Tuesday, May 12, 2015

makalah analgetik antipiretik



ANALGESIK

PENTALAKSANAAN NYERI
A.Definisi Nyeri
            Nyeri adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan yang berhubungan dengan adanya atau potensi kerusakan jaringan atau keadaan yang menggambarkan kerusakan tersebut.
B. Patofisiologi
   1. Nyeri Nosiseptif
          - Meliputi nyeri somatik (sumber nyeri berasal dari kulit, tulang, sendi otot atau jaringan
 penghubung) atau viseral (berasal dari organ dalam seperti usus besar atau pankreas).
- Perangsanga pada ujung saraf brbas yang dikenal denga istilah nosiseptor merupakan |
   tahap pertama yang mengawali timbulnya rasa nyeri. Reseptor ini dapat ditemukan di
   struktur viseral maupun somatik serta teraktivasi oleh rangsangan mekanis, termal
   (panas) , dan kimiawi. Pelepasan bradikinin, K+, prostaglandin, histamin, leukotrien, 
             serotonin dan “substance P” dapat menimbulkan kepekaan dan atau aktivasi nosiseptor.          Aktivasi reseptor mrnimbuklkan potensial aksi yang dihantarkan sepanjang serabur                    saraf aferen ke spinal cord (sumsum tulang belakang).
- Potensial aksi berlanjut dari sumsum tulang belakang ke cabang bagian belakang dan
                kemudian naik ke arah pusat yang lebih tinggi. Talamus beraksi sebagai stasiun
                pemancar dan meneruskan rangsangan ke struktur pusat yang akan memproses rasa
                nyeri lebih lanjut.     
- Tubuh mengatur rasa nyeri melalui beberapa proses. Contohnya adalah sisitem opiat
                endogen yang terdiri dari neurotransmitter (misal : enkepalin, dinorfin, dan B-endorfin)        dan reseptor yang ditemukan diseluruh sistem saraf pusat (SSP). Opioid endogen
                terikat pada reseptor opioid dan menghambat penghantaran rasa nyeri.
             - SSP juga mengandung suatu sistem desending untuk mengontrol penghantaran rasa
                nyeri. Sistem ini berawal dari otak dan dapat menghambat penghantaran nyeri simpatik       pada dorsal horn. Neurotransmitter penting yang terlibat meliputi opioid endogen,
                serotonin, norepinefrin, Gama amino butirat (GABA) dan neurotensin.
2. Nyeri Neuropatik
             - Nyeri neuropatik (kronis) terjadi akbiat pemrosesan inout sensorik yang abnormal oleh
                sistem saraf pusat atau perifer. Terdapat sejumlah besar sindrom nyeri neuropatik yang
                seringkali sulit diatasi (misal : nyeri punggung bawah, neuropati diabetik, postherpic
                neuralgia, nyeri akibat kanker, luka pada spinal cord (sumsum tulang belakang).
             - Kerusakan saraf atau rangsangan terus menerus dapat menyebabkan lintasan nyeri yang       menimbulkan rangsangan saraf secara spontamn, rangsangan nyeri saraf autono dan
                dapat meningkatkan pelepasan bahan-bahan dari saraf dorsal horn secara progresif.

II. PENGOLONGAN ANALGESIK

       Berdasarkan efek farmakologisnya, analgesik digolongkan menjadi :
       1. Analgesik Opioid
       2. Analgesik Non Opioid , digolongkan kembali menjadi :
           1. Analgesik -  Antipiretik
           2. Analgesik -  Antiinflamasi (AINS/NSAID)



 II.1 Analgesik Opioid
       - Morfin & Alkaloid Opium
         Contoh  : gol.fenantren : morfin, kodein ; gol.benzilisokinolin : noskapin, papaverin
         SSP        : Menimbulkan analgesia dan narkosis.
         Analgesia: Efek analgetika morfin dan opioid lain sangat selektif dan tidak disertai oleh
         hilangnya fungsi sensorik yaitu rasa raba, rasa getar, penglihatan dan pendengaran, bahkan
         presepsi stimulasi nyeri pun tidak selalu hilang setelah pemberian morfin dosis terapi. Yang
         terjadi adalah suatu perubahan reaksi terhadap stimulus nyeri yaitu penderita sering mengatakan
         bahwa nyeri masih ada tapi ia tidak menderita lagi.
         Efek analgetik morfin timbul berdasarkan 3 mekanisme :
         1. Morfin meninggikan ambang rangsang nyeri. Mekanisme ini berperan penting jika morfin
             diberikan sebelum terjadi stimulasi nyeri.
         2. Morfin dapat mempengaruhi emosi, artinya morfin dapat mengubah reaksi yang timbul di
             kortek serebri pada waktu persepsi nyeri diterima oleh korteks serebri dari talamus
         3. Morfin memudahkan tidur dan pada waktu tidur ambang rangsang nyeri meningkat.
         Dosis     : Morfin dosis kecil (5-10mg) menimbulkan euforia pada penderita nyeri dan disforia |
         pada  orang normal. 15-20mg morfin dapat mebuat orang cepat tertidur, napas lambat dan 
         miosis.
         Efek Samping : Idiosinkrasi dan alergi, Intoksikasi akut
         Toleransi, Adiksi dan Abuse : terjadi toleransi dan ketergantungan fisik setelah penggunaan
         berulang. Terjadi adiksi yang menyagkut fenomena : habituasi (perubahan psikis emosional
         sehingga penderita ketagihan akan morfin), ketergantungan fisik (kebutuhan akan morfin karena
         fungsi dan biokimia tubuh tidak berfungsi lagi tanpa morfin) dan toleransi.

       - Meperidin dan Derivat Fenilpiperidin Lain
        
Contoh              : Petidin
         SSP                   : Menimbulkan analgesia, sedasi, euphoria, depresi dan eksitasi
        
 Analgesia          : Efek analgetik piperidin mulai timbul 15 menit setelah pemberian oral dan mencapai puncak dalam 2 jam. Efek analgetika timbul lebih cepat setelah pemberian subkutan, atau intramusculus yaitu dalam 10 menit . Mencapai puncak dalam waktu 1  jam, masa kerja 3-5 jam.
Efek Samping            : Pusing, berkeringat, euforia, mulut kerung,mual, muntahperasaan lemah,  gangguan penglihatan, palpitasi, disforia, dan sedasi.
Adiksi dan Toleransi  : Toleransi terhadap efek depresi piperidin timbul lebih lambat dibanding dengan morfin. Penghentian obat secara tiba-tiba dapa mengakibatkan gangguan sisitejm saraf otonom yang lebih ringan.

- Propoksifen
Indikasi           :  propoksifen hanya digunakan untuk mengobati nyeri ringan hingga sedang, yang tidak cukup baik diredakan oleh asetosal. Kombinasi propoksifen bersama asetosal berefek sama kuat seperti kombinasi kodein bersama asetosal.







II.2 Analgesik Anti-Inflamasi Nonsteroid
                 Sebagian besar obat-obat AINS memiliki efek terapi maupun efek samping menghambat biosisntesis prostaglandin . Prostaglandin akan dilepaskan bilamana sel mengalami kerusakan. Obat AINS menghambat berbagai reaksi biokimiawi, hubungan efek analgesik,antipiretik.
Golongan obat AINS juga menghambat enzim siklooksigenase sehingga konfersi asam arakhidonat menjadi PGG2 terganggu. Setiap obat menghambat siklooksigenase secara berbeda-beda.
                 Gejala proses inflamasi yang sudah diketahui ialah kalor, lubor, tumor, dolor dan fungsiolesa. Selama berlangsungnya fenimena ini banyak mediator yang dilepaskan secara lokal antara lain histamin, lima-hidroksitriptamin (5HT), faktor kemotaktik, bradikinin, leukotrien dan prostaglandin.histamin dan bradikinin dapat meningkatkan permeabilitas vaskuler, tetapi efek vasodilatasinya tidak besar. Prostaglandin hanya berperan pada nyeri yang berkaitan dengan kerusakan jaringan atau inflamasi. Prostaglandin dapat menyebabkan sensitisasi reseptor nyeri terhadap stimulasi mekanik dan kimiawi, jadi prostaglandin dapat menyebabkan hyperalgesia kemudian mediator kimiawi seperti bradikinin dan histamin menimbulkan nyeri yang nyata.

EFEK ANALGESIK
      Sebagai analgesik, obat mirip aspirin hanya efektif terhadap nyeri dengan intensitas rendah sampai sedang seperti sakit kepala, miagia, atralgia dan nyeri lain yang berkaitan dengan inflamasi.
Efek analgesiknya lebih lama dari pada opiat. Tetapi berbeda pad aopiat , obat mirip aspiri tidak menimbulkan ketagihan dan tidak menimbulkan efek samping sentral yang merugikan.
nyeri akibat terpotongnya saraf aferen, tidak teratasi dengan obat mirip aspirin. Sebaliknya nyeri kronis pasca bedah dapat diatasi dengan obat mirip aspirin.

EFEK ANTIPIRETIK
      Sebagai antipiretik obat akan menurunkan suhu badan hanya pada keadaan demam, walaupun kebanyakan obat ini memperlihatkan efek antipiretik invitro, tidak semuanya berguna sebagai antipiretik karena bersifat toksik bila digunakan dalam jangka panjang.

EFEK ANTIINFLAMASI
      Kebanyakan obat mirip aspirin, terutama yang baru, lebih dimanfaatkan sebagai antiinflamasi pada pengobatan kelainan musculoketal, seperti atritis reumatoid, osteoatritis, dan spondilitis ankilosa. Tetapi harus diingat bahwa obat-obat mirip aspirin ini hanya meringankan gejala nyeri dan inflamasi yang berkaitan dengan penyakitnya secara simptomatik, tidak menghentikan, memperbaiki, atau mencegah kerusakan jaringan pada kelainan musculosketal ini.

EFEK SAMPING
      Efek samping yang sering terjadi adalah induksi tukak peptik yang kadang-kadang disertai anemia sekunder akibat perdarahan saluran cerna. Efek samping lainnya adalah gangguan fungsi trombosit akibat penghambatan biosintesis trombosan A2dengan akibat perpanjangan perdarahan.

Hormon-hormon dan mediator kimiawi yang berperan menimbulkan nyeri, demam dan inflamasi diantara lain :
a) Bila membran sel mengalami kerusakan oleh suatu rangsangan kimiawi, fisik, atau mekanis, maka enzim fosfolipase diaktifkan untuk mengubah fosfolipida yang terdapat disitu menjadi asam arachidonat. Asam arachidonat sebagian diubah oleh enzim siklo-oksigenase menjadi asam endoperoksida dan seterusnya menjadi zat-zat prostaglandin. Lalu sebagian lagi diubah oleh lipoxygenase menjadi zat-zat leukotrien. Baik prostaglandin maupun leukotrien bertanggung jawab sebagian besar dari gejala peradangan dan nyeri.

b) Siklooksigenase
      terdiri dari 2 sioenzim yakni COX-1 dan COX-2 dengan berat molekul dan daa enzimatis yang sama. COX-1 terdapat di kebanyakan jaringan antara lain pelat-pelat darah, ginjal, dan saluran cerna. COX-1berperan dalam pemeliharaan perfusi ginjal, hemostatis vaskuler, dan melindungi lambung dengan jalan membentuk bikarbonat dan lendir serta menghambat produksi asam. COX-2 dalam keadaan normal tidak terdapat dalam jaringan tetapi dibentuk oleh sel-sel radang selama proses peradangan, kadarnya dalam sel meningkat selama 80kali. Penghambatan COX-2 lah yang memberikan NSAID antiradangnya.

c) penghambatan COX-1
             penghambatan COX-1 menghindari pembentukan protacycline (PgI2) yang berdaya melindungi mukosa lambung dan ginjal, sehingga demikian bertanggung jawab untuk efek samping iritasi lambung usus. Atas dasarperbedaan ini maka dikembangkan NSAID selektif, yang terutama menghambat COX-2, dan kurang atau tidak mempengaruhi COX-1, sehingga Pgi2 tetap dibentuk dan iritasi lambung usus dihindari. Obat ini dinamakan penghambat COX-2 selektif yang kini dikenal adalah senyawa-senyawa coxib antara lain celecoxib, rofecoxib, valdecoxib, parecoxib, dan etorixoxib. Dua obat dengan selektifitas kurang tuntas adalah nabumeton, dan meloksikam.

PENGGOLONGAN PROSTAGLANDIN

Jenis prostaglandin yang dikenal ada tiga kelompok yakni:
a. prstaglandin A-F (PgA-PgF) yang terpenting adalah PgE2 dan PgF2. Zat-zat ini berdaya meradang dengan jalan vasodilatasi dan peningkatan permeabilitas pembuluh dan membran senovial. Selainitu reseptor nyeri disensibilisasi dari mediator lain (histamin,bradikinin, dll) diperkuat. Sendirinya zat ini tidak mengakibatkan nyeri.

*PgE2 berkhasiat menstimulasi pertumbuhan tumor dan terdapat kadar tinggidi mukosa usus. Penghambatan sintesanya untuk waktu yang lama menghasilkan efek antitumor kuat terhadap kanker diusus besar dan rektum.

b. prostasiklin (PgI2) dibentuk terutama didinding pembuluh berdaya vasodilatasi dan antitrombosit juga memiliki efek protektik terhadap mukosa lambung.

c. tromboksan (TxA2, TxB2) khusus dibentuk dalam trombosit. Berdaya vasokontriksi (antara lain dijantung) dan menstimulasi agregasi platelet darah.

Dalam otak prostaglandin dibentuk sebagai reaksi zat-zat pirogen yang berasal dari bakteri (infeksi) prostglandin ini menstimulasi pusat regulasi suhu di hipotalamus dan menimbulkan demam.
Dirahim prostaglandin mengakibatkan kontraksi dengan terjadinya kekurangan darah (iskemia) dari otot rahim, yangmenimbulkan nyeri hebat keadaan ini timbul selama gangguan haid (disminore), dimana kadar prostaglandin di endometrium sangat meningkat. Akibatnya, reseptor di rahim di sensibilisasi, yang menyebabkan kontraktilitas berlebih dan nyeri mirip kolik. Selain itu zat ini juga dapat mengakibatkan nyeri kepala, nausea (mual) muntah, dan diare, yang intensitasnya berhubungan langsung dengan kadar prostaglandin.








No comments:

Post a Comment