Sunday, May 22, 2016

LAPORAN PRAKTIKUM FORM TEK LIQUID

LAPORAN PRAKTIKUM FORM TEK LIQUID SEDIAAN SOLUTIO @Kentirpharma Javanesia - PARANGENES SYRUP

BAB 1
PENDAHULUAN

   A.     Latar Belakang
  Larutan oral adalah sediaan cair yang dibuat untuk pemberian oral, mengandung satu atau lebih zat dengan atau tanpa bahan pengaroma, pemanis, atau pewarna yang larut dalam air atau campuran konsolven. Beberapa contoh sediaan larutan oral, antara lain: Sirup adalah sediaan pekat dalam air dari gula atau pengganti gula dengan atau tanpa penambahan bahan pewangi dan zat obat. Komponen-komponen dari sirup : (1) gula, biasanya sukrosa atau pengganti gula yang digunakan untuk memberi rasa manis dan kental, (2) pengawat antimikroba, (3) pembau, dan (4) pewarna.
Faktor utama pemilihan penggunaan obat bentuk sediaan cair khususnya larutan yaitu lebih mudah ditelan dibandingkan dengan bentuk sediaan padat seperti tablet atau kapsul, sehingga lebih cocok untuk pemberian pada bayi, anak-anak, dan usia lanjut yang susah menelan obat dalam bentuk kapsul atau tablet. Sediaan tablet atau kapsul dihindari untuk anak kurang dari 5 tahun. Disamping itu, larutan juga memberikan efek yang lebih cepat karena obat cepat di absorbsi tanpa mengalami proses disintegrasi dan pelarutan karena sudah berada dalam bentuk larutan. Untuk pemakaian luar , larutan lebih mudah digunakan. Namun ada beberapa obat yang tidak stabil atau mudah rusak bila dibuat dalam larutan, sehingga harus selalu dibuat baru bila akan digunakan.
Setiap orang tentunya pernah merasakan rasa nyeri. Mulai dari nyeri ringan seperti sakit kepala, nyeri punggung, nyeri haid, reumatik dan lain-lain seperti nyeri yang berat. Obat nyeri itu dinamakan obat analgesik. Analgesik yang sering digunakan salah satunya adalah parasetamol. Selain sebagai analgesik, parasetamol juga dapat digunakan untuk obat antipirek (demam). Parasetamol banyak digunakan karena disamping harganya murah, parasetamol adalah anti nyeri yang aman untuk swamedikasi (pengobatan mandiri.
Parasetamol adalah golongan obat analgesik non opioid yang dijual secara bebas. Indikasi parasetamol adalah untuk sakit kepala, nyeri otot sementara, sakit menjelang menstruasi, dan diindikasikan juga untuk demam. Parasetamol itu aman terhadap lambung juga merupakan Analgesik pilihan untuk ibu hamil maupun menyusui. Tapi bukan berarti parasetamol tidak mempunyai efek samping. Efek samping parasetamol berdampak ke liver atau hati. Parasetamol bersifat toksik di hati jika digunakan dalam dosis besar.


   B.     Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan larutan ?
2.      Bagaimana formulasi sediaan solutio ?
   C.       Tujuan
1.         Mengetahui dan memahami pengertian larutan.
2.         Mengetahui dan memahami formulasi solutio.
3.         Memahami uji-uji yang di lakukan pada sediaan.

























BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


A.    Dasar Teori
Larutan atau solutio adalah sediaan cair yang mengandung satu zat aktif atau lebih yang terlarut didalamnya, biasanya menggunakan air sebagai pelarut. Perbedaan potio dan larutan (solutio) adalah potio merupakan sediaan cair untuk konsumsi obat secara oral, sedangkan larutan (solutio) merupakan sediaan cair yang bisa digunakan secara oral, topikan, parenteral dan sebagainya (Margaret , 2009)
Sirup adalah salah satu bentuk sediaan cair yang dalam dunia farmasi yang dikenal luas oleh masyarakat. Saat ini, banyak sediaan sirup yang beredar di pasaran dari berbagai macam merk, baik yang generic maupun yang paten.Biasanya, orang-orang mengunakan sediaan sirup karena disamping mudah penggunaannya, sirup juga mempunyai rasa yang manis dan aroma yang harum serta warna yang menarik sehingga disukai oleh berbagai kalangan, terutama anak-anak dan orang yang susah menelan obat dalam bentuk sediaan oral lainnya. Secara umum sirup merupakan larutan pekat dari gula yang ditambah obat atau zat pewangi dan merupakan larutan jernih berasa manis. Sirup adalah sediaan cair kental yang minimal mengandung 50% sakarosa (Ansel et al., 2005).
Menurut Buku Ilmu Meracik Obat
            Larutan adalah sediaan cair yang mengandung bahan kimia yang terlarut, sebagai pelarut digunakan air suling kecuali dinyatakan lain. Larutan terjadi apabila suatu zat padat bersinggungan dengan suatu cairan, maka zat padat tadi terbagi secara molecular dalam cairan tersebut, (Anief, 1997)
Hal yang diperhatikan dalam pembuatan larutan :
a.       Kelarutan zat aktif harus jelas dan bisa larut
b.      Kestabilan zat aktif dalam larutan/pelarut maupun kosolven harus baik
c.       Dosis takaran tepat
d.      Penyimpanan yang sesuai





B.     Keuntungan dan kerugian sediaan cair
Keuntungan Sediaan Cair :
1.    Cocok untuk penderita yang sukar menelan tablet.
2.     Absorpsi obat lebih cepat di bandingkan dengan sediaan oral lain. Urutan kecepatan absorpsinya larutan > emulsi > suspensi.
3.    Homogenitas lebih terjamin.
4.    Dosis/takaran dapat di sesuaikan.
5.    Dosis obat lebih seragam dibandingkan semi padat, terutama bentuk larutan. Untuk emulsi dan suspensi, keseragaman dosis tergantung pada pengocokan.
6.   Beberapa obat atau senyawa obat dapat mengiritasi mukosa lambung atau di rusak cairan lambung bila diberikan dalam bentuk sediaan padat. Hal ini dapat di kurangi dengan memberikan obat dalam bentuk sediaan cair karena faktor pengenceran.
Kerugian Sediaan Cair :
1.      Tidak dapat di buat untuk senyawa obat yang tidak stabil dalam air.
2.      Bagi obat yang rasanya pahit atau baunya tidak enak sukar di tutupi.
3.      Tidak praktis.
4.      Takaran penggunaan obat tidak dalam dosis terbagi, kecuali sediaan dosis tunggl, dan harus menggunakan alat khusus.
5.      Air merupakan media yang baik untuk pertumbuhan bakteri dan merupakan katalis reaksi.
6.      Pemberian obat harus menggunakan alat khusus atau oleh orang khusus (sediaan parenteral).

C.    Faktor-faktor yang Mempengaruhi Larutan
1.    Sifat dari solute dan solvent
Solute yang polar akan larut dalam solvent yang polar pula. Misalnya garam-garam anorganik larut dalam air. Solute yang nonpolar larut dalam solvent yang nonpoar pula. Misalnya alkaloid basa (umumnya senyawa organik) larut dalam kloroform.
2.    Cosolvensi
Cosolvensi adalah peristiwa kenaikan kelarutan suatu zat karena adanya penambahan pelarut lain atau modifikasi pelarut. Misalnya luminal tidak larut dalam air, tetapi larut dalam campuran air dan gliserin atau solutio petit.



3.    Kelarutan
Zat yang mudah larut memerlukan sedikit pelarut, sedangkan zat yang sukar larut memerlukan banyak pelarut. Kelarutan zat anorganik yang digunakan dalam farmasi umumnya adalah :
a.       Dapat larut dalam air
Semua garam klorida larut, kecuali AgCl, PbCl2, Hg2Cl2. Semua garam nitrat larut kecuali nitrat base. Semua garam sulfat larut kecuali BaSO4, PbSO4, CaSO4.
b.      Tidak larut dalam air
Semua garam karbonat tidak larut kecuali K2CO3, Na2CO3. Semua oksida dan hidroksida tidak larut kecuali KOH, NaOH, BaO, Ba(OH)2. semua garam phosfat tidak larut kecuali K3PO4, Na3PO3.
Menurut Farmakope Indonesia Edisi III Kelarutan suatu zat yang tidak diketahui secara pasti dapat dinyatakan dengan istilah sebagai berikut:

Istilah kelarutan
Jumlah bagian pelarut yang diperlukan untuk melarutkan 1 bagian zat
Sangat mudah larut
< 1
Mudah larut
1- 10
Larut
10-30
Agak sukar larut
30-100
Sukar larut
100-1000
Sangat sukar larut
1000-10000
Praktis tidak larut
>10000

4.    Temperatur
Zat padat umumnya bertambah larut bila suhunya dinaikkan, zat padat tersebut dikatakan bersifat endoterm, karena pada proses kelarutannya membutuhkan panas.
Berdasarkan pengaruh ini maka beberapa sediaan farmasi tidak boleh dipanaskan, misalnya :

a.       Zat-zat yang atsiri, Contohnya : Etanol dan minyak atsiri.
b.      Zat yang terurai, misalnya : natrium karbonas.
c.       Saturation
d.      Senyawa-senyawa kalsium, misalnya : Aqua calsis.
5.  Salting Out
Salting Out adalah Peristiwa adanya zat terlarut tertentu yang mempunyai kelarutan lebih besar dibanding zat utama, akan menyebabkan penurunan kelarutan zat utama atau terbentuknya endapan karena ada reaksi kimia. Contohnya : kelarutan minyak atsiri dalam air akan turun bila kedalam air tersebut ditambahkan larutan NaCl jenuh.
6.    Salting In
Salting in adalah adanya zat terlarut tertentu yang menyebabkan kelarutan zat utama dalam solvent menjadi lebih besar. Contohnya : Riboflavin tidak larut dalam air tetapi larut dalam larutan yang mengandung Nicotinamida.
7.    Pembentukan Kompleks
Pembentukan kompleks adalah peristiwa terjadinya interaksi antara senyawa tak larut dengan zat yang larut dengan membentuk garam kompleks. Contohnya : Iodium larut dalam larutan KI atau NaI jenuh.
Kecepatan kelarutan dipengauhi oleh :
a.       Ukuran partikel : Makin halus solute, makin kecil ukuran partikel ; makin  luas permukaan solute yang kontak dengan solvent, solute makin cepat larut.
b.      Suhu : Umumnya kenaikan suhu menambah kenaikan kelaruta solute.
c.       Pengadukan.

D.    Komponen Sirup
1.      Pemanis
Pemanis berungsi untuk memperbaiki rasa dari sediaan. Dilihat dari kalori yang dihasilkan dibagi menjadi pemanis berkalori tinggi dan pemanis berkalori rendah. Adapun pemanis berkalori tinggi misalnya sorbitol, sakarin dan sukrosa sdangkan yang berkalori rendah seperti laktosa.


2.      Pengawet antimikroba
Digunakan untuk menjaga kestabilan obat dalam penyimpanan agar dapat bertahan lebih lama dan tidak ditumbuhi oleh mikroba atau jamur.

3.      Perasa dan Pengaroma
Hampir semua sirup disedapkan dengan pemberi rasa buatan atau bahan-bahan yang berasal dari alam untuk membuat sirup mempunyai rasa yang enak. Karena sirup adalah sediaan cair, pemberi rasa ini harus mempunyai kelarutan dalam air yang cukup. Pengaroma ditambahkan ke dalam sirup untuk memberikan aroma yang enak dan wangi. Pemberian pengaroma ini harus sesuai dengan rasa sediaan sirup, misalkan sirup dengan rasa jeruk diberi aroma citrus.
4.      Pewarna
Pewarna yang digunakan umumnya larut dalam air dan tidak bereaksi dengan komponen lain dalam sirup dan warnanya stabil dalam kisaran pH selama penyimpanan. Penampilan keseluruhan dari sediaan cair terutama tergantung pada warna dan kejernihan. Pemilihan warna biasanya dibuat konsisen dengan rasa.
Juga banyak sediaan sirup, terutama yang dibuat dalam perdagangan mengandung pelarut-pelarut khusus, pembantu kelarutan, pengental dan stabilisator.
E.     Stabilitas Sediaan Sirup
1.      Stabilitas Kimia
Stabilitas kimia adalah kemampuan suatu produk untuk bertahan dalam batas yang ditetapkan sepanjang periode penyimpanan dan penggunaan, sifat kimia dan karakteristiknya sarna dengan yang dimilikinya pada saat dibuat. Stabilitas kimia pada sediaan sirup dilakukan untuk mempertahankan keutuhan kimiawi dan potensiasi yang tertera pada etiket dalam batas yang dinyatakan dalam spesifikasi.
Uji stabilitas kimia sediaan sirup :
a.       Identifikasi
b.      Penetapan Kadar



2.      Stabilitas Fisika
Stabilitas fisika adalah tidak terjadinya perubahan sifat fisik dari suatu produk selama waktu  penyimpanan. Stabilitas fisika pada sediaan sirup dilakukan untuk mempertahankan keutuhan fisik meliputi perubahan warna, perubahan rasa, perubahan bau, perubahan tekstur atau penampilan.
Uji stabilitas fisika sediaan sirup :
a.       Organoleptik seperti bau, rasa, warna
b.      pH                  
c.       Berat jenis      
d.      Viskositas       
e.       Kejernihan larutan          
f.       Volume terpindahkan       
g.      Kemasan, meliputi etiket, brosur, wadah, peralatan pelengkap seperti sendok, no. batch dan leaflet.

3.      Stabilitas Mikrobiologi
Stabilitas mikrobiologi suatu sediaan adalah keadaan di mana sediaan bebas dari mikroorganisme atau tetap memenuhi syarat batas mikroorganisme hingga batas waktu tertentu. Stabilitas mikrobiologi pada sediaan sirup untuk menjaga atau mempertahankan jumlah dan menekan pertumbuhan mikroorganisme yang terdapat dalam sediaan sirup hingga jangka waktu tertentu yang diinginkan.
Uji stabilitas mikrobiologi sediaan sirup :
a.       Jumlah cemaran mikroba ( uji batas mikroba ), untuk sediaan oral (sirup, tablet, granul, sirup kering, granul) dan rektal :
Total bakteri aerob : Tidak lebih dari 10.000 CFU / gram atau ml.
Total jamur/fungi : Tidak lebih dari 100 CFU / gram atau ml
Escherichia coli, staphyloccocus : negatif
Uji efektivitas pengawet
Untuk sediaan antibiotik dilakukan Penetapan Antibiotik secara Mikrobiologi
4.      Stabilitas Farmakologi
Stabilitas farmakologi pada sediaan sirup dilakukan untuk menjamin identitas, kekuatan, kemurnian,dan parameter kualitas lainnya dalam kurun waktu tertentu sehingga efek terapi tidak berubah selarna usia guna sediaan sirup.
Uji stabilitas farmakologi sediaan sirup :
a.       Pemerian : warna, bau, rasa
b.      Identifikasi
c.       Penetapan Kadar

  5.       Stabilitas Toksikologi
Stabilitas toksikologi sediaan sirup dilakukan untuk menguji kemampuan suatu produk untuk bertahan dalam batas yang ditetapkan sepanjang periode penyimpanan dan penggunaan, sifat dan karakteristiknya sarna dengan yang dimilikinya pada saat dibuat sehigga tidak terjadi peningkatan bermakna dalam toksisitas selama usia guna.
Uji stabilitas farmakologi sediaan sirup :
a.    Pemerian : warna, bau, rasa
b.   Identifikasi
c.    Penetapan Kadar

F.     Tinjauan Bahan
1.      ACETAMINOPHENUM
Nama lain        : asetaminofen, parasetamol
Pemerian         : hablur atau serbuk hablur putih, tidak berbau, rasa pahit.
Kelarutan        : larut dalam 70 bagian air, dalam 7 bagian etanol (95%) P, dalam 13 bagian aseton P, dalam 40 bagian gliserol P dan dalam 9 bagian propilenglikol P, larut dalam larutan alkali hidroksida.
Kemurnian      : asetaminofen mengandung tidak kurang dari 98,0% dan tidak lebih dari 101,0% C8H9NO2 n dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan.
BM                  : 151,16
Titik lebur        : 169o sampai 172o
Khasiat            : analgetikum, antipiretiK
            Parasetamol atau asetaminofen adalah obat analgesic dan antipiretik yang popular dan digunakan untuk melegakan sakit kepala, sengal-sengal dan sakit ringan, serta demam. Penggunaan dalam sebagian besar resep obat analgesic selesma dan flu.Ia aman dalam dosis standar, tetapi karena mudah didapati, over dosis obat baik sengaja atau tidak sengaja sering terjadi.
Parasetamol termasuk dalam golongan obat penurun demam (antipiretik) dan penghilang nyeri (analgesik) untuk nyeri ringan hingga sedang. Akan tetapi parasetamol tidak memiliki efek anti-rematik dan anti-radang.Selain itu, parasetamol tidak menimbulkan iritasi di lambung sehingga  bias diminum sebelum makan.
Overdosis parasetamol dapat terjadi pada penggunaan akut maupun penggunaan berulang. Over dosis parasetamol akut dapat terjadi jika seseorang mengkonsumsi parasetamol dalam dosis besar dalam waktu 8 jam atau kurang. Over dosis akut dapat menyebabkan kerja diantoksik pada hati (hepatotoksisitas) dan kerusakan sel ginjal. Kematian bias terjadi (mencapai 3-4% kasus) jika parasetamol digunakan sampai 15 gram. Adapun over dosis pada penggunaann berulang dapat menyebabkan anemia dan gangguan saluran pencernaan.
Risiko kerja diantoksik pada hati dapat meningkat jika parasetamol digunakan bersamaan dengan obat-obatan lain, seperti: karbamazepin, fenitoin, barbiturate, rifampisin, sulfinpirazon, dan isoniazid.
Khasiat paracetamol
a)      Analgesik. Paracetamol bekerja sebagai inhibitor prostaglandin lemah dengan menghalangi produksi prostaglandin, yang merupakan zat kimia yang terlibat dalam proses pengiriman pesan rasa sakit ke otak. Dengan mengurangi jumlah prostaglandin, paracetamol membantu mengurangi rasa sakit. Namun, berbeda dengan aspirin, paracetamol memblokir pesan rasa sakit di sistem saraf pusat, bukan pada sumber rasa sakit. Paracetamol digunakan untuk meringankan nyeri ringan sampai sedang, termasuk sakit kepala, migrain, nyeri otot, neuralgia, sakit punggung, nyeri sendi, nyeri rematik, sakit gigi, nyeri tumbuh gigi, artritis, dan nyeri menstruasi.
b)      Antipiretik. Paracetamol adalah antipiretik yang dapat mengurangi demam dengan memengaruhi bagian otak yang disebut hipotalamus yang mengatur suhu tubuh. Efek ini membuat paracetamol banyak digunakan dalam obat-obatan untuk batuk, pilek dan flu. Secara khusus, paracetamol diberikan kepada anak-anak setelah pemberian vaksinasi untuk mencegah demam pasca-imunisasi.
Tubuh menyerap paracetamol dengan cepat. Paracetamol dalam bentuk larutan lebih cepat diserap daripada tablet padat. Efek paracetamol biasanya akan mencapai puncaknya antara setengah jam sampai dua jam setelah konsumsi, dengan efek analgesik berlangsung selama sekitar empat jam. Setelah itu, paracetamol akan dikeluarkan dari tubuh.

2.      METHYLIS PARABENUM
Nama lain        : metil paraben, nipagin M
Rumus kimia   : C8H8O3
Pemerian         : serbuk hablur halus, putih, hampir tidak berbau, tidak mempunyai rasa, kemudian agak membakar diikuti rasa tebal.
Kelarutan        : larut dalam 500 bagian air, dalam 20 bagian air mendidih, dalam 3,5 bagian etanol (95%) P, dan dalam 3 bagian aseton P, mudah larut dalam eter P dan dalam larutan alkali hidroksida, larut dalam 60 bagian gliserol P panas dan dalam 40 bagian minyak lemak nabati panas, jika didinginkan larut jernih.
Kemurnian      : metil paraben mengandung tidak kurang dari 99% dan tidak lebih dari 101,0% C8H8O3.
BM                  : 152,15
Titik lebur        : 125o sampai 128o
Konsentrasi     : 0,02% - 0,3%
Khasiat            : zat tambahan

3.      GLYSEROLUM
Nama lain        : gliserin, gliserol
Rumus kimia   : C3H8O3
Pemerian         : cairan seperti sirup, jernih, tidak berwarna, tidak berbau, manis diikuti rasa hangat, higroskopik. Jika disimpan beberapa lama pada suhu rendah dapat memadat membentuk massa hablur tidak berwarna yang tidak melebur hingga suhu mencapai lebih kurang 20o
Kelarutan        : dapat campur dengan air, dan dengan etanol (95%) P, praktis tidak larut dalam kloroform P, dalam eter P dan dalam minyak lemak.
BM                  : 92,10
Khasiat            : zat tambahan

4.      PROPYLEN GLYCOLUM
Nama lain        : propilen glikol
Rumus kimia   : C3H8O2
Pemerian         : cairan kental, jernih, tidak berwarna, tidak berbau, rasa agak manis
Kelarutan        : dapat campur dengan air, dengan etanol (95%)P dan dengan kloroform P, larut dalam 6 bagian eter P, tidak dapat campur dengan eter minyak tanah P, dan dengan minyak lemak
Indeks bias      : 1,431 sampai 1,433
Jarak didih      : pada suhu 185o sampai 189o tersuling tidak kurang dari 95% vv
Bobot per ml   : 1,035 gram sampai 1,037 gram
BM                  : 76,10
Khasiat            : zat tambahan

5.      SUKROSA
Nama lain        : sucrosum, sakarosa
Rumus kimia   : C12H22O11
Pemerian         : hablur putih atau tidak berwarna, massa hablur atau berbentuk kubus, atau serbuk hablur putih, rasa manis, stabil di udara. Larutannya netral terhadap lakmus.
Kelarutan        : sangat mudah larut dalam air, lebih mudah larut dalam air mendidih, sukar larut dalam etanol, tidak larut dalam kloroform dan dalam eter.
BM                  : 342,30
Khasiat            : pemanis

6.      AQUA DESTILATA
Nama lain        : air suling,
Rumus kimia   : H2O
Pemerian         : cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak mempunyai rasa.
Kelarutan        : air suling dibuat dengan menyuling air yang dapat diminum.
Khasiat            : pelarut

7.      AQUA MENTHAE PIPERATE
Nama lain        : peperminttwater, air permen
Kocok
Satu bagian minyak perrmen........................................1
Dengan kuat-kuat dengan
Sembilan puluh sembilan bagian Air suam kuku.........99
Tambahkan sesudah didinginkan. Dengan mengocok bagian demi bagian.
Sembilan ratus bagian air..........................................900
Zat cair yang sedikit keruh.
Khasiat            : zat tambahan

G.    Formulasi

No.
Nama bahan
Khasiat
Rentang ( % )
%
Berat (g)
1
Paracetamol
Zat aktif
-
2,5
2,5
2
Sukrosa
Sweetening agent
-
40
40
3
Nipagin
Pengawet
0,015 – 0,2
0,1
0,1
4
Gliserin
Sweetening agent
≤ 20
10
10
5
Propilenglikol
Solvent
10 – 25
25
25
6
Aq. Menth pip
Essence
-
-
2 tts
7
Aqua Destilata
Solvent
-
Ad 100
Ad 100

H.    Dosis
Tiap 5 ml sirup mengandung Paracetamol.............................. 125mg
0-1 th   :           ½   Sendok Takar (2.5 ml) 3x sehari
1-2 th   :           1    Sendok Takar (5 ml) 3x sehari
6-9 th   :           2-3 Sendok Takar (10-15ml) 3x sehari
9-12 th :           3-4 Sendok Takar (15-20ml) 3x sehari

I.       Perhitungan
1.      Parasetamol                 =  
                        = 2,5 gram
2.      Sukrosa                       =
3.      Nipagin                       =
Aqua untuk nipagin    = 0,1 x 20 = 2 gram (ml)
4.      Gliserin                        =
5.      Propilen Glikol            =
6.      Aqua Ment Pip            = 2 tetes
7.      Aquadest                     = 100 – ( 2,5 + 40 + 0,1 + 2 + 10 + 25 )
= 100 – 79,6
= 20,4 gram ~ 20 gram ( ml )
J.      Prosedur Kerja





K.    Alasan Penggunaan Bahan

1.      Gliserin
Alasan : Bahan tambahan multifungsional (dalam hal ini dimaksudkan sebagai sweetening agent dan preservatif selain itu sebagai pemanis) diharapkan proses manufaktur menjadi lebih efektif selain itu mengurangi kemungkinan inkompatibiitas dengan bahan lain
2.              Sukrosa
Alasan : Sukrosa  membentuk  larutan  tidak  berwarna  yang  stabil  di  pH  4-8,  konsentrasi  tinggi memberikan  rasa  manis  yang  dapat  menutupi  rasa  pahit  /  asin  dari  beberapa  senyawa  obat, tidak  dapat  meningkatkan  viskositas,  tapi  memberi  tekstur  yang  menyenangkan  di  mulut.
Pemakaian  sukrosa  sering  dikombinasikan  dengan  sorbitol,  gliserin,  dan  poliol  yang  lain untuk mengurangi kemungkinan terjadinya kristal gula dalam penyimpanan. Sediaan sirup itu banyak  digunakan  untuk  obat  batuk.  Namun  kekurangannya  adalah,  pada  obat  yang  bergula yang digunakan dalam jangka waktu lama pada anak-anak bisa merusak gigi. Hati-hati untuk penderita  diabetes,  penggunaan  fruktosa  atau  hydrogen  glucose  syrup,  karena  fruktosa  juga akan diubah menjadi glukosa
3.              Nipagin
Alasan : penggunaan bahan pengawet secara kombinasi adalah dalam rangka untuk  meningkatkan kemampuan  spektrum  antimikroba,  efek  yang  sinergis  memungkinkan  penggunaan  pengawet dalam  jumlah  kecil,  sehingga  kadar  toksisitasnya  menurun  pula,  dan  mengurangi  kemungkinan terjadinya resistensi. Nipagin berfungsi sebagai pengawet pada rentang PH 4-8. PH ini masuk dalam PH sediaan yang di dinginkan.
4.              Propilenglikol
Alasan : dipilih propilenglikol karena propilenglikol dapat melarutkan parasetamol, dimana parassetamol agak sukar larut air.



BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

A.    Hasil
Evaluasi sediaan syrup paracetamol
1.      Uji oranoleptis
a.       Warna             : putih kekuninan
b.      Bau                  : khas mint
c.       Rasa               : Agak manis
d.      Bentuk            : Larutan
2.      Uji pH
Sediaan larutan diambil secukupnya, masukkan dalam beaker glaas lalu ambil alat tes ph, tekan tombol on masukkan ke dalam larutan dan ph menunjukkan 7,2.
3.      Uji BJ
Piknometer kosong ditimbang, lalu di isi aquadest sampai leher  piknometer, kemudian tutup dan lap tumpahannya lalu di timbang lagi dan kosongkan piknometer dan isi dengan larutan sampel dan timbang.
            Berat piknometer kosong                    :           30,685
            Berat piknometer + aquadest              :           80,486
            Berat piknometer + larutan sampel     :           86,184
            Berat jenis                                                      
                             =         
                             =    
                             =     1,114

4.      Uji viskositas
Viskometer di isi denan larutan sampel  (syrup) , masukkan viskometer ostwald dan usahakan sampai terendam oleh syrup, tekan tombol on dan hasil uji viskositas menunjukkan 10 mpas.
B.     Pembahasan
Praktikum kali ini, dilakukan pembuatan sediaan larutan. Larutan adalah sediaan cair yang mengandung bahan kimia terlarut, sebagai pelarut digunakan air suling kecuali dinyatakan lain. Sedangkan eliksir adalah sediaan berupa larutan yang mempunyai rasa dan bau sedap, selain obat mengandung juga zat tambahan seperti gula atau pemanis lain, zat warna, zat pewangi dan zat pengawet, dan digunakan sebagai obat dalam. (Moh. Anief, 2008).
Zat aktif yang digunakan dalam praktikum pembuatan larutan adalah Acetaminophenum dan bahan tambahan yang digunakan adalah glycerol, propilenglycol, Nipagin, Sukrosa, Aqua Menthae pio dan aquadestilata.
Parasetamol yang akan dibuat sediaan sirup untuk anak-anak yaitu sirup parasetamol non alkoholik. Masalah yang dihadapi dalam pembuatan larutan adalah kelarutan  parasetamol terhadap cairan pembawanya karena sediaan parasetamol non-alkoholik jadi pelarut atau cairan pembawa pengganti alkohol dapat menggunakan  propilen glikol dan gliserin walaupun memiliki kelarutan yang lebih rendah dibandingkan alkohol. Parasetamol yang memiliki struktur seperti di atas memiliki kelarutan dalam air (1:70), propilen glikol (1:9) dan gliserin (1:40). Pada saat  parasetamol dilarutkan dalam propilen glikol dan gliserin, parasetamol dapat larut dengan sempurna. Namun ketika suhunnnya kembali dingin, terjadi pengkristalan dengan ukuran partikel yang lebih besar karena ada  penggabungan antara partikel gula yang berasal dari gliserin dan propilen glikol dimana partikel kecil menempel pada partikel yang lebih besar. Karena rasa parasetamol yang pahit, maka ditambah bahan tambahan pemanis yaitu gliserin dan sukrosa.
Sediaan akhir yang sesuai dengan persyaratan menginginkan bahwa tidak ada pertumbuhan bakteri sampai waktu kadaluarsanya, sehingga penggunaan  pengawet sangat diperlukan. Pada praktikum ini pengawet yang kita gunakan adalah nipagin.
Evaluasi sediaan sirup yang mencakup evaluasi organoleptik (warna, rasa, bau), pH, berat jenis, dan viskositas. Hasil pengamatan organoleptik diperoleh warna putih agak kekuningan, uji pH diperoleh yaitu 7.2 hasil pH ini melampaui rentang Parasetamol dalam sediaan menurut AHFS drug Information 2008 yaitu 4 – 7, uji berat jenis diperoleh berat jenis sebesar 1.114 dan untuk uji viskositas diperoleh 10 mpas.





BAB IV
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Larutan adalah bentuk sediaan cair yang terdiri dari satu atau lebih zat kimia terlarut dan zat pelarut dalam suatu larutan. Perbedaan potio dan larutan (solutio) adalah potio merupakan sediaan cair untuk konsumsi obat secara oral, sedangkan larutan (solutio) merupakan sediaan cair yang bisa digunakan secara oral, topikan, parenteral dan sebagainya.
Sediaan paracetamol sirup yang dibuat memiliki kecenderungan bersifat mendekati netral pada uji pH diperoleh pH 7,2. Namun hal ini dikhawatirkan Paracetamol berubah bentuk menjadi garam dalam asam lambung sehingga sediaan yang diperoleh menjadi kurang baik untuk sediaan sirup Parasetamol.
B.     Saran
Sebagai tenaga kefarmasiaan kita harus mempelajari dan memahami tentang sediaan solutio. Karena sangat bermanfaat dalam dunia farmasi yang akan kita geluti dan juga lebih teliti dalam pemilihan bahan obat. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua. Meskipun  masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini kami mohon saran dan kritiknya.
















DAFTAR PUSTAKA

BNFC org. 2009. British National Formulary for Children. London : BMJ Publishing Group
Ltd
American Society for Hospital-System Pharmacist. 2008. AHFS Drug Information
Handbook. ASHP Inc. USA : Bethesda MD
A.L.Suryan,V. K. Bhusari, K. S. Rasal, and S. R. Dhaneshwar, “Simultaneous quantitation and validation of paracetamol, phenylpropanolamine hydrochloride and cetirizine hydrochloride by RP-HPLC in bulk drug and formulation,” International Journal of Pharmaceutical Sciences and Drug Research : vol. 3, pp. 303–308, 2011.
Anief. 2000. Ilmu Meracik Obat Teori dan Praktik. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press p. 25.
Ansel, Howard. C., 2008. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, Edisi Keempat (Introduction to Pharmaceutical Dosage Forms, 4 th Edition). Diterjemahkan oleh Farida Ibrahim, dkk. Jakarta : Universitas Indonesia Press.
Ditjen POM. 1979. Farmakope Indonesia. Edisi III. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.
Ditjen POM. 1995. Farmakope Indonesia. Edisi IV. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.
Katzung, B. G. 1994.  Farmakologi Dasar dan Klinik. Jakarta : EGC

Margareth, R.C., Marques, Cole, E., Kruep, D., Gray, V., Murachanian,D., Brown, W.E., dan Giancaspro. 2009. Liquid-filled Gelatin Capsules. Pharmacopeial Forum .July– Aug. 2009 :1032-1033.
Syamsuni, H.A. 2006. Ilmu resep. Jakarta: EGC Press




           





LAMPIRAN


                          
Gambar 1. Penimbangan              Gambar 2. Penimbangan                Gambar 3. Penimbangan
      Parasetamol                                  Nipagin                                          Propilenglikol

                          
Gambar 4. Peneimbangan           Gambar 5. Penimbangan              Gambar 6. Pelarutan PCT
sukrosa 20 gram pertama (2x)                       Gliserin                        dengan bahan tambahan

                      
Gambar 7. Uji pH                   Gambar 8. Uji BJ (Bobot              Gambar 9. Uji BJ
 Piknometer berisi air)                  (Bobot Piknometer kosong)
                       
                   
Gambar 10. Uji BJ                  Gambar 11. Uji Viskositas      Gambar 12. Hasil Uji
                                                                                                                   Viskoritas
   

Gambar 13. Design Product

No comments:

Post a Comment