Thursday, November 13, 2014

pengertian anti hipertensi antihipertensi



ANTIHIPERTENSI

I.                   Pendahuluan
Pengertian
Hipertensi adalah suatu keadaan medis di mana terjadi peningkatan tekanan darah melebihi normal. Di seluruh dunia hipertensi telah menjadi suatu penyakit yang  dihubungkan dengan angka morbiditas, mortalitas serta biaya (cost) yang tinggi di masyarakat. Hipertensi juga merupakan faktor risiko penting, yang dapat dimodifikasi, untuk penyakit jantung koroner, stroke, gagal jantung kongestif, gagal ginjal dan penyakit arteri perifer. Antihipertensi adalah obat  –  obatan yang digunakan untuk mengobati hipertensi. Antihipertensi juga diberikan pada individu yang memiliki resiko tinggi untuk terjadinya penyakit kardiovaskular dan  mereka yang beresiko terkena stroke maupun miokard infark. Pemberian obat bukan berarti menjauhkan individu dari modifikasi gaya hidup yang sehat seperti mengurangi berat badan, mengurangi konsumsi garam dan alkohol, berhenti merokok, mengurangi stress dan berolahraga.

Derajat Hipertensi (WHO)
Mild HT
140 – 159 mmHg / 90 – 104 mmHg
Moderate HT
160 – 179 mmHg / 105 – 119 mmHg
Severe HT
>180 mmHg / 120 mmHg
Malignan HT
> 180 mmHg / 120 mmHg + Retinopati, Haemorrage, Papil edema
Isolated Syst. HT (<70 th)
S > 160 mmHg; D < 95 mmHg

Sekali ditetapkan hipertensi, pertanyaan yang muncul, apakah diperlukan pengobatan atau tidak dan obat mana yang digunakan haruslah dipertimbangkan. Tingkat tekanan darah, umur dan jenis kelamin pasien, tingkat keparahan kerusakan organ (jika ada) karena tekanan darah tinggi serta kemungkinan adanya faktor-faktor resiko kardiovaskular, semua harus dipertimbangkan.
Kesuksesan pengobatan hipertensi menuntut kepatuhan terhadap instruksi diet dan penggunaan obat yang dianjurkan. Pendidikan mengenai sifat alami hipertensi dan pentingnya perawatan serta pengetahuan tentang efek-efek samping potensial obat sangat perlu diberikan. Faktor-faktor lain yang dapat meningkatkan kepatuhan pasien adalah penyederhanaan aturan pemberian dosis dan juga meminta pasien untuk memantau tekanan darahnya selama di rumah

Hipertensi berkepanjangan akan merusak pembuluh-pembuluh darah ginjal, jantung, dan otak serta menimbulkan peningkatan insiden gagal ginjal, gagal jantung, stroke, dll. Factor resiko orang yang terkena hipertensi antara lain : diabetes, hiperlipidema, dan adanya riwayat keluarga penderita penyakit kardiovaskular.
Tekanan darah ditentukan oleh 2 faktor, yaitu :
a.     Curah jantung
Ialah hasil kali denyut jantung da nisi sekuncup jantung. Besarnya sekuncup jantung ditentukan oleh kekuatan kontraksi otot jantung dan volume darah kembali ke jantung
b.     Resistensi perifer
Adalah gabungan tekanan otot polos arteri dan viskositas darah. Resistensi disebabkan oleh berkurangnya elastisitas dinding pembuluh darah akibat adanya arteriosclerosis yang terjadi karena meningkatnya usia atau karena pengendapan.
Ada 2 macam tekanan darah :
a.     Sistolik
Adalah tekanan darah yang terjadi pada saat jantung benkontraksi. Tekanan ini selalu lebih besar dari tekanan diastolic.
b.     Diastolic
Adalah tekanan darah yang terjadi pada saat jantung bereaksi (mengembang).

Tekanan darah dinyatakan dengan satuan mmHg, missal 150 / 80 mmHg artinya tekanan darah sistolik 150 dan tekanan darah diastolic 80, mmHg sendiri artinya millimeter Hegnium atau tiap millimeter air raksa.



Dikatakan hipertensi bila ada peningkatan tekanan darah sistolik atau diastolic yang kronis.
            Tekanan darah diatur oleh Sistem Renin-Angiotensin-Aldosteron (RAAS). Hormone renin yang dihasilkan oleh ginjal. Bila aliran darah dalam glomelurus berkurang ginjal akan melepaskan renin. Dalam plasma renin bergabung dengan protein membentuk Angiotensin I, yang oleh enzim ACE (Angiotensin Converting Enzym)dirubah menjadi Angiotensin II, yang katif dan bersifat vasokontriksi dan menstimulir hormone aldosterone yang mempunyai efek retensi air dan garam, sehingga volume darah bertambah mengakibatkan tekanan darah meningkat.

Factor yang mempengaruhi tekanan darah :
a.     Volume denyut jantung : makin besar volume denyut jantung, tekanan darah makin tinggi
b.     Elastisitas dinding arteri : makin kurang elastis pembuluh darah tekanan darah makin tinggi
c.      Hormone : gelisah, tegang, takut, emosi atau marah

II.                 Macam-macam Hipertensi
Berdasarkan etiologi :
a.     Hipertensi esensial atau hipertensi primer yaitu hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya. Hipertensi esensial ini merupakan 90% dari kasu hipertensi. Factor yang mempengaruhinya antara lain, usia, jenis kelamin, merokok, kolesterol, berat beadan.
b.     Hipertensi sekunder disebabkan oleh penyakit, obat. Yang disebabkan oleh ginjal disebut hipertensi renal, sedangkan yang disebabkan penyakit endokrin disebut hipertensi endokrin. Sedang obat-obatan yang dapat menyebabkan hipertensi misalnya, hormone kontrasepsi, hormone kortekosteroid, anti depresa, dll.



Gejala
Pada sebagian besar penderita, hipertensi tidak menimbulkan gejala; meskipun secara tidak sengaja beberapa gejala terjadi bersamaan dan dipercaya berhubungan dengan tekanan darah tinggi (padahal sesungguhnya tidak). Gejala yang dimaksud adalah sakit kepala, perdarahan dari hidung, pusing, wajah kemerahan dan kelelahan; yang bisa saja terjadi baik pada penderita hipertensi, maupun pada seseorang dengan tekanan darah yang normal. Jika hipertensinya berat atau menahun dan tidak diobati, bisa timbul gejala berikut:
1.    sakit kepala
2.    kelelahan
3.    mual
4.    muntah
5.    sesak napas
6.    gelisah, serta
7.    pandangan menjadi kabur yang terjadi karena adanya kerusakan pada otak, mata, jantung dan ginjal.
Kadang penderita hipertensi berat mengalami penurunan kesadaran dan bahkan koma karena terjadi pembengkakan otak. Keadaan ini disebut ensefalopati hipertensif, yang memerlukan penanganan segera.


III.              Pencegahan
Berhubung gejala khas tidak ada, sedangkan hipertensi beresikobesar, maka perlu mengenal lebih awal gangguan ini., yaitu dengan mengukur tekanan darah berkala (minimal sekali dalam setahun) terutama bagi yang sudah berusia 45 tahun ke atas.

Bebarapa tindakan umum yang perlu dilakukan oleh pasien meskipun hanya menderita hipertensi ringan antara lain :
a.     Bagi yang obesitas : menurunkan berat badan, sebab dengan menurunkan berat badan, volume darah juga akan berkurang. Penurunan berat badan 1 kg akan menurunkan tensi darah.
b.     Diet garam : maksimum 2 gram per hari. Mengurangi konsumsi lemak termasuk daging, sebaliknya memperbanyak konsumsi makanan nabati.
c.      Tidak merokok, mengurangi minum kopi dan alcohol. Sebab nikotin mempunyai efek vasokontrixi dan karbondioksida dalam asap rokok menggangu pernafasan. Kafein dapat menstimulir kontaxi jantung begitu juga dengan alkohol.
d.     Istirahat yang cukup dan  olahraga teratur.

IV.              Pengobatan
Prinsip pengobatan hipertensi adalah menurunkan tekanan darah, bila mungkin sampai tekanan darah normal atau pada tekanan yang tidak mengganggu fungsi ginjal, otak dan jantung. Ada dua cara pengobatan hipertensi yaitu farmakologis dan non farmakologis.
Terapi non farmakologis adalah terapi tanpa menggunakan obat-obatan missal menurunkan berat badan, diet garam dan sebagainya.

Terapi farmakologi :
1.     Pemberian diuretic
Diuretic dapat digunakan sebagai terapi obat pilihan pertama untuk hipertensi, kecuali jika terdapat alasan memilih obat lain.

a.     Diuretic tiazid Kegunaan terapeutik : diuretic tiazid menurunkan tekanan darah pada posisi baik telentang ataupun berdiri. Obat ini bekerja berlawanan terhadap retensi air dan natrium yang terjadi oleh obat lain yang juga digunakan untuk terapi hipertensi. Oleh sebab itu tiazid biasa dikombinasikan dengan beragam obat antihipertensi lain termasuk penghambat β, penghambat ACE dan lain-lain.
·         Mekanisme kerja : menghambat reabsorbsi Natrium dan Klorida pada lengkung henle, yang menyebabkan diuresis ringan, menurunkan tekanan darah dengan mendeplesi simpanan natrium dan ekskresi air. Suplemen kalium mungkin diperlukan karena efeknya yang boros kalium.
·        Contoh : Hidroklortiazid, klortalidon, indapamid
·        Farmakokinetik : diuretic tiazid per oral. Kecepatan absorbsi dan eliminasi sangat bervariasi namun belum ada data yang falid yang menunjukan kelebih tepatan setiap obat.

.
b.       Loop diuretik
Mekanisme kerja : adanya penghambatan terhadap transport elektrolit Na, K danCl sehingga menyebabkan hipokalemia, sehingga kadar kalium harus dipantau.
Contoh : furosemid, bumetanid.
c.       Diuretik hemat kalium
Mekanisme kerja : meningkatkan eksresi natrium dan air sambil menahan kalium. Obat-obat ini dipasarkan dalam gabungan dengan diuretik boros kalium untuk memperkecil kesetimabangan kalium.
Contoh : amilorid, spironolakton, triamterin.
d.      Diuretik osmotik
Mekanisme kerja : menarik air ke urin, tanpa mengganggu sekresi atau absorbsi ion dalam ginjal.
Contoh : manitol

2.     Penghambat adrenoreseptor atau antagonis adrenergik
Obat ini digunakan untuk terapi hipertensi ketika penyakit penyerta timbul misal gagal jantung. Agonis adrenergik meningkatkan tekanan darah dengan merangsang jantung (reseptor β1) dan/ atau kontriksi pembuluh darah perifer (reseptor α1). Efek adrenegrik dapat ditekan dengan menghambat pelepasan agonis adrenergik atau melakukan antagonisasi reseptor adrenergik.


a.     Kerja : menurunkan tekanan darah terutama dengan penurunan curah jantung obat ini juga dapat menurunkan aliran keluar simpatis dari SSP dan menghamabt pelepasan renin dari ginjal sehingga menurunkan pembentukan Anginotensin II.
Farmakokinetik : penghambat β efektif per oral. Penghambat β dapat memerlukan beberapa minggu untuk menghasilkan efeknya.
Contoh  : propanolol, timolol
b.      Anti adrenergik sentral : mencegah aliran  keluar simpatis (adrenergik) dari otak dengan mengaktifkan α2 penghambat.
Contoh : klonidin, metil DOPA
c.       Antiadrenergik perifer : mencegah pelepasan noreepineprin dari terminal saraf perifer (misalnya yang berakhir di jantung).
Contoh : reserpin, guanetidin.
d.      Bloker alfa dan beta
Bersaing dengan agonis endogen memperebut reseptor adrenergik. Penempatan resepator α1 oleh antagonis menghambat vasokonstriksi dan penempatan reseptor β1 mencegah perangsangan adrenergik pada jantung.

3.     Penghambat ACE
Direkomendasikan aapbila diuretic atau penghambat β tidak efektif.
Kerja : menurunkan tekanan darah dengan menurunkan resistensi vaskuler tanpa peningkatan curah jantung
Contoh : kaptopril, lisinopril, enalapril, lamipril

4.     Vasodilasator
Bekerja dengan cara menghasilkan relaksasi otot polos vaskuler yang akan menurunkan resistensi dan tekanan darah.
Obat contohnya hydralazine dan minoxidil
5.     Antagonis kalsium
Mekanisme kerja : Obat ini melebarkan pembuluh darah sehingga tekanan kapiler menurun. Obat ini mencegah masuknya 'Calsium' ke jaringan melalui 'Calcium Channel' sehingga akan me'relaksasi' (mengendurkan) dinding pembuluh darah arteri dan menurunkan kontraksi jantung.
 Contoh : nifedipin, nikardipin, verapamil, dll.






CONTOH OBAT ANTIHIPERTENSI DIPASARAN
Sediaan di Pasaran
·         Diuretik : Aldactone, Furosemid, dan Classic.
·           Antiadrenergik :Bbisovell, B-Beta, Propanolol, Reserpin dan Carbloxal.
·         Vasodilator : Brainact, Dizine, dan Ergotika.
·     ACE –inhibitor : Accupril, Captopril, Lisinopril, Captensin, Cardace, dan Angioten
·         Antagonis Kalsium : Nilardipin, Verapamil, Actapin, Amcor, dan Cardiover


















Daftar pustaka
Neal, M.J. (2006). At a Glance Farmakologi Medis, Edisi Kelima. Jakarta : Penerbit Erlangga

No comments:

Post a Comment