Showing posts with label Industri. Show all posts
Showing posts with label Industri. Show all posts

Tuesday, March 1, 2022

TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB APOTEKER PENANGGUNG JAWAB

 APOTEKER PENANGGUNG JAWAB

I.        TUJUAN JABATAN

Mengelola kegiatan perbekalan dari datang sampai sediaan  narkotika, psikotropika dan prekursor (NPP) didistribusikan ke unit farmasi lain. Pengelolaan sediaan  NPP  dimulai dari pengadaan, penerimaan, penyimpanan yang sesuai standar yang dipersyaratkan oleh Quality Control pabrik dan pedoman teknis cara distribusi obat yang baik, serta penyaluran obat  dan atau bahan obat yang benar.  Dan semua proses yang dilakukan didokumentasikan dengan baik sebagai bahan untuk telusur.  Sehingga pada akhirnya kwalitas sediaan NPP dapat dijaga sampai ke pengguna.

 

II.     TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB

 

Tugas :

 

a)        Melakukan pekerjaan kefarmasian (pengendalian mutu sediaan NPP, pengamanan, pengadaan, penyimpaan dan pendistribusian/ penyaluranan obat, pengelolaan obat, pelayanan informasi obat)

b)        Menjalankan ketentuan cara distribusi  obat yang baik yang ditetapkan oleh Kepala BPOM saat melakukan pekerjaan kefarmasian dalam distribusi atau penyaluran sediaan NPP, termasuk pencatatan segala sesuatu yang berkaitan dengan proses distribusi atau penyaluran sediaan farmasi.

c)         Membuat dan memperbaharui SOP (Standard Operational Procedure) serta Instruksi Kerja (IK) yang diterapkan dalam pekerjaan di dalam pelaksanaan cara distribusi  obat yang baik.

Tanggung Jawab :

a)      Menyusun, memastikan dan mempertahankan penerapan sistem manajemen mutu

Dalam menyusun , memastikan  dan mempertahankan mutu,  apoteker berperan aktif dalam menyusun sistem mutu yang mencakup tanggung jawab, proses dan langkah manajemen risiko terkait dengan kegiatan yang dilaksanakan. Dimulai dengan peran menyusun SOP (Standard Operational Prosedure)  terkait distribusi narkotika psikotropika dan precursor (NPP), sampai implementasinya. Apoteker harus mendokumentasikan semua kegiatan sehingga dapat dipantau efektivitasnya.

 

 

 

b)      Fokus pada pengelolaan kegiatan yang menjadi kewenangannya

Dengan adanya sistem mutu maka wewenang dan tanggung jawab apoteker menjadi jelas sehingga kinerja apoteker dapat dinilai. Fokus menjadi kata kunci pengelolaan kegiatan dan tidak ada lagi tumpang tindih wewenang. Dalam kegiatan distribusi dapat dipilah dimana saja apoteker  berperan sehingga aspek kontrol semua kegiatan dapat dijaga. Sebagai contoh dalam validasi surat pesanan apoteker bertugas sebagai “validator” apakah surat pesanan (SP narkotika/ psikotropika/ precursor) tersebut memenuhi persyaratan baik kualitas maupun kuantitasnya (surat pesanan lengkap dan benar serta jumlah yang diminta wajar). Demikian juga di proses akhir distribusi apoteker harus berperan sehingga proses distribusi dapat berjalan dengan benar sehingga kualitas yang didistribusikan tetap terjaga.

c)       Mengelola program pelatihan personil yang terkait dalam kegiatan distribusi

Peran apoteker yang paling penting dalam menjaga sistem mutu adalah melatih personil sehingga personil pelaksana dapat menjalankan operasional sesuai dengan SOP dan menghasilkan proses yang benar. Sehingga setiap personil memahami proses distribusi narkotika, psikotropika dan precursor, yang baik dan benar, Pengelolaan pelatihan personil harus dilakukan secara kontinue dan terprogram dan dapat dievaluasi efektivitasnya. Perlu didokumentasikan progress hasil pelatihan termasuk penilaian kinerja personil dalam menjaga kompetensinya.

d)      Mengkoordinir kegiatan penarikan obat

Apoteker penanggung jawab sesuai kewenangannya, harus melaksanakan penarikkan obat (narkotika/ psikotropika/ precursor), baik yang mandatory (wajib) atau volountary (sukarela) sangat vital. Proses penarikan perlu dilakukan dengan gerak cepat  dan segera, dengan tujuan mencegah obat yang dikonsumsi masyarakat sehingga bahaya yang ditimbulkan bisa diminimalisir. Dalam penarikkan obat ini, Apoteker harus mengoptimalkan koordinasi dengan produsen, principal dan regulator.

 

e)       Mengawasi penanganan keluhan pelanggan

Dalam mengevaluasi sistem mutu berjalan dengan baik , keluhan dari pelanggan bisa menjadi barometer .Tugas apoteker dalam menangani keluhan adalah mencatat dan mendokumentasikan keluhan selanjutnya memilah keluhan mana saja dan ditujukan kepada siapa. Sebagai apoteker posisinya mempresentasikan sebagai wakil dari poduk (narkotika/ psikotropika/ precursor) yang didistribusikan serta menjaga pelayanan yang dijanjikan ke konsumen. Keluhan terhadap mutu produk selanjutnya dikoordinasikan dengan principal dan produsen sedangkan untuk pelayanan jasa distribusi harus segera dievaluasi dan diperbaiki sehingga keluhan pelanggan bisa diminimalisir.

f)       Melakukan kualifikasi pemasok dan pelanggan

Tugas apoteker yang utama dalam kualifikasi pemasok dan pelanggan adalah melakukan screening sehingga dapat dipastikan pemasok atau pelanggan mempunyai izin sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku serta mengikuti prinsip CDOB. Kualifikasi pemasok dan pelanggan harus dilakukan berulang bukan hanya meminta salinan perizinan tetapi memantau proses transaksi jika ada penyimpangan. Dokumentasi perizinan berikut identitas/ specimen data pemasok dan pelanggan diarsipkan dengan baik, sehingga jika dibutuhkan mudah dilakukan penelusuran.

g)      Meluluskan obat/bahan obat kembalian untuk dikembalikan ke stok

Dalam praktek proses distribusi selalu ada barang (narkotika/ psikotropika/ precursor), kembalian dari pelanggan baik itu salah pemesanan ataupun pengembalian dikarenakan obat sudah mendekati Expire Date. Proses retur yang dilakukan harus sesuai dengan persyaratan retur yang ditetapkan perusahaan. Apoteker bertugas untuk memeriksa sekaligus meluluskan atau tidak meluluskan barang kembalian dari pelanggan. Tentunya ada dua fokus yang harus diperiksa yaitu kemasan, nomor batch dan tanggal expire date. Apoteker juga bertugas untuk memutuskan barang kembalian dari pelanggan yang telah lulus dapat dikategorikan layak jual dan kembali sebagai stok. Tentunya ada dua fokus yang harus diperiksa yaitu kemasan, nomor batch dan tanggal expire date.

h)      Mendelegasikan tugasnya kepada apoteker/tenaga teknis kefarmasian jika berhalangan.

Dalam melaksanakan tugasnya apoteker bisa saja mendelegasikan tugas dan wewenangnya kepada apoteker supervisi atau tenaga kefarmasian lainnya apabila berhalangan. Hal tersebut dimungkinkan dengan memberi wewenang terbatas sehingga proses distribusi tidak terganggu. Semua pedoman pendelegasian mengacu kepada SOP (Standard Operational Procedure) sehingga terjaga dan dapat dipertanggung jawabkan.

i)        Turut serta dalam pengambilan keputusan untuk karantina atau pemusnahan obat/bahan obat.

Dalam praktek distribusi obat menyisakan satu risiko yang hanya bisa diminimalisir yaitu kerusakan obat (narkotika/ psikotropika/ precursor). Kerusakan obat bisa saja terjadi akibat penerimaan, penyimpanan dan distribusi yang salah. Belum termasuk obat yang expire date karena tidak bisa dipasarkan. Tugas apoteker dalam hal ini memisahkan obat dengan kategori rusak/ED di tempat terpisah (dikarantina) supaya tidak bercampur dengan obat yang baik dan layak jual, dengan diberi penandaan yang jelas untuk menghindari penyalahgunaan dan dampak terhadap kesehatan dan lingkungan.Selanjutnya setelah mendapat persetujuan dari managemen, obat dapat dimusnahkan sesuai ketentuan yang berlaku dengan dibuatkan berita acara dan disaksikan oleh BPOM dan Dinkes setempat. Pelaksanan pemusnahan mengacu kepada SOP (Standard Operational Procedure) sehingga terjaga dan dapat dipertanggung jawabkan.

j)       Memastikan pemenuhan persyaratan obat 

Tugas apoteker yang terpenting dalam mendistribusikan obat (narkotika/ psikotropika/ precursor) adalah memastikan pemenuhan persyaratan obat meliputi : berasal dari pemasok yang mempunyai izin sesuai ketentuan yang berlaku dan menerapkan kaidah CDOB. Memastikan pasokan obat mempunyai izin edar yang berlaku, tidak rusak /mengalami perubahan  selama penerimaan/transportasi, tidak kadaluarsa atau mendekati kadaluarsa serta nomor batch sesuai dengan yang tertera di dokumen. Selama penyimpanan apoteker wajib mengikuti aturan penyimpanan utamanya persyaratan suhu penyimpanan dan tidak bercampur dengan produk lain yang dapat memungkinkan terjadinya kontaminasi silang. Penyimpanan selama masa pendistribusian harus tetap dipenuhi seperti dalam proses penyimpanan. Terutama persyaratan suhu penyimpanan dan tidak bercampur dengan produk lain yang dapat memungkinkan terjadinya kontaminasi silang, sehingga mutu obat dapat dijaga hingga ke pelanggan

Sunday, August 23, 2020

Apoteker Penanggung Jawab

PENDAHULUAN      

    Pedagang Besar Farmasi adalah perusahaan berbentuk badan hukum yang memiliki izin untuk melaksanakan proses pengadaan, penyimpanan, penyaluran obat dan/atau bahan obat dalam jumlah besar sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

        Apoteker adalah sarjana farmasi yang telah lulus sebagai apoteker dan telah mengucapkan sumpah apoteker (PP 51, 2009 ; Permenkes RI, 2014). 

        Acuan Apoteker dalam melaksanakan tugasnya di bidang distibusi Farmasi yaitu CDOB (Cara Distribusi Obat yang Baik). CDOB adalah cara distribusi atau penyaluran obat dan/atau bahan obat yang bertujuan untuk memastikan mutu sepanjang jalur distribusi atau penyaluran sesuai dengan persyaratan dan tujuan penggunaannya. Dalam CDOB ada beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu manajeman mutu, organisasi, manajeman dan personalia, bangunan dan peralatan, operasional, inspeksi diri, keluhan, obat dan/atau bahan obat kembalian, diduga palsu dan penarikan kembali, transportasi, fasilitas distribusi berdasar kontrak, dan dokumentasi.


Tuesday, June 13, 2017

ALASAN PEMILIHAN BAHAN - sundy

ALASAN PEMILIHAN BAHAN
1.      Alpha tocoferol
Fungsinya : Sebagai antioksidan Alasan penambahan : Digunakan tocoferol sebagai antioksidan karena tocoferol mempunyai kemampuan untuk mencegah oksidasi dari lemak dan minyak yang dapat menyebabkan bau tengik pada sediaan dan tocoferol juga dapat berfungsi sebagai vitamin E, sehingga dapat menambah asupan vitamin.
2.      Asam benzoate
Fungsinya : Sebagai pengawet Alasan penambahan : Digunakan asam benzoate sebagai pengawet karena baik untuk  penggunaan oral dan tidak OOT dengan bahan lain
3.      Asam sitrat
Fungsinya : Sebagai penambah rasa Alasan penambahan: Dapat memberikan sensasi asam pada sediaan sehingga rasa tidak enak pada minyak ikan dapat ditutupi oleh asam sitrat dan memberikan sensasi rasa jeruk
Menurut EXP hal. 140-141
   Asam sitrat digunakan sebagai penambah rasa karena asam tart monohidrat. Asam sitrat juga digunakan sebagai agen sugestering dan anti oksidan sinergis itu adalah komponen sitrat antikoagulat.
-  Menurut Ansel hal. 32
   Asam sitrat digunakan sebagai sumber perencah dan rasa pahit.
-  Menurut Martindale hal. 559
   Asam hidrat / asam sitrat monohidrat digunakan sebagai untuk meningkatkan efek anti oksidan.
-  Menurut www.unhas .co.id
   Asam sitrat digunakan sebagai bahan pengasam. Asam sitrat menurunkan pH medium, menstabilkan warna, memberikan flavor (rasa) tertentu mengikat logam Fe dan Mg dan menghambat pertumbuhan mikroba.
-  Menurut RPS 18th hal. 132.
   Kelarutan 1 gram dalam air 0,5 mg alcohol atau sekitar 300 ml eter larut dalam etanol bebas menggunakan dalam antikoagulan sitrat preparation dari solusi dekstrose antikoagulan sitrat, phosphate, sitrat, antikoagulan.

4.      BHT
Kegunaan                    : hydroxytoluene Butylated digunakan sebagai antioksidan di dalam kosmetika, makanan, dan obat-obat dalam farmasi. Yang sebagian besar digunakan untuk penundaan atau mencegah ketengikan oksidatif lemak-lemak dan minyak dan untuk mencegah hilangnya aktivitas vitamin pada minyak yang terlarut.
5.      Gliserin
Fungsinya : Sebagai stabilisator emulsi dan kosolven Alasan penambahan: Digunakan gliserin dalam formulasi karena gliserin memiliki multi fungsi selain sebagai stabilisator emulsi, gliserin juga dapat berfungsi sebagai pengawet, pemanis, dan juga dapat meningkatkan viskositas
6.      Nipagin
Nipagin (pengawet fase air) dipilih dalam formulasi ini karena nipagin meningkatkan stabilitas sediaan dengan mencegah timbulnya kontaminasi mikroorganisme .Penggunaan aquades dalam sediaan emulsi menyebabkan  sediaan bersifat menjadi basa sehingga memicu tumbuhnya bakteri  sehingga nipagin disini berfungi sebagai pengawet dan antioksidan.
7.      Nipasol
Nipasol( pengawet fase minyak)  dipilih karena sebagai bahan pengawet bila dikombinasikan dengan nipagin akan memberikan fungsi sebagi anti mikroba yang optimal.
8.      Pasta orange
Fungsinya : zat pewarna 
9.      PGA
Fungsinya : Sebagai emulgator dengan konsentrasi 10-20 % Alasan penambahan: Dipilih gom arab, karena memiliki daya sebagai emulgator yang  baik sehingga dapat menghasilkan emulsi yang baik, serta viskositas yang dihasilkan cukup tinggi
10.  Sirupus simplex
Fungsinya : Sebagai pemanis
Alasan penambahan: Digunakan untuk menutupi rasa tidak enak dari zat aktif serta untuk meningkatkan penerimaan konsumen. Penambahan sirupus simplex juga dapat menaikkan viskositas dari sediaan
11.  Sukrosa
-  Menurut Ansel hal. 328
   Sukrosa adalah gula yang paling sering digunakan dalam sirup-sirup walaupun dalam keaadan khusus dapat diganti sirup-sirup walaupun seluruhnya atau sebagian dengan gula-gula lainnya seperti dextrose, atau bukan seperti gliserin, sorbitol dan propilenglikol.
-  Menurut OOP hal. 833
   Sukrosa (sakarosa – gula putih) terdiri dari 1 mol fruktosa laktosa (gula susu) 1 glukosa dan maltosa (gula malt) 2 molekul glukosa dalam usus. Zat ini dihidrolisa oleh enzim menjadi monosakarida.
-  Menurut EXP
   Sukrosa digunakan dalam formulasi farmasi. Sukrosa sirup mengandung 50-67 % w/w sukrosa sirup digunakan sebagai kendaraan dalam bentuk sediaan cairan oral untuk meningkatkan viskositas.
-  Menurut R. Voight hal. 392
   Kandungan sirup yang tercantum dalam FI adalah 60, 65% akan tetapi umumnya diantara 60 dan 65%, hal ini berkaitan dengan daya tahan sediaannya larutan gula yang jenuh (kira-kira 60%) tidak memungkinkan pembentuk jarum oleh karena larutan berkonsentrasi tinggi air yang diperlukan bagi perkembangbiakan mikro organisme akan hidup melalui proses osmosis.
-  Menurut RPS 18th hal. 1298
   Persiapan komersial dari tebu. Tebu adalah satu-satunya sumber. Tetapi saat ini akan beta vulgaris digunakan sebagian besar di eropa digunakan terutama untuk memberikan viskositas dan konsentrasi cairan. Kelarutannya : 1 gr dalam 0,5 ml air. 170 ml dalam alcohol atau lebih baik sedikit 0,2 ml dalam air panas, tidak larut dalam kloroform.
12.  Talkum
-  Menurut R. Voight hal. 115
   Talk adalah mg.hidroksi alam yang terasa seperti lemak. Talk netral secara kimia, tidak larut dalam air dan asam sebagai komponen utama bubuk. Talk memiliki daya mengalir dan lekat baik, penambahan talk mampu memperbaiki daya mengalir basis lainnya.
-  Menurut EXP hal. 555
   Talk adalah zat tambahan yang digunakan untuk memodifikasi cairan dan juga digunakan terutama untuk itu adalah property, pelumas, kosmetik dan produk makanan.
-  Menurut RPS 18th hal.1327
   Bila digunakan sebagai media filtrasi yang mengklasifikasi bentuk bubuk kasar lebih disukai dari pada dibagian, meminimalkan pori-pori kertas filter untuk tujuan ini mungkin digunakan untuk semua kelas tanpa persiapan bahaya resistensi absorbsi atau prinsip-prinsip aktif.
13.  Tinctur Kulit Jeruk
-  Menurut RPS 18th hal.1296
   Pembuatan kulit jeruk secara bertahap ditambahkan 400 ml dan air murni kemudian disaring kembali bagian pertama filtrate ad menjadi jelas dan mencuci mortar dan filter dengan air yang cukup untuk membuat filtrat ukuran 450 ml membubarkan sukrosa dalam filtrat ini oleh agitas tanpa pemanasan dalam melembabkan.
   Catatan : tidak menggunakan terlebih thym syrup yang memiliki bau atau rasa atau menunjukkan dari kerusakan.
-  Menurut Ansel hal. 327
   Sirup dengan bahan sukrosa ini mengandung tingtur kulit buah jeruk manis. Asam sitrat sebagai sumber utama perencah dan rasa pahit. Rasa sirup ini adalah mirip sari jeruk manis dan merupakan pembawa yang baik untuk obat-obat stabil dalam media asam.
-  Menurut Parrot hal. 172
   Sirup jeruk adalah contoh suatu sirup yang disiapkan perdagan tanpa panas. Jeruk yang manis mengupas larutan obat dalam alcohol dan asam sitrat berkenaan dengan jeruk bercampur dengan talk dan membersihkan air secara angsur-angsur ditambah dengan peradangan serviks. Talk akan didistribusikan oleh minyak jeruk dan untuk menopang hasil filtrate. Campuran disaring dan sukrosa ditambahkan kedalam air jaringan panas dihindarkan untuk menghindari menguapnya kulit jeruk.

14.  Natrium Sitrat
Menurut Farmakologi dan terapi hal.813
Natrium sitrat dalam darah akan meningkat, kalsium menjadi kompleks kalsium sitrat. Bahan ini banyak digunakan dalam darah untuk transfuse darah karena tidak toksik.

ZAT TAMBAHAN
  Zat untuk memperbaiki konsistensi Konsistensi sediaan topical diatur untuk mendapatkan bioavabilitas yang maksimal, selain itu juga dimaksudkan untuk mendapatkan formula yang “estetis” dan “acceptable”. Konsistensi yang disukai umumnya adalah sediaan yang dioleskan, tidak meninggalkan bekas, tidak terlalu melekat dan berlemak. Hal yang penting lain adalah mudah dikeluarkan dari tube. Perbaikan konsistensi dapat dilakukan dengan mengatur komponen sediaan emulsi diperhatikan ratio perbandingan fasa. Untuk krim adalah jumlah konsentrat campuran zat pengemulsi.
2.     Zat pengawet.
Pengawet yang dimaksudkan adalah zat yang ditambahkan dan dimaksudkan untuk meningkatkan stabilitas sediaan dengan mencegah terjadinya kontaminasi mikroorganisme. Karena pada sediaan krim mengandung fase air dan lemak maka pada sediaan ini mudah ditumbuhi bakteri dan jamur. Oleh karena itu perlu penambahan zat yang dapat mencegah pertumbuhan mikroorganisme tersebut. Zat pengawet yang digunakan umumnya metil paraben 0.12 % sampai 0,18 % atau propil paraben 0,02% - 0,05 %.
3.     Pendapar
Pendapar dimaksudkan untuk mempertahankan pH sediaan untuk menjaga stabilitas sediaan. pH dipilih berdasarkan stabilitas bahan aktif. Pemilihan pendapar harus diperhitungkan ketercampurannya dengan bahan lainnya yang terdapat dalam sediaan, terutama pH efektif untuk pengawet. Perubahan pH sediaan dapat terjadi karena: perubahan kimia zat aktif atau zat tambahan dalam sediaan pada penyimpanan karena mungkin pengaruh pembawa atau lingkungan. Kontaminasi logam pada proses produksi atau wadah (tube) seringkali merupakan katalisator bagi pertumbuhan kimia dari bahan sediaan.
4.     Pelembab
Pelembab atau humectan ditambahkan dalam sediaan topical dimaksudkan untuk meningkatkan hidrasi kulit. Hidrasi pada kulit menyebabkan jaringan menjadi lunak, mengembang dan tidak berkeriput sehingga penetrasi zat akan lebih efektif. Contoh zat tambahan ini adalah: gliserol, PEG, sorbitol.
5.     Pengompleks (sequestering)
Pengompleks adalah zat yang ditambahkan dengan tujuan zat ini dapat membentuk kompleks dengan logam yang mungkin terdapat dalam sediaan, timbul pada proses pembuatan atau pada penyimpanan karena wadah yang kurang baik. Contoh : Sitrat, EDTA, dsb.
6.     Anti Oksidan
Antioksidan dimaksudkan untuk mencegah tejadinya ketengikan akibat oksidasi oleh cahaya pada minyak tidak jenuh yang sifatnya autooksidasi, antioksidan terbagi atas : a. Anti oksidan sejati (anti oksigen) Kerjanya: mencegah oksidasi dengan cara bereaksi dengan radikal bebas dan mencegah reaksi cincin. Contoh: tokoferol, alkil gallat, BHA, BHT. b. Anti oksidan sebagai agen produksi. Zat-zat ini mempunyai potensial reduksi lebih tinggi sehingga lebih mudah teroksidasi dibandingkan zat yang lain kadang–kadang bekerja dengan cara bereaksi dengan radikal bebas. Contoh; garam Na dan K dari asam sulfit. c. Anti oksidan sinergis. Yaitu senyawa yang bersifat membentuk kompleks dengan logam, karena adanya sedikit logam dapat merupakan katalisator reaksi oksidasi. Contoh: sitrat, tartrat, EDTA.

7.     Peningkat Penetrasi. Zat tambahan ini dimaksudkan untuk meningkatkan jumlah zat yang terpenetrasi agar dapat digunakan untuk tujuan pengobatan sistemik lewat dermal (kulit).

Thursday, January 5, 2017

TINJAUAN BAHAN

TINJAUAN BAHAN

1.      ACETAMINOPHENUM
Nama lain        : asetaminofen, parasetamol
Pemerian         : hablur atau serbuk hablur putih, tidak berbau, rasa pahit.
Kelarutan        : larut dalam 70 bagian cair, dalam 7 bagian etanol (95%) P, dalam 13 bagian aseton P, dalam 40 bagian gliserol P dan dalam 9 bagian propilenglikol P, larut dalam larutan alkali hidroksida.
Kemurnian      : asetaminofen mengadungan tidak kurang dari 98,0% dan tidak lebih dari 101,0% C8H9NO2 n dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan.
BM                  : 151,16
Titik lebur        : 169o sampai 172o
Khasiat            : analgetikum, antipiretik
Struktur kimia
Rumus molekul
C8H9NO2
Nama
Paracetamol
Nama lain
Acetaminofhen
Nama kimia
n-acetil-4-aminofenol
Berat molekul
151,16
Pemerian
Serbuk hablur,putih,tidak berbau,rasa pahit (FI III,hal 32)
Suhu lebur
1690C-1720C
pH
Antara 5,3 dan 6,5 (codek hal 988)
Kelarutan
Larut dalam 70 bagian air,7 bagian etanol,13 bagian aceton,40 bagian glicerol,9 bagian propilen glikol,larut dalam larutan alkali hidroksida
Stabilitas
-        Terhidrolisis pada ph minimal 5-7
-        Stabil pada temperatur 450C (dalam bentuk serbuk)
-        Dapat terdegradasi oleh quinominim dan terbentuk warna pink,coklat dan hitam
-        Relatif stabil terhadap oksidasi
-        Menyerap uap air dalam jumlah tidak signifikan pada suhu 250C dan kelembaban 90%
-        Tablet yang dibuat granulasi basah menggunakan pasta gelatin tidak dipengaruhi oleh kelembaban tinggi dibandingkan menggunakan povidon
(codek hal 988)
Inkompatibilitas
Inkompatibilitas  terhadap permukaan nilon dan rayon (codek hal 988)
Penyimpanan
Dalam wadah tertutup rapat,tidak tembus cahaya (FI IV,hal 650)
Daftar pustaka
FI III,hal 32
FI IV,hal 650
codek hal 988-989

2.      AMYLUM
Struktur kimia
Rumus molekul
[C16H10O5]n . dimana n= 300 – 1000
Nama kimia
Starch [9005 – 25 -8]
Berat molekul
300 – 1000 tergantung jenis amylum
Pemerian
Amylum tidak berbau tidak berasa ,warna putih sampai putih tua ,serbuk halus
Kelarutan
Praktis tidak larut dalam etanol 96%dan dalam air dingin.pati mengembang seketika dalam air sekitar 5 – 10 % pada 378C .pati menjadi larut dalam air panas pada suhu diatas suhu gelatinasi.
Stabilitas
Pati kering stabil jika dilindungi dari kelembaban tinggi.pati dianggap sebagai bahan kimia dan mikrobiologi pada kondisi  penyimpanan dibawah normal .larutan amilum atau atau pasta amylum tidak stabil dan mudah dimetabolisme oleh microorganisme,karena itu untuk granulasi basah harus selalu dibuat baru. Pati harus disimpan dalam wadah kedap udara di tempat sejuk dan kering
Inkompatibilitas
Pati tidak kompatibel dengan zat pengoksidasi kuat. Berwarna
senyawa inklusi terbentuk dengan yodium
Penyimpanan
Dalam tempat sejuk dan kering    
Kegunaan
Desintegran  3 – 25 %
Daftar pustaka
HOPE 6th edisi 2009 hal 686 – 691

3.      AQUA DESTILATA
Nama lain        : air suling,
Rumus kimia   : H2O
Pemerian         : cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak mempunyai rasa.
Kelarutan        : air suling dibuat dengan menyuling air yang dapat diminum.
Khasiat            : pelarut
4.      AQUA MENTHAE PIPERATE
Nama lain        : pepernuntwater, air permin
Kocok
Satu bagian minyak perrmin........................................1
Dengan kuat-kuat dengan
Sembilan puluh sembilan bagian Air suamkuku.........99
Tambahkan sesudah didinginkan. Dengan mengocok bagian demi bagian.
Sembilan ratus bagian air..........................................900
Zat cair yang sedikit keruh.
Khasiat            : zat tambahan

5.      GLYSEROLUM
Nama lain        : gliserin, gliserol
Rumus kimia   : C8H8O3
Pemerian         : cairan seperti sirup, jernih, tidak berwarna, tidak berbau, manis diikuti rasa hangat, higroskopik. Jika disimpan beberapa lama pada suhu rendah dapat memadat membentuk massa hablur tidak berwarna yang tidak melebur hingga suhu mencapai lebih kurang 20o
Kelarutan        : dapat campur dengan aor, dan dengan etanol (95%) P, praktis tidak larut dalam kloroform P, dalam eter P dan dalam minyak lemak.
BM                  : 92,10
Khasiat                        : zat tambahan
6.      LACTOSA ANHYDROUS
Struktur molekul







Rumus molekul
C12H22O11
Nama kimia
O-ÎČ-D-galactopyranosyl-(1 Ă  4)-ÎČ-D-glucopyranose
Berat molekul
342,30
Pemerian
Laktosa anhidrat adalah serbuk atau partikel kristal berwarna putih, rasa manis, tidak berbau.
Suhu Lebur
2320C
Kelarutan
Larut dalam air, sedikit larut dalam ethanol 95% dan eter.
Density
1,589 g/cm3
Stabilitas
Laktosa dapat berubah warna menjadi kecoklatan dalam penyimpanan. Hal tersebut dapat disebabkan oleh panas, kondisi lembab yang kelembabannya hingga 80%.
Inkompatibilitas
Laktosa anhidrat inkompatibel dengan oksidator kuat. Dapat mengalami reaksi maillard dengan amin primer dan sekunder bila disimpan dalam kondisi kelembaban tinggi pada waktu tertentu.
Penyimpanan
Dalam wadah tertutup di tempat sejuk dan kering.
Kegunaan
Tablet filler atau diluent atau pengisi.
Pustaka
Handbook of Pharmaceutical Exipient Halaman 359 – 361



7.      MAGNESIUM STEARAT
Struktur kimia
Rumus molekul
C36H70MgO4
Nama kimia
Octadecanoic acid magnesium salt [557-04-0]
Berat molekul
591,29
Pemerian
Serbuk halus berwarna putih,bau samar rasa khas
Kelarutan
Praktis tidak larut dalam etanol,etanol 95%,eter dan air ,sedikit larut dalm benzen hangat,dan etanol hangat 95%
Stabilitas
Magnesium stearat stabil dan dapat disimpan dalam wadah tertutup rapat dan kering
Inkompatibilitas
Inkompatibel dengan asam kuat,basa, garam besi.Hindari pencampuran dengan bahan yang teroksidasi kuat.Mg stearat tidak dapat digunakan dalam produk yang mengandung aspirin,beberapa vitamin dan garam besi
Penyimpanan
Disimpan dalam wadah tertutup rapat dan disimpan dalam tempat sejuk dan kering
Kegunaan
Lubricant,0,25 % - 5,0 %
Daftar pustaka
HOPE 6th edisi 2009 hal 404 – 405

8.      METHYLIS PARABENUM
(Rowe, 2009; FI IV,  Hal : 551)
Nama Resmi                :    Methyl  Hydroxybenzoate
Nama lain                    :    Metil Paraben, nipagin, Methyl-4-hydroxybenzoate
RM/BM                       :           C8H8O3 / 152.15
Pemerian                          :  Serbuk  hablur  putih,  hampir tidak berbau, tidak mempunyai rasa,     kemudian agak membakar diikuti rasa tebal.
Kelarutan                    : Larut  dalam 500 bagian air, 20 bagian  air mendidih, dalam 3,5 bagian  etanol  (95%)  P dan dalam  3  bagian  aseton  P, mudah  larut  dalam  eter P.
Penyimpanan                           :   Dalam wadah tertutup baik
Kegunaan                                            :   Sebagai pengawet
Inkompatibilitas                      : Aktivitas  antimikroba metil paraben dan paraben lainnya  sangat berkurang dengan adanya surfaktan nonionik, seperti polisorbat 80, sebagai akibat dari  miselisasi. Namun propilen glikol (10%) telah terbukti mempotensiasi aktivitas antimikroba dari paraben dengan adanya surfaktan nonionik dan mencegah interaksi antara metil paraben dan polisorbat. Stabilitas  Larutan metil paraben stabil pada pH 3 – 6, disterilisasikan oleh otoklaf 120ÂșC selama 20 menit tanpa terjadi peruraian. Dalam bentuk larutan stabil pada pH 3 – 6 (terurai kurang dari 10%) untuk penyimpanan lebih dari 4 tahun
OTT                             : Surfaktan anionik, bentonit, magnesium trisilikat, talk, tragakan
Sterilisasi                                                                    : Otoklaf
Wadah                         : Wadah tertutup baik ditempat yang dingin dan kering
Konsentrasi                : 0,065 % - 0,25 % ( i.v)
Fungsi                         : Persevatives agent
Bobot molekul            : 152,15
Rumus Struktur           : C8H8O3
Titik leleh                   : 125 – 128oC
Mekanisme kerja         : Mencegah timbulnya jamur (fungi) yang selain sebagai pengawet makanan juga dipakai sebagai bahan campuran kosmetik supaya tidak ada jamurnya, Methylparaben mudah diserap dari saluran pencernaan atau melalui kulit. Hal ini dihidrolisis menjadi asam p-hidroksibenzoat dan cepat dikeluarkan tanpa akumulasi dalam tubuh. Penelitian telah menunjukkan bahwa Methylparaben secara praktis tidak beracun oleh kedua baik secara oral dan parenteral.
Efek samping              :  Kanker payudara, alergi, intertilitas,gangguan pencernaan, dan gangguan pernafasan.
Dosis                           :   10 mg / kg bb / hari

9.      NATRIUM BENZOAT
Nama Resmi                : Natrii Benzoat
Nama Lain                  : sodium benzoat, benzoat fo soda, sodium benzoat acid
Rumus Molekul           : C7H5NO2
Pemerian                     :Granul putih, atau cristalme, bersifat higroskopik dalam bentuk serbuknya, tidak berbau atau memiliki bau seperti benzoatnya, memiliki rasa yang tidak manis dan rasa saile
Stabilitas                     : Larutan berairnya mungkin harus disterilisasi dengan autoclaf atau filtrasi
Kelarutan                    : Larut dalam 18 bagian air, larut dalam 1,4 bagaian air pada suhu 100­oC
Incomp.                       : Incomp dengan komponen guarter, gelatin, garam feri, garam kalsium dan garam dari heavy metalis termasuk silver, leab dan menty. Activitas preservative mungkin jarang jika berinteraksi dengan kaolin ataupun sufaktan non ionik.
10.  NA SITRAT 
( FI IV hal 588, Handbook of Pharmaceutical Excipient hal 443 )
Pemerian                           : Hablur tidak berwarna atau serbuk hablur, putih
Kelarutan                          : Dalam bentuk hidrat mudah larut dalam air, sangat mudah larut dalam air  mendidih, tidak larut dalam etanol.
Incompatible                     : Dengan asam.
Penyimpanan                     : Dalam wadah kedap udara.
Kegunaan                          : Natrium sitrat digunakan untuk meringankan    ketidaknyamanan pada infeksi saluran kemih, seperti sistitis, untuk mengurangi asidosis terlihat pada distal asidosis tubulus ginjal, dan juga dapat digunakan sebagai laksatif osmotik. Natrium sitrat ini merupakan komponen utama dari larutan Rehidrasi Oral WHO.
Kadar                                : 0,3-2,0 %
pH                                     : 7,0 – 9,0
OTT                                   : Dengan garam alkaloid, kalsium, larutan hidroalkohol
Sterilisasi                           : Autoklaf
Prinsip Kerja                     : Natrium Sitrat 3,8% yaitu dengan cara mengikat ion kalsium dalam darah dan mempertahankan kapabilitas fungsi trombosit (bufer Natrium sitrat bisa meningkatkan  stabilitas faktor V & VIII). Natrium Sitrat 3,8% dibuat dengan cara melarutkan 3,8 gram Natrium Sitrat Dihidrat dalam 100 ml aquadest.
Mekanisme Kerja              : Natrium sitrat merupakan asam lemah dan jika bergabung dengan asam  hidrochlorida yang merupakan asam kuat di lambung akan menghasilkan natrium klorida dan asam sitrat yang merupakan asam yang cukup lemah sehingga dapat mengurangi pH dalam lambung.Untuk menghindari masalah ini, maka natrium sitrat dapat diberikan sebelum operasi untuk mengurangi resiko aspirasi lambung pada pasien yang beresiko tinggi yang memerlukan anestesi umum. Natrium sitrat sebaiknya tidak digunakan dalam jangka panjang karena kandungan natriumnya cukup tinggi, idealnya obat antasida sebaiknya tidak digunakan dalam jangka waktu lama.
Incompatibility                  : Larutan sedikit basa akan bereaksi dengan zat asam. tidak cocok juga dengan basa, zat pereduksi dan agen pengoksidasi.
Indikasi                             : Batuk karena influenza, alergi, bronkhitis, emfisema, asma bronkhial.
Kontra Indikasi                 : Hipertiroidisme, hipertensi, penyakit koroner, terapi MAOI (penghambat mono amin oksidase).
Efek Samping                   :Mengantuk, pusing ,mulut kering, kejang seperti epilepsi (pada dosis tinggi).

11.  Oleum Menthae Piperitae
      Nama Lain                          : Minyak permen, pepermin oil
      Nama Tanaman Asal           : Mentha piperita (L.)
      Keluarga                             : Lamiaceae
      Zat Berkhasiat Utama / Isi      : Menthol, metilasetat
        Persyaratan Kadar                   : Kadar ester dihitung sebagai metal asetat tidak kurang dari 4 % dan tidak lebih dari 9 %, kadar mentol bebas tidak kurang dari 45 %
        Penggunaan                       : Karminativa, stimulansia, sebagai obat mulas
        Pemerian                               : Cairan tidak berwarna, kuning pucat atau kuning kehijauan, bau aromatik, rasa pedas kemudian dingin
Cara memperoleh                : Minyak atsiri yang diperoleh dengan penyulingan air
                                              pucuk berbunga segar, jika perlu dimurnikan 
        Penyimpanan                         : Dalam wadah tertutup rapat, terisi penuh, terlindung dari cahaya.

12.  PROPYLEN GLYCOLUM
Nama lain        : propilen glikol
Rumus kimia   : C3H8O2
Pemerian         : cairan kental, jernih, tidak berwarna, tidak berbau, rasa agak manis
Kelarutan        : dapat campur dengan air, dengan etanol (95%)P dan dengan kloroform P, larut dalam 6 bagian eter P, tidak dapat campur dengan eter minyak tanah P, dan dengan minyak lemak
Indeks bias      : 1,431 sampai 1,433
Jarak didih      : pada suhu 185o sampai 189o tersuling tidak kurang dari 95% vv
Bobot per ml   : 1,035 gram sampai 1,037 gram
BM                  : 76,10
Khasiat            : zat tambahan

13.  PVP
Struktur kimia
Rumus molekul
(C6H9NO)n
Nama kimia
1-Ethenyl-2-pyrrolidinone homopolymer [9003-39-8]
Berat molekul
2500-3000000
Pemerian
Serbuk hakus berwarna putih hingga putih krem,tidak berbau atau hampir tidak berbau,serbuk higroskopis
Kelarutan
Sangat larut dalam asam,kloroform , etanol 95%,keton,metanol dan air,praktis tidak larut dalam eter hidrokarbon dan minyak mineral
Stabilitas
penurunan kelarutan povidone stabil untuk siklus pendek dari preparan Povidon mulai berwarna gelap sampai batas tertentu pada pemanasan 1500C ,dengan panas sekitar 1100C-1300C.
Sterilisasi uap dari larutan berair tidak mengubah kandungan povidon,larutan berair yang peka,rentan terhadap pertumbuhn jamur dan akibatnya memerlukan penambahan bahan  pengawet yang cocok
Inkompatibilitas
Inkompatibel terhadap bahan organik dan anorganik
Penyimpanan
Disimpan dalam wadah kedap udara ,sejuk dan tempat kering
Kegunaan
Pengikat (0,5%-5%)
Daftar pustaka
HOPE 6th edisi 2009 hal 581-582

14.  SORBITOL
(Handbook of Pharmaceutical of Excipient hal. 679)
Rumus Molekul                     : C6H14O6                  
Berat Molekul                        : 182,17
Pemerian                                : Serbuk, butiran atau kepingan; putih ; rasa manis ; higroskopis.
Kelarutan                               : Sangat mudah larut dalam air, sukar larut dalam etanol, dalam metanol dan dalam asam asetat.
Berat Jenis                             : 1,49 g/ml
pH                                          : 4,5-7,0
Kegunaan                              : Bahan pembasah
Konsentrasi                            : 70%
Stabilitas                                : Relatif inert dan kompatibel dengan sebagian besar bahan tambahan; stabil di udara.
OTT                                       : Tidak bercampur dengan larutan asam berkonsentrasi tinggi dan larut dengan garam besi juga beberapa logam seperti aluminium, merkuri, dan zink.
Wadah & penyimpanan         : Dalam wadah tertutup rapat.
15.  SUKROSA
Nama lain        : sucrosum, sakarosa
Rumus kimia   : C12H22O11
Pemerian         : hablur putih atau tidak berwarna, massa hablur atau berbentuk kubus, atau serbuk hablur putih, rasa manis, stabil di udara. Larutannya netral terhadap lakmus.
Kelarutan        : sangat mudah larut dalam air, lebih mudah larut dalam air mendidih, sukar larut dalam etanol, tidak larut dalam kloroform dan dalam eter.
BM                  : 342,30
Khasiat            : pemanis
16.  TALKUM
Struktur kimia

Rumus molekul
Mg6(S12O5)4(OH)4
Nama kimia
Talk(14807-96-6)
Berat molekul
-
Pemerian
Sangat halus,warna putih sampai putih ke abu-an,tidak berbau ,berkilat mudah melekat pada kulit dan bebas dr butiran
Kelarutan
Tidak larut dalam hampir semua pelarut
Stabilitas
Talk merupakan bahan yang stabil,dapat di sterilisasi dengan pemanasan sampai 1600 C tidak kurang dari 1 jam .dapat juga disterilkan dengan gas etilen oxide atau gama radiasi
Inkompatibilitas
Inkompatibilitas dengan kandungan ammonium kwartener
Penyimpanan
Talk harus disimpan dalam wadah tertutup rapat dan tempat kering
Kegunaan
Glidan (1,0 % - 10 %)
Daftar pustaka
HOPE 6th edisi 2009 hal 728 – 731
FI ed IV hal 771

Dekstrosa (glukosa)
(FI IV hal. 300, Martindale 28 hal. 50, DI hal. 1427, Excipient hal. 154)
Bobot molekul : D glukosa monohidrat 198,17
Rumus molekul : C6H12O16.H2O
Pemerian : Hablur tidak berwarna serbuk hablur atau serbuk granul putih, tidak berbau rasa manis.
Kelarutan : Mudah larut dalam air, sangat mudah larut dalam air mendidih, larut dalam etanol mendidih, sedikit larut dalam alkohol
E NaCl : 0,16 ( Sprowls hal: 187)
L : 1,9
Konsentrasi : 2,5-11,5% untuk IV (DI 2003 hal 2505). 0,5-0,8g/kg/jam (DI hal 1427-1429). Untuk hipoglikemia 20-50 ml (konsentrasi 50%)
Khasiat : Sebagai sumber kalori dan zat pengisotonis
Osmolaritas : 5,51% w/v larutan air sudah isotonis dengan serum
Stabilitas : Stabil dalam bentuk larutan, dekstrosa stabil dalam keadaan penyimpanan yang kering, dengan pemanasan tinggi dapat menyebabkan reduksi pH dan karamelisasi dalam larutan
OTT : Sianokobalamin, kanamisin SO4, novobiosin Na dan wafarin Na,Eritromisin, Vit B komplek
( martindale 28 hal: 21)
Sterilisasi : autoklaf
PH : 3,5 – 6,5 (dalam 20%w/v larutan air)
Efek samping : Larutan glukosa hipertonik dapat menyebabkan sakit pada tempat pemberian (lokal), tromboklebitise, larutan glukose untuk infus dapat menyebabkan gangguan cairan dan elektrolit termasuk edema, hipokalemia, hipopostemia, hipomagnesia.
Kontraindikasi : Pada pasien anuria, intrakranial atau intraspiral hemorage
Titik lebur : 83OC
NaCl (Natrium klorida)
(FI IV hal. 584, Martindale 28 hal. 635, Excipient hal. 440)
Rumus molekul : NaCl
Bobot molekul : 58,44
Pemerian : Kristal tidak berbau tidak berwarna atau serbuk kristal putih, tiap 1g setara dengan 17,1 mmol NaCl.
2,54g NaCl ekivalen dengan 1 g Na
Kelarutan : 1 bagian larut dalam 3 bagian air, 10 bagian gliserol
Sterilisasi : Autoklaf atau filtrasi (Martindale 28 hal: 635)
Stabilitas : Stabil dalam bentuk larutan. Larutan stabil dapat menyebabkan pengguratan partikel dari tipe gelas
pH : 4,5 –7(DI 2003 hal 1415) 6,7-7,3 ( Excipient hal 672)
OTT : logam Ag, Hg, Fe
E NaCl : 1 (Sprowls hal 189)
Kesetaraan E elektrolit : 1 g ≈ 17,1 mEq
Konsentrasi/dosis : lebih dari 0,9% (Excipient hal 440). Injeksi IV 3-5% dalam 100ml selama 1 jam (DI 2003 hal 1415). Injeksi NaCl mengandung 2,5-4 mEq/ml. Na+ dalam plasma = 135-145 mEq/L (steril dosage form hal 251 )
Khasiat/kegunaan : Pengganti ion Na+, Cl- dalam tubuh
Efek samping : Keracunan NaCl disebabkan oleh induksi yang gagal dapat menyebabkan hipernatremia yang memicu terjadinya trombosit dan hemorrage. Efek samping yang sering terjadi nausea, mual, diare, kram usus, haus, menurunkan salivasi dan lakrimasi, berkeringat, demam, hipertensi, takikardi, gagal ginjal, sakit kepala, lemas, kejang, koma dan kematian.
Kontraindikasi : Untuk pasien penyakit hati perifer udem atau pulmonali udem, kelainan fungsi ginjal.
Farmakologi : berfungsi untuk mengatur distribusi air, cairan dan keseimbangan elektrolit dan tekanan osmotik cairan tubuh.
Aqua Pro Injeksi
(FI IV hal 112, FI III hal 97)
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau
Sterilisasi : Kalor basah (autoklaf)
Kegunaan : Pembawa dan melarutkan
Alasan pemilihan : Karena digunakan untuk melarutkan zat aktif dan zat-zat tambahan
Cara pembuatan : didihkan aqua dan diamkan selama 30 menit, dinginkan
H2O2 (Hidrogen peroksida)
(FI IV hal. 438, Martindale 28 hal. 1232)
Pemerian : Cairan jernih tidak berwarna, bereaksi asam terhadap lakmus, terurai secara perlahan dan dipengaruhi oleh cahaya
Konsentrasi : 0,1%
Stabilitas : stabil dengan penambahan pengawet 0,05%
OTT : zat pereduksi dan zat pengoksidasi
Kegunaan : Untuk membebaskan aqua pro injeksi dari pirogen atau depirogenisasi.
Alasan pemilihan : Untuk membantu pembebasan sediaan dari pirogen.
Norit
(FI IV hal. 1169, Martindale hal. 79)
Pemerian : Serbuk hitam tidak berbau
Kelarutan : praktis tidak larut dalam suasana pelarut biasa
Stabilitas : stabil ditempat yang tertutup dan kedap udara
Kegunaan : Untuk kelebihan H2O2 dalam sediaan
Konsentrasi : 0,1-0,3%
Alasan pemilihan : Norit inert sehingga tidak bereaksi dengan zat aktif.
Kalsium glukonat
(FI IV hal. 161)
Pemerian : Hablur, granul atau serbuk putih; tidak berbau; tidak berasa. Stabil di udara
Kelarutan : Agak sukar (dan lambat) larut dalam air; mudah larut dalam air mendidih, tidak larut dalam etanol. Larutan bersifat netralterhadap lakmus
Stabilitas : Injeksi kalsium OTT dengan larutan infus IV yang terdiri dari bermacam-macam obat (DI hal. 1399)
Khasiat : Untuk pengobatan hipokalsemia tetani
(DI hal. 1399)
Dosis : Kebutuhan tubuh 4,5-5,5 mEq kalsium per hari.
1 g Ca. Glukonat monohidrat ~ 4,5 mEq calcium
( Martindale 28 hal.623)
pH : 6-8,2 (DI hal.1399)
OTT : Oxidating agent, sitrat, phospat, dan sulfat
(Martindale 28 hal. 622)
E NaCl : 0,18 (FI IV Hal. 1246)
Efek Samping : Mual, muntah, vasodilatasi perifer, berkeringat, hipotensi, hiperkalsemia, konstipasi
(Martindale 28 hal.62)
Kontraindikasi : Perhatian serius pada ketidakseimbangan fungsi renal (Martindale 28 hal.620)
Sterilisasi : Autoklaf ( Martindale 28 hal 622)
Dextran 70
(DI 2003 hal. 2489; Martindale hal. 955; FI IV hal. 296 )
Pemerian : Serbuk amorf, warna putih sampai putih kekuningan; tidak berbau dan tidak berasa; higroskopis.
Kelarutan : Mudah larut dalam air panas; larut secara bertahap dalam air; praktis tidak larut dalam etanol dan dalam eter.
Dosis : Total dosis dari 6% larutan yang ditujukan untuk dewasa dan anak selama 24 jam pertama tidak lebih dari 1,2 g/kg (20 mL/kg); bila terapi berlanjut lebih dari 24 jam, dosis tidak lebih dari 0,6 g/kg (10 mL/kg) dalam sehari. Untuk dewasa, dosis yang biasa diberikan 30 g (500 mL). Pada situasi emergensi, dextran 70 dapat diberikan pada dewasa dengan kecepatan 1,2-2,4 g (20-40 mL) per menit. Pada pasien normovolemik, kecepatan infus tidak lebih dari 0,24 g (4 mL) per menit. (DI 2003 hal 2489)
Rute pemberian : intravena
pH : 3-7
Stabilitas : Larutan dextran jika disimpan dalam jangka waktu yang lama atau pada temperatur yang bervariasi, maka akan terbentuk kristal dextran pada larutan. Kristal tersebut dapat larut kembali dengan pemanasan pada WB suhu 1000C atau dengan autoklaf pada 1100C selama 15 menit. Larutan dextran harus disimpan pada temperatur konstan yaitu 250C.
Kegunaan : Cairan pengganti darah dan penambah volume plasma untuk mengatasi syok ketika produksi darah lengkap manusia tidak mencukupi, dan pada kondisi syok hipovolemik.
OTT : Mungkin timbul dari pH asam selama preparasi dextran 70.
Sterilisasi : sterilisasi akhir (autoklaf pada suhu 1150-1160 selama 30 menit.
Farmakologi : Dextran 70 menyerupai sediaan steril albumin serum.
CaCl2
(DI 88 hal. 1398; FI IV hal. 160, Martindale 28 hal. 621)
Pemerian : Granul atau serpihan, putih, keras, tidak berbau.
Kelarutan : Mudah larut dalam air, dalam etanol, dan dalam etanol mendidih, sangat mudah larut dalam air panas.
pH : 4,5 – 9,2 (5% larutan air)
OTT : karbonat, fosfat, sulfat, tartrat, sefalotin sodium, CTM dengan tetrasiklin membentuk kompleks
Stabilitas : Injeksi kalsium dilaporkan inkompatibel dengan larutan IV yang mengandung banyak zat aktif.
Kegunaan : Untuk mempertahankan elektrolit tubuh, untuk hipokalemia, sebagai elektrolit yang esensial bagi tubuh untuk mencegah kekurangan ion kalsium yang menyebabkan iritabilitas dan konvulsi.
Sterilisasi : autoklaf
Kesetaraan equivalent elektroit :
1 g CaCl2 ≈13,6 mEq Ca++
Ekuivalensi : 0,51 ( Sprowls hal 187)
Farmakologi : penting untuk fungsi integritas dari saraf musular, sistem skeletal, membran sel dan permeabilitas kapiler ( DI hal 1398)
KCl
(DI 88 hal. 1410; Excipient hal 385, FI IV hal. 477)
Pemerian : Kristal atau serbuk kristal putih atau tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa atau berasa asin
.
Kelarutan : Larut dalam air, sangat mudah larut dalam air panas, praktis tidak larut dalam eter, etanol dan alkohol.
pH : 4-8
konsentrasi : 2,5-11,5%
dosis : konsentrasi kalium pada rute iv tidak lebih dari 40 mEq/L dengan kecepatan 20 mEq/jam ( untuk hipokalemia). Untuk mempertahankan konsentrasi kalium pada plasma 4 mEq/L ( DI 2003 hal 1410). K+ dalam plasma = 3,5-5 mEq/L ( steril dosage form hal 251)
Stabilitas : Stabil dan harus disimpan dalam wadah tertutup rapat, ditempat sejuk dan kering.
Kegunaan : Biasa digunakan dalam sediaan parenteral sebagai senyawa pengisotonis.
OTT : Larutan KCl IV inkompatibel dengan protein hidrosilat, perak dan garam merkuri.
Sterilisasi : Dengan otoklaf atau filtrasi.
Kesetaraan equivalent elektrolit :
1 g KCl ≈ 13,4 mEq K+
Ekuivalen : 0,76 ( Sprowls hal 189)
Arginin HCl
(Remington hal. 1690, DI 88 hal. 1314, Martindale 28 hal. 49)
Pemerian : Kristal putih atau serbuk kristal, praktis tidak berbau.
Kelarutan : Larut dalam air (1 g dalam 5 mL) , agak larut dalam alkohol Panas
Indikasi : Penanganan gejala dari encephalopathie parah yang berasosiasi dengan amoniakal azotemia dapat meningkatkan keadaan klinis dari pasien. Arginin digunakan sebagai suplemen nutrisi dalam kondisi dimana karakter dibasic amino atau dapat mengurangi kadar amonia dalam darah (pada pasien Hiperammonia). Arginin sebagai prekursor seharusnya digunakan hati-hati.
Kontraindikasi : Arginin harus diberikan hati-hati pada pasien dengan gangguan elektrolit karena dapat mendorong kearah pengembangan hyperchloraemic acidosis. Tidak boleh diberikan pada penderita ginjal atau anuria.
pH : dalam larutan 9,5 – 10 % pHnya 5-5,5
Dosis : 25 g atau 500mg/kg BB dalam 500-1000 ml ( Martindale hal 49 )
OTT : medroksi progesteron asetat, xylitol, aminofilin, sulfenil urea
Stabilitas : stabil dalm suhu kamar
Sterilisasi : filtrasi atau autoklaf
PH : 5 - 6,5
Ekivalen : 0,475 mEq
Penyimpanan : disimpan pada suhu kamar, hindari dari pemanasan dan pembekuan.
Na Bikarbonat
Pemerian ; Serbuk kristal putih, berbau lemah, berasa asin
Kelarutan ; 1 bagian larut dalam 11 bagian air, praktis tidak larut dalam alkohol dan eter
pH ; tidak lebih dari 8,6 (larutan 5% dalam air)
OTT ; Asam, garam asam, dopamine HCL, Pentazosin laktat, garamalkaloid, bismuth salisilat.
Sterilisasi ; Otoklaf atau filtrasi
Khasiat ; Pengobatan asidosis metabolic akut
Dosis ; Untuk dewasa 2-5 mEq/kg selama 4-8 jam (DI 88 hal 1388)
E NaCl ; 0,65 (Sprowis hal 189)
Stabilitas ; Injeksi disimpan pada suhu dibawah 40°C, tapi lebih baik disimpan 15-30ÂșC dan harus terlindung dari pembekuan.
MgCl2
(Martindale 28 hal. 625)
Pemerian : Tidak berwarna, tidak berbau, kristal higroskopik dengan sedikit rasa pahit.
Kelarutan : 1 bag Larut dalam 1 bagian air; dalam 2 bagian etanol.
Dosis : Mg2+ dalam plasma = 2 mEq/L (Steril dossage Form hal 251)
PH : 4,8 – 7 (5 % dalam air).
Stabilitas : Jika dipanaskan 100 °C akan kehilangan 2 molekul dari kristalnya dan pada suhu 110 °C mulai kehilangan hidrogenklorida membentuk garam.
Sterilisasi : Dengan otoklaf atau filtrasi.
Kegunaan : Sebagai sumber ion magnesium, untuk aktivitas neuromuskuler sebagai koenzim pada metabolisme karbohidrat dan protein.
Kandungan : 9,8 mEq pergram (Martindale 28 hal 625)
Ekivalensi : 0,45 (Sprowls hal 188)
Vitamin C
(FI IV hal. 39, DI 2003 hal. 2108, Martindale 35 hal. 1653, Excipient hal. 21)
Pemerian : Hablur, serbuk putih atau agak kuning
Kelarutan : Agak sukar larut dalam etanol, tidak larut dalam kloroform, eter dan benzen
Stabilitas : dalam bentuk serbuk asam askorbat relatif stabil di udara dan stabil terhadap pemanasan. Tidak stabil dalam larutan terutama larutan alkalis. Larutan asam askorbat stabil pada pH maksimum 6-6,5
pH : 5,5-7
Khasiat : Antioksidan dan untuk defisiensi vitamin C
Dosis : 100-250mg/hari (DI 2003 hal. 2108), 0,01-0,1% (Excipient hal. 21)
OTT : Dengan larutan alkalis, logam berat dan bahan pengoksidasi fenileferin HCl, pirilamin maleat, salisilamid, NaNO3, Na salisilat, teobromin salisilat
Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat dan tdak tembus cahaya
Ammonium Klorida
(FI IV hal. 94, Martindale 28 hal. 686, DI 2003 hal. 1384)
Pemerian : hablur tidak berwarna atau serbuk halus atau kasar berwarna putih, rasa asin dan agak dingin, hidroskopik
Kelarutan : 1 g zat larut dalam 2,7 ml air, 1 g zat larut dalam 1,4 ml air hangat, 1 g zat larut dalam 100 ml alkohol, 1 g zat larut dalam 8 ml gliserol. 0,8% larutan isoosmotik dengan serum (Martindale 28 hal. 686)
Khasiat : Untuk pengobatan alkalosis metabolik yang berat
Dosis : Untuk iv 500ml dari 2% larutan setiap 3 jam
OTT : dengan alkali karbonat dari alkali tanah dan garam perak
Stabilitas : amonium klorida untuk konsentrasi injeksi harus disimpan pada temperatur 40oC atau kurang dari 40oC. Hindari dari pembekuan. Konsentrasi larutan bisa mengkristal pada suhu rendah. Jika serbuk mengkristal, larutan injeksi harus dipanaskan di WB dengan temperatur kamar (DI 2003 hal. 1384)
Sterilisasi : Autoklaf atau filtrasi
pH : 4,6 – 6 (Martindale 28 hal. 686)
penyimpanan : Disimpan dalam wadah tertutup rapat
Glisin
(Martindale 28 hal. 1786, DI 2003 hal. 1477)
Pemerian : serbuk kristal, putih, tidak berbau, rasa agak manis, beraksi asam dengan lakmus
Kelarutan : mudah larut dalam air, sangat sukar larut dalam eter dan etanol. 5% larutan dalam air mempunyai pH 5,9 – 6,4
Khasiat : sebagai larutan irigasi, urogenital selama operasi terutama pada proses penanganan transuretral prostat.
Dosis : 15 mg /ml
Stabilitas : stabil jika disimpan dalam suhu kurang dari 40oC, tidak boleh lebih dari 60oC (DI 2003 hal. 1477)
pH : 4,5 – 6,5
penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat
sterilisasi : filtrasi
Na Laktat
(DI 2003 hal. 2474)
Ekivalensi : 0,55 (Sprowls hal. 189)
Latar belakang :
- Na laktat sebagai zat aktif dimana zat aktif ini merupakan agen pengalkali yang digunakan sebagai sumber bikarbonat untuk pencegahan dan pengobatan asidosis metabolic ringan hingga sedang
- Tidak ditambah zat pengisotonis karena didapat larutan hipertonis dengan catatan laju tetesan tidak lebih dari 200ml per jam (DI 2003 hal. 2474)

17.