat khusus bakteri asam laktat adalah mampu tumbuh pada kadar gula, alkohol, dan garam yang tinggi, mampu memfermentasikan monosakarida dan disakarida (Syahrurahman, 1994).
Sebagian besar BAL dapat tumbuh sama baiknya di lingkungan yang memiliki dan tidak memiliki O2 (tidak sensitif terhadap O2), sehingga termasuk anaerob aerotoleran. Bakteri yang tergolong dalam BAL memiliki beberapa karakteristik tertentu yang meliputi: tidak memiliki porfirin dan sitokrom, katalase negatif, tidak melakukan fosforilasi transpor elektron, dan hanya mendapatkan energi dari fosforilasi substrat. Hampir semua BAL hanya memperoleh energi dari metabolisme gula sehingga habitat pertumbuhannya hanya terbatas pada lingkungan yang menyediakan cukup gula atau bisa disebut dengan lingkungan yang kaya nutrisi. Kemampuan mereka untuk mengasilkan senyawa (biosintesis) juga terbatas dan kebutuhan nutrisi kompleks BAL meliputi asam amino, vitamin, purin, dan pirimidin.


Bakteri asam laktat dapat dibedakan atas 2 kelompok berdasarkan hasil fermentasinya, yaitu:
1.      Bakteri homofermentatif : glukosa difermentasi menghasilkan asam laktat sebagai satu-satunya produk. Contoh :Streptococus, Pediococcus, dan beberapa Lactobacillus.
2.      Bakteri heterofermentatif : glukosa difermentasikan selain menghasilkan asam laktat juga memproduksi senyawa-senyawa lainnya yaitu etanol, asam asetat dan CO2. Contoh :Leuconostoc, dan beberapa spesies Lactobacillus.

Berikut merupakan beberapa jenis bakteri asam laktat, antara lain sebagai berikut:
1.      Streptococcus thermophilus, Streptococcus lactis dan Streptococcus cremoris. Semuanya ini adalah bakteri gram positif, berbentuk bulat (coccus) yang terdapat sebagai rantai dan semuanya mempunyai nilai ekonomis penting dalam industri susu.
2.      Pediococcus cerevisae.
Bakteri ini adalah gram positif berbentuk bulat, khususnya terdapat berpasangan atau berempat (tetrads). Walaupun jenis ini tercatat sebagai perusak bir dan anggur, bakteri ini berperan penting dalam fermentasi daging dan sayuran.
3.      Leuconostoc mesenteroides dan Leuconostoc dextranicum.
Bakteri ini adalah gram positif berbentuk bulat yang terdapat secara berpasangan atau rantai pendek. Bakteri-bakteri ini berperanan dalam perusakan larutan gula dengan produksi pertumbuhan dekstran berlendir. Walaupun demikian, bakteri-bakteri ini merupakan jenis yang penting dalam 18 permulaan fermentasi sayuran dan juga ditemukan dalam sari buah, anggur, dan bahanpangan lainnya.
4.      Lactobacillus lactis, Lactobacillus acidophilus, Lactobacillus bulgaricus, Lactobacillus plantarum, Lactobacillus delbrueckii.
Organisme-organisme ini adalah bakteri berbentuk batang, gram positif dan sering berbentuk pasangan dan rantai dari sel-selnya. Jenis ini umumnya lebih tahan terhadap keadaan asam dari pada jenis-jenis Pediococcus atau Streptococcus dan oleh karenanya menjadi lebih banyak terdapat pada sayuran. Pada hewan ternak lain seperti sapi bali dapat ditemukan bakteri asam laktat seperti Lactobacillus lactis dan Lactobacillus brevis (Suardana, 2007); (Sumanti 2008).
B.                 FERMENTASI ASAM LAKTAT
Fermentasi adalah suatu aktifivitas mikroorganisme terhadap senyawa molekul organik komplek seperti protein, karbohidrat, dan lemak yang mengubah senyawa-senyawa tersebut menjadi molekul-molekul yang lebih sederhana, mudah larut dan kecernaan tinggi. Fermentasi dapat terjadi karena adanya aktivitas mikroba penyebab fermentasi pada substrat organik yang sesuai.
Asam laktat merupakan bahan kimia serbaguna yang digunakan sebagai:
1.      Asidulan, aroma dan pengawet dalam industri makanan, obat-obatan, dan tekstil.
2.      Produksi bahan kimia dasar
3.      Polimerisasi bahan yang mudah dirombak yaitu poly lactid acid (PLA) (Hidayat, 2006).
Pengujian tipe fermentasi dilakukan dengan uji produksi gas. Bakteri asam laktat terdapat dua tipe fermentasi, yaitu homofermentasi dan heterofermentasi. Bakteri asam laktat homofermentasi hanya menghasilkan asam laktat sebagai produk utama fermentasinya; sedangkan bakteri asam laktat heterofermentasi selain asam laktat juga menghasilkan etanol, asam lain seperti asam asetat serta gas CO2. Sehingga apabila bakteri asam laktat yang diuji menghasilkan gas yang tertampung dalam tabung Durham, bakteri asam laktat tersebut dinyatakan sebagai heterofermentasi; sedangkan isolat yang tidak menghasilkan atau memproduksi gas disebut homofermentasi (Suryani, 2010).
C.                 FAKTOR- FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERTUMBUHAN BAKTERI ASAM LAKTAT
1.      Lama Fermentasi
Mikroorganisme diinokulasi pada media, pertumbuhan yang terlihat mula-mula adalah suatu pembesaran ukuran, volume dan berat sel. Ketika ukurannya telah mencapai kira-kira dua kali dari besar sel normal, sel tersebut membelah dan menghasilkan dua sel. Sel-sel tersebut kemudian tumbuh dan membelah diri menghasilkan empat sel. Selama kondisi memungkinkan, pertumbuhan dan pembelahan sel berlangsung terus sampai sejumlah besar populasi sel terbentuk.Waktu antara masing-masing pembelahan sel berbeda-beda tergantung dari spesies dan kondisi lingkungannya, tetapi untuk kebanyakan bakteri waktu ini berkisar antara 10 – 60 menit. Tipe pertumbuhan yang cepat ini disebut pertumbuhan logaritmis atau eksponensial karena bila log jumlah sel digambarkan terhadap waktu dalam grafik akan menunjukkan garis lurus.
2.      pH (keasaman)
Makanan yang mengandung asam biasanya tahan lama, tetapi jika oksigen cukup jumlahnya dan bakteri dapat tumbuh serta fermentasi berlangsung terus, maka daya awet dari asam tersebut akan hilang. Pada keadaan ini mikroba proteolitik dan lipolitik dapat berkembang biak.
3.      Suhu
Tiap-tiap mikroorganisme memiliki suhu pertumbuhan maksimal, minimal dan optimal yaitu suhu yang memberikan pertumbuhan terbaik dan perbanyakan diri tercepat. Mikroorganisme dapat diklasifikasikan menjadi tiga kelompok berdasarkan suhu pertumbuhan yang diperlukannya yaitu golongan psikrofil, tumbuh pada suhu dingin dengan suhu optimal 10 – 20˚C, golongan mesofil tumbuh pada suhu sedang dengan suhu optimal 20 – 45˚C dan golongan termofil tumbuh pada suhutinggi dengan suhu optimal 50 – 60˚C. Bakteri bervariasi dalam hal suhu optimum untuk pertumbuhan dan pembentukan asam. Kebanyakan bakteri dalam kultur laktat mempunyai suhu optimum 30˚C, tetapi beberapa kultur dapat membentuk asam dengan kecepatan yang sama pada suhu 37˚C maupun 30˚C.
4.      Oksigen
Tersedianya oksigen dapat mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme. Bakteri diklasifikasikan menjadi empat kelompok yaitu aerob obligat(tumbuh jika persediaan oksigen banyak), aerob fakultatif (tumbuh jika oksigen cukup, juga dapat tumbuh secara anaerob), anaerob obligat (tumbuh jika tidak ada oksigen) dan anaerob fakultatif (tumbuh jika tidak ada oksigen juga dapat tumbuh secara aerob) (Supardi, 1999).
D.                PRINSIP KERJA
Prinsip dasar pembuatan tepung MOCAF adalah dengan prinsip memodifikasi sel ubi kayu secara fermentasi. Mikroba yang tumbuh akan menghasilkan enzim pektinolitik dan sellulolitik yang dapat menghancurkan dinding sel ubi kayu sedemikian rupa sehingga terjadi liberasi granula pati. Proses liberalisasi ini akan menyebabkan perubahan karakteristik dari tepung yang dihasilkan berupa naiknya viskositas, kemampuan gelasi, daya rehidrasi, dan kemudahan melarut. Selanjutnya, granula pati tersebut akan mengalami hidrolisis yang menghasilkan monosakarida sebagai bahan baku untuk menghasilkan asam-asam organik. Senyawa asam ini akan terimbibisi dalam bahan, dan ketika bahan tersebut diolah akan dapat menghasilkan aroma dan cita rasa khas yang dapat menutupi aroma dan citarasa ubi kayu yang cenderung tidak menyenangkan.















BAB III
METODOLOGI

A.                ALAT
Alat yang digunakan adalah mixer, pisau, gelas ukur, oven, alat pemotong ubi, penggiling ubi, labu Kjeidahl, ekstraktor, pengayak, erlenmeyer, lampu spirtus, kaki tiga, kasa asbes, desikator, kertas saring, cawan, alumunium foil, dan Inductively Coupled Plasma Optical Emission Spectrometry (ICP-OES).
B.                 BAHAN
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah ubi kayu segar, bakteri asam laktat, garam dapur merk Supra-Salt dengan kandungan NaCl 99.25 %, KOH, NaOH 2.5%, NH4OH, KI 5%, AgNO3  , HCL 1N dan aquadest.

C.                 PROSEDUR KERJA
1.      Persiapan bahan
Persiapan bahan baku dimulai dari ubi kayu segar dibersihkan dari tanah dan kotoran dengan cara dicuci dalam keadaan belum terkupas. Setelah ubi kayu bersih dari kotoran/tanah liat, dilakukan pengupasan ubi kayu dari kulitnya dengan menggunakan pisau biasa, setelah itu langsung direndam dalam air untuk menjaga warna ubi kayu tidak kecoklatan. Semua ubi kayu yang telah dikupas dan dicuci bersih, disawut dengan cara memotongnya setebal 1–2 mm menggunakan alat pemotong ubi.
2.      Tahap fermentasi
Singkong yang telah disawut dicampur dengan aquadest dan jamur kemudian melakukan proses fermentasi sesuai dengan variabel yang telah ditentukan. Pembuatan tepung mocaf terdiri dari beberapa tahap yaitu menyaring hasil fermentasi untuk memisahkan singkong dengan air dan jamur, mengeringkan singkong hingga kadar airnya 12 – 14%, menggiling singkong sampai halus, dan melakukan analisa kandungan pada tepung mocaf.


3.      Tahap Pengeringan
Setelah perendaman selesai sesuai dengan variabel, sawut ditiriskan dahulu untuk mengurangi kadar air sebelum dikeringkan. Sawut kemudian dikeringkan di dalam oven dengan suhu 40oC selama 1-2 hari sampai kering.
4.      Tahap Penepungan
Sawut kering yang dihasilkan kemudian dihaluskan hingga membentuk tepung menggunakan blender. Setelah terbentuk tepung, agar diperoleh ukuran butiran tepung yang seragam, maka dilakukan pengayakan.
D.                PARAMETER YANG DIUJI


Parameter yang dianalisis yaitu kadar lemak, kadar protein, kadar abu, kadar serat kasar, kadar air, kadar karbohidrat, kadar pati, kadar HCN, dan pengujian mineral.
1.      Analisa kadar lemak ( AOAC 2003)
Kadar lemak pada tepung mocaf ditentukan dengan AOAC (2003). Tepung mocaf sebanyak 50 gram dibungkus dengan kertas saring diletakkan di dalam ekstraktor dan diektrak dengan solvent n-hexane teknis pada suhu 75oC selama 4 jam agar lipida dalam mangrove sudah benar-benar terekstrak semua sehingga prosesnya dapat dihentikan. Selanjutnya, hasil yang diperoleh berupa campuran lipid dan n-hexane didistilasi untuk memisahkan keduanya. Ekstrak berupa lipida dimasukkan botol yang sebelumnya telah ditimbang. Panaskan lagi pada suhu 80oC untuk mendapatkan hasil yang murni. Kemudian ditimbang hasilnya.
2.      Analisa Kadar Protein ( AOAC 2003)
Kandungan protein ditentukan dengan analisa kandungan nitrogen. Jumlah total protein ditentukan dengan mengalikan jumlah nitrogen dengan faktor koreksi sebesar 6,25.Uji kandungan protein dilakukan dengan cara menguji kadar Nitrogen dalam sampel (tepung mocaf). Hasilnya dikonversi dengan mengalikan kadar nitrogen yang didapat dengan 6,25. Hasil konversi yang didapat itu merupakan kandungan protein dalam sampel. Uji kadar nitrogen, sampel sebanyak 6 gram dimasukkan dalam labu Kjeidahl. Tambahkan air sebanyak 150 mL kedalamnya. 100 mL HCl 1 N dan beberapa tetes indikator mix dimasukkan ke dalam erlenmeyer yang kemudian dihubungkan dengan labu Kjeidahl. Panaskan pada suhu 100oC. Setelah mendidih, tambahkan 23 mL larutan NaOH 30% ke dalam labu Kjeidahl. Pemanasan dihentikan apabila tidak ada yang menetes lagi pada erlenmeyer (tak ada aliran ke erlenmeyer). Hasil larutan yang di erlenmeyer dititrasi dengan HCl hingga warnanya berubah menjadi kehijauan.
3.      Analisa Kadar Abu (AOAC 2003)
Kandungan ash (abu) dalam tepung mocaf ditentukan dengan AOAC (2003). Penentuan ash, cawan kosong dan bersih dipanaskan pada suhu 600 (3) 0C selama 1 jam dalam muffle furnace. Kemudian didinginkan dalam desikator dan ditimbang. Berat cawan kosong dicatat sebagai W1. 1 gram sampel (tepung mocaf) ditaruh dalam cawan (W2). Kemudian cawan tersebut diletakkan dalam muffle furnace pada suhu 400 0C selama 6 jam. Kemudian cawan didinginkan dalam desikator dan ditimbang (W3)
4.      Analisa Kadar Serat (AOAC 2003)
Kadar serat ditentukan dengan AOAC (2003). Sampel 0,5 gram (W1) ditambahkan 150 ml H2SO4 dan beberapa tetes acetone sebagai anti foaming. Campuran kemudian dipanaskan 100 oC hingga mulai mendidih. Kemudian suhu dikurangi menjadi 45 oC selama 30 menit. Endapan disaring dengan kertas saring dan dicuci dengan aquadest hingga bebas asam. Kemudian dengan prosedur yang sama diulangi dengan menggunakan KOH. Kertas saring beserta endapannya dipanaskan dalam oven pada suhu 150 oC selama 1 jam, kemudian diletakkan dalam desikator dan ditimbang (W2). Endapan dan kertas saring diletakkan cawan penguap dan dipanaskan dalam furnace selama 3-4 jam, kemudian di letakkan dalam desikator dan ditimbang (W3).




5.      Analisa Kadar Air (AOAC 2003)
Kadar air ditentukan dengan mengeringkan sampel tepung mocaf W5 ke dalam oven pada suhu 800 C kemudian didinginkan di dalam desikator dan ditimbang. Pengeringan dilakukan berulang ulang hingga beratnya konstan (W2) .
6.      Analisa Kadar Karbohidrat
Analisa kadar karbohidrat menggunakan perhitungan : % karbohidrat =100% - (% protein+ % lemak + % abu + % air.
7.      Analisa Kadar Pati
Timbang 2-5 gram contoh yang berupa bahan padat yang telah dihaluskan, tambahkan 50 ml aquadest dan aduk selama 1 jam. Suspensi disaring dengan kertas saring dan dicuci dengan aquadest sampai volume filtrat 250 ml. Pati yang terdapat sebagai residu pada kertas saring dicuci 5 kali dengan 10 ml eter biarkan eter menguap dari residu, kemudian cuci lagi dengan 150 ml alkohol 10%. Residu dipindahkan secara kuantitatif dari kertas saring kedalam erlenmeyer dengan pencucian 200 ml aquadest dan tambahkan 20 ml HCl ± 25% ( berat jenis 1,125), tutup erlenmeyer dan panaskan dengan water bath selama 2,5 jam. Setelah dingin netralkan dengan NaOH 45% dan encerkan sampai volume 450 ml kemudian saring. Tentukan kadar gula yang dinyatakan sebagai glukosa dari filtrat yang diperoleh. Penentuan glukosa seperti pada penentuan gula reduksi. Berat glukosa dikalikan 0,9 merupakan berat pati.
8.      Analisa Kadar HCN
Timbang sampel sebanyak 15 gr lalu tambahkan dengan 100 mL aquades dan diletakkan pada labu Kjeldahl, kemudian dilakukan perendamAn selama 2 jam. Setelah itu, ditambahkan lagi 100 mL aquades, kemudian didistilasi dengan uap (steam). Tampung distilat dalam erlenmeyer berisi 20 mL NaOH 2.5%. Setelah distilat mencapai 150 mL, tambahkan 8 mL NH4OH, 5 mL KI 5% dan dititrasi dengan 0.02 N AgNO3 sampai terjadi kekeruhan (letakkan kertas karbon hitam dibawah labu titrasi).
9.      Pengujian Mineral
Pengujian mineral dapat dilakukan dengan menggunakan alat Inductively Coupled Plasma Optical Emission Spectrometry (ICP-OES). Sampel (bubuk mangrove) didekstruksi terlebih dahulu. Sampel sebanyak 2 gram dicampur dengan asam nitrat 10 ml kemudian dipanaskan pada suhu 60 0C selama 20 menit. Setelah itu larutan ditambahkan dengan HCl sebanyak 5 ml dan dipanaskan pada suhu 60 0C selama 20 menit. Kemudan ditambahkan aquadest sebanyak 100 ml dan dipanaskan pada suhu 60 0C sampai larutan berkurang setengah dari volume awal. Setelah itu disaring menggunakan kertas saring. Kertas saring dibilas berulang kali dengan aquadest sampai mineral larut sempurna. Larutan yang didapat diencerkan sampai 100 ml, kemudian diencerkan kembali hingga 50 kali pengenceran. Sampel 5-10 ml dianalisa dengan ICP-OES.













BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A.                ANALISA KADAR ABU
Kadar abu singkong lebih tinggi dari pada kadar abu tepung mocaf hal ini dapat dilihat dari warna tepung yang dihasilkan, dimana tepung singkong tanpa melalui fermentasi warnanya agak kuning sedangkan tepung mocaf mempunyai warna yang lebih putih . Hal ini disebabkan karena kemampuan dari mikroorganisme dalam perubahan warna produk fermentasi. Kadar Abu Tetapi tidak ada perubahan yang signifikan (konstan) pada tepung mocaf dengan Lactobacilus plantarum, Saccharomyces cerevisae dan Rhizopus oryzae karena kadar abu tidak dipengaruhi oleh lamanya waktu fermentasi.
B.                 ANALISA KADAR SERAT
Kadar serat singkong lebih tinggi dari pada kadar serat tepung mocaf, hal ini dapat dilihat karakteristik kelembutan tepung yang dihasilkan, dimana tepung singkong tanpa melalui fermentasi, tepung yang dihasilkan agak kasar sedangkan tepung mocaf lebih lembut. Hal ini disebabkan karena kemampuan dari mikroorganisme dalam perubahan tekstur produk fermentasi Mikroorganisme mampu menghidrolisa serat yang berupa polisakarida (selulosa) menjadi monosakarida (glukosa).
Kadar serat terendah diperoleh pada tepung mocaf hasil fermentasi menggunakan Lactobacillus plantarum, Saccharomyces cerevisae dan Rhizopus oryzae selama 3 hari, yaitu 3,126%, 2,793 % dan 2,459.
C.                 ANALISA KADAR LEMAK
Kenaikan kadar lemak dari tepung mocaf selama proses fermentasi, namun tidak terlalu signifikan. Kadar lemak tertinggi pada tepung mocaf hasil fermentasi selama 3 hari menggunakan Saccharomyces cereviseae, yaitu sebesar 3,635 % dan Rhizopus oryzae sebesar 3,756 % sedangkan pada fermentasi menggunakan Lactobacillus plantarum kadar lemak tertinggi pada fermentasi selama 4 hari, yaitu sebesar 2,876 %.
Kenaikan kadar lemak ini disebabkan karena mikroorganisme dapat memproduksi minyak mikroba selama proses fermentasi. Mikroorganisme, seperti setiap sistem sel hidup lainnya, menghasilkan lipid atau lemak. Inilah yang disebut dengan spesies berminyak, dan minyak yang kemudian tidak hanya berguna untuk mikroorganisme dalam hal penggunaaan kembali dalam setiap periode berikutnya karena kelaparan, tetapi juga dapat dianggap sebagai sumber komoditas dari minyak. Minyak yang yang dihasilkan disebut sebagai single cell oil (SCO), yang merupakan eufemisme mirip dengan single cell protein yang biasa digunakan untuk menunjukkan protein yang berasal dari mikroorganisme sel tunggal.
D.                ANALISA KADAR PROTEIN
Kadar protein singkong lebih rendah dari pada kadar protein tepung mocaf. Kadar protein tertinggi diperoleh pada tepung mocaf hasil fermentasi menggunakan Saccharomyces cerevisae dan Rhizopus oryzae selama 3 hari, yaitu 2,290 % dan 4,722 %, sedangkan pada fermentasi menggunakan Lactobacillus plantarum kadar protein teringgi diperoleh pada waktu 5 hari, yaitu 8,577 %. Kadar Protein Kenaikan protein ini disebabkan karena kemampuan dari Saccharomyces cerevisae maupun Rhizopus oryzae untuk mensekresikan beberapa enzim ektraseluler (protein) kedalam singkong selama proses fermentasi, atau berkembangnya Saccharomyces cerevisae maupun Rhizopus oryzae kedalam singkong dalam bentuk protein sel tunggal selama proses fermentasi. Selama fermentasi bakteri asam laktat Lactobacillus plantarum menghasilkan enzim proteinase. Proteinase akan menghidrolisis protein menjadi peptida yang sederhana. Adanya kenaikan kadar protein diperoleh dari aktivitas enzim protease yang dihasilkan oleh mikrobia yang ada dalam proses fermentasi.
E.                 ANALISA KADAR PATI
Penurunan kadar pati pada tepung mocaf selama proses fermentasi berlangsung. Kadar pati terendah pada tepung mocaf hasil fermentasi selama 3 hari menggunakan Saccharomyces cereviseae, yaitu sebesar 71 % dan Rhizopus oryzae sebesar 48,2% sedangkan pada fermentasi menggunakan Lactobacillusplantarum kadar pati terendah pada fermentasi selama 5 hari, yaitu sebesar 55,4 %.
Penurunan kadar pati selama proses fermentasi baik menggunakan Lactobacillus plantarum, Saccharomyces cereviseae dan Rhizopus oryzae karena bahan organik (pati) digunakan untuk memenuhi kebutuhan energi untuk pertumbuhan mikroorganisme. Ginanjar (1977), bahwa bahan organik yang diuraikan oleh mikroorganisme disebabkan oleh bekerjanya enzim amilase dan lipase yang bekerja dalam pemecahan amilum dan lemak dari substrat sehingga kandungan bahan organik selama fermentasi mengalami penurunan. Buckle, dkk (1987) bahwa selama proses fermentasi pati dihidrolisis menjadi gula sederhana sehingga kadar gula reduksi menjadi meningkat. Fermentasi menyebabkan karbohidrat lebih mudah dihidrolisis sehingga gula reduksi akan meningkat akibatnya daya cerna juga meningkat.
F.                   ANALISA KADAR HCN
Penurunan kadar HCN pada tepung mocaf selama proses fermentasi berlangsung. Kadar HCN terendah pada tepung mocaf hasil fermentasi menggunakan Lactobacillus plantarum diperoleh pada fermentasi 5 hari, yaitu sebesar 1,800 mg/kg. Sedangkan pada Saccharomyces cerevisae dan Rhizopus diperoleh pada fermentasi 3 hari, yaitu sebesar 2,850 mg/kg dan 2,775 mg/kg. Penurunan kadar HCN ini disebabkan karena mikroorgamisme mampu memecah sianogenik glikosida dan produk turunannya. Selain itu produk olahan singkong yang melibatkan proses perendaman dan pencucian dengan air panas, proses fermentasi dan proses pengeringan dapat menurunkan kadar HCN pada singkong. Proses perendaman dan pencucian dengan air panas dapat menghilangkan HCN, sebab HCN mudah larut dalam air dan mempunyai titik didih 29ºC. Kadar HCN Hasil uji statistik menunjukan bahwa metode ini secara nyata dapat menurunkan kadar HCN dan semakin lama proses perendaman maka makin tinggi persentase penurunan kadar HCN. Disamping itu juga cara perendaman dapat melarutkan senyawa linamarin dan lotaustralin, serta memacu pertumbuhan mikroorganisme yang dapat menguraikan racun menjadi asam organik. Metode fermentasi singkong bertujuan inaktivasi enzim linamarase sehingga tidak bisa mengkatalisis pembentukan HCN.


G.                KANDUNGAN MINERAL
Tabel 1. Kandungan Mineral Tepung Mocaf
Menggunakan Saccharomyces sereviseae
Saccharomyces cerevisae
Lama Fermentasi (hari)
Ca (ppm)
Fe (ppm)
Mg (ppm)
Zn (ppm)
0
38,550
2,9500
ND
ND
3
37,965
1,0300
ND
ND
5
37,595
ND
ND
ND





            Tabel 2. Kandungan Mineral Tepung Mocaf
            Menggunakan Rhizopus oryzae
Rhizopus oryzae
Lama Fermentasi (hari)
Ca (ppm)
Fe (ppm)
Mg (ppm)
Zn (ppm)
0
38,5500
2,9500
ND
ND
3
37,3000
46,530
ND
ND
5
38,4950
46,120
ND
ND

            Table 3. kandungan Mineral Tepung Mocaf
            Menggunakan Lactobacillus plantarum
Lama Fermentasi (hari)
Ca (ppm)
Fe (ppm)
Mg (ppm)
Zn (ppm)
0
38,5500
2,9500
ND
ND
3
39,3650
46,8200
ND
ND
5
44,9750
46,4700
ND
ND





BAB V
PENUTUP

A.                KESIMPULAN
Tepung mocaf dapat dihasilkan dengan proses fermentasi menggunakan Lactobacillus plantarum, Saccharomyces cereviseae, dan Rhizopus oryzae. Lactobacillus plantarum, Saccharomyces cereviseae, dan Rhizopus oryzae yang harganya murah dan non pathogen dapat meningkatkan kadar protein dan menurunkan kadar HCN pada tepung mocaf. Tepung mocaf dengan kandungan nutrisi terbaik dihasilkan pada waktu fermentasi 3 hari dengan menggunakan Saccharomyces cereviseae dan Rhizopus oryzae, sedangkan dengan proses fermentasi menggunakan Lactobacillus plantarum tepung mocaf terbaik pada waktu fermentasi 5 hari. Tepung mocaf yang dihasilkan dari karakteristik fisik hampir menyerupai tepung terigu, sedangkan untuk kandungan nutrisi protein tepung terigu masih lebih baik dari tepung mocaf.












DAFTAR PUSTAKA

Amri, E., dan Putri Pratiwi. 2014.  Pembuatan Mocaf (Modified Cassafa Flour) dengan Proses Fermentasi Menggunakan Beberapa Jenis Ragi
Buckle, K.A., R.A. Edwards, G.H. Fleet, and M. Wooton. 1987. Ilmu Pangan. Universitas Indonesia Press. Jakarta. 365 hlm
Hahn, S. K. 1992. Cyanide and tannin, traditional processing and utilizatin of cassava in Africa. International Institute for Tropical Agriculture (IITA).
Harsono. 2006. Bioteknologi. Jakarta : Yudhistira
Hidayat. Nur., Masdiana P., dan Suhartini, S. 2006. Mikrobiologi Industri. Yogyakarta : Penerbit Andi
Gunawan, S., Widjaja, T., dkk. 2015. Effect of fermenting cassava with Lactobacillus plantarum, Saccharomyces cereviseae, and Rhizopus oryzae on the chemical composition of their flour.
Murtiningsih dan Suyanti. 2011. Membuat Tepung Umbi dan Variasi Olahannya. Jakarta : AgroMedia Pustaka
Salim E. 2011. Mengolah Singkong Menjadi Tepung Mocaf. P: 4 - 55. Yogyakarta : Lily Publisher
Suardana, W. 2007. Isolasi dan Identifikasi Bakteri Asam Laktat dari Cairan Rumen Sapi Bali sebagai Kandidat Biopreservatif. Jurnal Veteriner Vol.8 No.4:155-159.
Suryani, Y., dan Oktavia, B.. 2010. Biologi dan Pengembangan Profesi Pendidik Biologi, Isolasi dan Karakterisasi Bakteri Asam Laktat dari Limbah Kotoran Ayam sebagai Agensi Probiotik dan Enzim Kolestrol Reduktase, Prosiding 3 Juli
Syahrurachman, A. 1994. Mikrobiologi Kedokteran Edisi Revisi. Jakarta : Penerbit Bina Rupa Aksara



No comments:

Post a Comment