Showing posts with label Community. Show all posts
Showing posts with label Community. Show all posts

Tuesday, March 1, 2022

TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB APOTEKER PENANGGUNG JAWAB

 APOTEKER PENANGGUNG JAWAB

I.        TUJUAN JABATAN

Mengelola kegiatan perbekalan dari datang sampai sediaan  narkotika, psikotropika dan prekursor (NPP) didistribusikan ke unit farmasi lain. Pengelolaan sediaan  NPP  dimulai dari pengadaan, penerimaan, penyimpanan yang sesuai standar yang dipersyaratkan oleh Quality Control pabrik dan pedoman teknis cara distribusi obat yang baik, serta penyaluran obat  dan atau bahan obat yang benar.  Dan semua proses yang dilakukan didokumentasikan dengan baik sebagai bahan untuk telusur.  Sehingga pada akhirnya kwalitas sediaan NPP dapat dijaga sampai ke pengguna.

 

II.     TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB

 

Tugas :

 

a)        Melakukan pekerjaan kefarmasian (pengendalian mutu sediaan NPP, pengamanan, pengadaan, penyimpaan dan pendistribusian/ penyaluranan obat, pengelolaan obat, pelayanan informasi obat)

b)        Menjalankan ketentuan cara distribusi  obat yang baik yang ditetapkan oleh Kepala BPOM saat melakukan pekerjaan kefarmasian dalam distribusi atau penyaluran sediaan NPP, termasuk pencatatan segala sesuatu yang berkaitan dengan proses distribusi atau penyaluran sediaan farmasi.

c)         Membuat dan memperbaharui SOP (Standard Operational Procedure) serta Instruksi Kerja (IK) yang diterapkan dalam pekerjaan di dalam pelaksanaan cara distribusi  obat yang baik.

Tanggung Jawab :

a)      Menyusun, memastikan dan mempertahankan penerapan sistem manajemen mutu

Dalam menyusun , memastikan  dan mempertahankan mutu,  apoteker berperan aktif dalam menyusun sistem mutu yang mencakup tanggung jawab, proses dan langkah manajemen risiko terkait dengan kegiatan yang dilaksanakan. Dimulai dengan peran menyusun SOP (Standard Operational Prosedure)  terkait distribusi narkotika psikotropika dan precursor (NPP), sampai implementasinya. Apoteker harus mendokumentasikan semua kegiatan sehingga dapat dipantau efektivitasnya.

 

 

 

b)      Fokus pada pengelolaan kegiatan yang menjadi kewenangannya

Dengan adanya sistem mutu maka wewenang dan tanggung jawab apoteker menjadi jelas sehingga kinerja apoteker dapat dinilai. Fokus menjadi kata kunci pengelolaan kegiatan dan tidak ada lagi tumpang tindih wewenang. Dalam kegiatan distribusi dapat dipilah dimana saja apoteker  berperan sehingga aspek kontrol semua kegiatan dapat dijaga. Sebagai contoh dalam validasi surat pesanan apoteker bertugas sebagai “validator” apakah surat pesanan (SP narkotika/ psikotropika/ precursor) tersebut memenuhi persyaratan baik kualitas maupun kuantitasnya (surat pesanan lengkap dan benar serta jumlah yang diminta wajar). Demikian juga di proses akhir distribusi apoteker harus berperan sehingga proses distribusi dapat berjalan dengan benar sehingga kualitas yang didistribusikan tetap terjaga.

c)       Mengelola program pelatihan personil yang terkait dalam kegiatan distribusi

Peran apoteker yang paling penting dalam menjaga sistem mutu adalah melatih personil sehingga personil pelaksana dapat menjalankan operasional sesuai dengan SOP dan menghasilkan proses yang benar. Sehingga setiap personil memahami proses distribusi narkotika, psikotropika dan precursor, yang baik dan benar, Pengelolaan pelatihan personil harus dilakukan secara kontinue dan terprogram dan dapat dievaluasi efektivitasnya. Perlu didokumentasikan progress hasil pelatihan termasuk penilaian kinerja personil dalam menjaga kompetensinya.

d)      Mengkoordinir kegiatan penarikan obat

Apoteker penanggung jawab sesuai kewenangannya, harus melaksanakan penarikkan obat (narkotika/ psikotropika/ precursor), baik yang mandatory (wajib) atau volountary (sukarela) sangat vital. Proses penarikan perlu dilakukan dengan gerak cepat  dan segera, dengan tujuan mencegah obat yang dikonsumsi masyarakat sehingga bahaya yang ditimbulkan bisa diminimalisir. Dalam penarikkan obat ini, Apoteker harus mengoptimalkan koordinasi dengan produsen, principal dan regulator.

 

e)       Mengawasi penanganan keluhan pelanggan

Dalam mengevaluasi sistem mutu berjalan dengan baik , keluhan dari pelanggan bisa menjadi barometer .Tugas apoteker dalam menangani keluhan adalah mencatat dan mendokumentasikan keluhan selanjutnya memilah keluhan mana saja dan ditujukan kepada siapa. Sebagai apoteker posisinya mempresentasikan sebagai wakil dari poduk (narkotika/ psikotropika/ precursor) yang didistribusikan serta menjaga pelayanan yang dijanjikan ke konsumen. Keluhan terhadap mutu produk selanjutnya dikoordinasikan dengan principal dan produsen sedangkan untuk pelayanan jasa distribusi harus segera dievaluasi dan diperbaiki sehingga keluhan pelanggan bisa diminimalisir.

f)       Melakukan kualifikasi pemasok dan pelanggan

Tugas apoteker yang utama dalam kualifikasi pemasok dan pelanggan adalah melakukan screening sehingga dapat dipastikan pemasok atau pelanggan mempunyai izin sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku serta mengikuti prinsip CDOB. Kualifikasi pemasok dan pelanggan harus dilakukan berulang bukan hanya meminta salinan perizinan tetapi memantau proses transaksi jika ada penyimpangan. Dokumentasi perizinan berikut identitas/ specimen data pemasok dan pelanggan diarsipkan dengan baik, sehingga jika dibutuhkan mudah dilakukan penelusuran.

g)      Meluluskan obat/bahan obat kembalian untuk dikembalikan ke stok

Dalam praktek proses distribusi selalu ada barang (narkotika/ psikotropika/ precursor), kembalian dari pelanggan baik itu salah pemesanan ataupun pengembalian dikarenakan obat sudah mendekati Expire Date. Proses retur yang dilakukan harus sesuai dengan persyaratan retur yang ditetapkan perusahaan. Apoteker bertugas untuk memeriksa sekaligus meluluskan atau tidak meluluskan barang kembalian dari pelanggan. Tentunya ada dua fokus yang harus diperiksa yaitu kemasan, nomor batch dan tanggal expire date. Apoteker juga bertugas untuk memutuskan barang kembalian dari pelanggan yang telah lulus dapat dikategorikan layak jual dan kembali sebagai stok. Tentunya ada dua fokus yang harus diperiksa yaitu kemasan, nomor batch dan tanggal expire date.

h)      Mendelegasikan tugasnya kepada apoteker/tenaga teknis kefarmasian jika berhalangan.

Dalam melaksanakan tugasnya apoteker bisa saja mendelegasikan tugas dan wewenangnya kepada apoteker supervisi atau tenaga kefarmasian lainnya apabila berhalangan. Hal tersebut dimungkinkan dengan memberi wewenang terbatas sehingga proses distribusi tidak terganggu. Semua pedoman pendelegasian mengacu kepada SOP (Standard Operational Procedure) sehingga terjaga dan dapat dipertanggung jawabkan.

i)        Turut serta dalam pengambilan keputusan untuk karantina atau pemusnahan obat/bahan obat.

Dalam praktek distribusi obat menyisakan satu risiko yang hanya bisa diminimalisir yaitu kerusakan obat (narkotika/ psikotropika/ precursor). Kerusakan obat bisa saja terjadi akibat penerimaan, penyimpanan dan distribusi yang salah. Belum termasuk obat yang expire date karena tidak bisa dipasarkan. Tugas apoteker dalam hal ini memisahkan obat dengan kategori rusak/ED di tempat terpisah (dikarantina) supaya tidak bercampur dengan obat yang baik dan layak jual, dengan diberi penandaan yang jelas untuk menghindari penyalahgunaan dan dampak terhadap kesehatan dan lingkungan.Selanjutnya setelah mendapat persetujuan dari managemen, obat dapat dimusnahkan sesuai ketentuan yang berlaku dengan dibuatkan berita acara dan disaksikan oleh BPOM dan Dinkes setempat. Pelaksanan pemusnahan mengacu kepada SOP (Standard Operational Procedure) sehingga terjaga dan dapat dipertanggung jawabkan.

j)       Memastikan pemenuhan persyaratan obat 

Tugas apoteker yang terpenting dalam mendistribusikan obat (narkotika/ psikotropika/ precursor) adalah memastikan pemenuhan persyaratan obat meliputi : berasal dari pemasok yang mempunyai izin sesuai ketentuan yang berlaku dan menerapkan kaidah CDOB. Memastikan pasokan obat mempunyai izin edar yang berlaku, tidak rusak /mengalami perubahan  selama penerimaan/transportasi, tidak kadaluarsa atau mendekati kadaluarsa serta nomor batch sesuai dengan yang tertera di dokumen. Selama penyimpanan apoteker wajib mengikuti aturan penyimpanan utamanya persyaratan suhu penyimpanan dan tidak bercampur dengan produk lain yang dapat memungkinkan terjadinya kontaminasi silang. Penyimpanan selama masa pendistribusian harus tetap dipenuhi seperti dalam proses penyimpanan. Terutama persyaratan suhu penyimpanan dan tidak bercampur dengan produk lain yang dapat memungkinkan terjadinya kontaminasi silang, sehingga mutu obat dapat dijaga hingga ke pelanggan

Sunday, August 23, 2020

Apoteker Penanggung Jawab

PENDAHULUAN      

    Pedagang Besar Farmasi adalah perusahaan berbentuk badan hukum yang memiliki izin untuk melaksanakan proses pengadaan, penyimpanan, penyaluran obat dan/atau bahan obat dalam jumlah besar sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

        Apoteker adalah sarjana farmasi yang telah lulus sebagai apoteker dan telah mengucapkan sumpah apoteker (PP 51, 2009 ; Permenkes RI, 2014). 

        Acuan Apoteker dalam melaksanakan tugasnya di bidang distibusi Farmasi yaitu CDOB (Cara Distribusi Obat yang Baik). CDOB adalah cara distribusi atau penyaluran obat dan/atau bahan obat yang bertujuan untuk memastikan mutu sepanjang jalur distribusi atau penyaluran sesuai dengan persyaratan dan tujuan penggunaannya. Dalam CDOB ada beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu manajeman mutu, organisasi, manajeman dan personalia, bangunan dan peralatan, operasional, inspeksi diri, keluhan, obat dan/atau bahan obat kembalian, diduga palsu dan penarikan kembali, transportasi, fasilitas distribusi berdasar kontrak, dan dokumentasi.


Sunday, February 3, 2019

Skrinning Resep Satu



 dr. G., Sp.A

Tempat Praktek
Jl. K
Perumahan b.P
Telp. (001)*****

x, 18 Oktober 2018

R/ Xepaprim                    I
     S 2 dd cth 1
--------------------------------------
R/ Vometa                        I
     S 3 dd cth 1
-------------------------------------
R/ Liprolac                       X
     S 2 dd sach 1
-------------------------------------
R/ Diagro                         I
     S 1 dd cth 1
------------------------------------
R/ Progesic                       I
    S 4 dd cth 1/4
--------------------------------------

Pro : An. M


*Ket. : Vometa tidak diambil karena pasien masih memiliki obat antiemetik dirumah.


1.      Kajian Administratif
No.
Kajian Administratif
Ada
Tidak ada
Penyelesaian
1.
Nama Pasien
P


2.
Umur Pasien
P


3.
Alamat Pasien

P
Ditanyakan langsung kepada
pasien
4.
Jenis Kelamin

P
5.
Berat Badan/Tinggi Badan

P
6.
Tanggal Penulisan Resep
P


7.
Nama Dokter
P


8.
Nomor SIP Dokter
P


9.
Alamat Dokter
P


10.
Nomor Telepon Dokter
P


11.
Paraf Dokter

P


2.      Kajian Kesesuaian Farmasetis
No.
Kajian Farmasetis
Tepat
Tidak tepat
1.
Nama Obat
P

2.
Bentuk Sediaan
P

3.
Kekuatan Sediaan
P

4.
Dosis dan Jumlah Obat
P

5.
Stabilitas Penyimpanan
P

6.
Kompatibilitas (Ketercampuran Obat)
P


3.      Kajian Klinis
No.
Kajian Klinis
Permasalahan
Penyelesaian
1.
Ketepatan Indikasi
-
-
2.
Ketepatan Dosis
-
-
3.
Kontraindikasi
-
-
4.
Aturan Cara dan Lama Pemberian
a.       Xepaprim merupakan antibiotik minimal penggunaan 3 hari
b.      Diagro mengandung Zink lama pemberian minimal 10 hri
a.        Diinformasikan pada pasien sirup Xepaprim diminum sampai habis.

b.      Diinformasikan pada pasien penggunaan sirup Diagro diminum sampai habis
5.
Duplikasi
-
-
6.
Polifarmasi
-
-
7.
Reaksi Obat yang Tidak Diinginkan
-
-
8.
Interaksi
-
-

4.      Karakteristik  Obat
a.      Xepaprim
·      Kandungan                             :    Sulfamethoxazole 400mg dan Trimetropim 80mg
·      Indikasi                                  :    Infeksi saluran kemih (sistitis), infeksi saluran cerna (terutama oleh Salmonella, Shigella) dan infeksi yang sensitif terhadap Cotrimoxazole
·      Mekanisme Kerja                   :    Sulfamethoxazole bekerja dengan menghambat masuknya molekul PABA ke dalam molekul asam folat dan Trimetropim bekerja dengan menghambat terjadinya reduksi dari dihidrofolat menjadi tetrahidrofolat (Medscape.com)
·      Dosis                                      :    Dosis Anak Trimetropim 8mg/kgBB/hari + Sulfamethoxazole 40mg/kgBB/hari dalam 2 kali dosis terbagi atau anak >2 tahun sehari 2 x 1 sendok teh
·      Kontraindikasi                        :    Hipersentitif, bayi < 2bulan, gangguan fungsi hati dan ginjal berat, pasien hamil dan menyusui, anemia
·      Interaksi dengan  Obat           :    Heparin, Cimetidine, Erythromycin
·      Interaksi dengan Makanan     : -
·      Efek Samping                         :    Mual, muntah, anoreksia, kemerahan, urtikaria, tinitus
·      Penyimpanan                          :    Tempat sejuk pada suhu < 30oC
b.      Liprolac Sachet
·      Kandungan                             :    Viable cell 1,25x109 CFU (Streptococcus thermipilus 10mg, Lactobacillus rhamnosus 3mg, Lactobacilus acidophilus 3mg, Bifidobacterium longum 1,25mg, Bifidobacterium bifidum 1,25mg), fructo-oligosaccharide 509,08mg, Vit.E 8,125mg, Vit.A 3,6mg, piridoksin HCl 1,13mg, Vit.B2 0,75mg, thiamine HCl 0,7mg (Mims.com)
·      Indikasi                                  :    Sebagai probiotik dan suplemen untuk memelihara kesehatan sistem pencernaan anak.
·      Mekanisme Kerja                   :    Probiotik berkompetisi untuk berlekatan pada enterosit usus, sehingga enterosit yang telah jenuh berikatan dengan probiotik tidak dapat lagi berikatan dengan bakteri lain sehingga menghambat pertumbuhan bakteri patogen (BPDN, 2017)
·      Dosis                                      :    1 sachet 1-2 kali sehari
·      Kontraindikasi                        :    -
·      Interaksi dengan  Obat           :    -
·      Interaksi dengan Makanan     :    -
·      Efek Samping                         :    -
·      Penyimpanan                          :    Simpan di bawah suhu 250C
c.       Diagro
·      Kandungan                             :    Zinc sulfate
·      Indikasi                                  :    Terapi penunjang/suplemen untuk diare akut non spesifik pada anak.
·      Mekanisme Kerja                   :    Zink bekerja dengan menggantikan suplemen zink dalam tubuh yang hilang selama diare. Zink juga meningkatkan sistem kekebalan tubuh anak sehingga mencegah  terulangnya resiko diare anak 2-3 bulan setelah anak sembuh dari diare (BPDN, 2017).
·      Dosis                                      :    Anak dan bayi ≥ 6 bulan : 20mg skali sehari.
Bayi < 6 bulan : 10mg sekali sehari.
·      Kontraindikasi                        :    -
·      Interaksi dengan  Obat           :    -
·      Efek Samping                         :    -
d.      Progesic
·      Kandungan                             :    Paracetamol
·      Indikasi                                  :    Analgetik Anatipiretik
·      Mekanisme Kerja                   :    Paracetamol bekerja dengan menghambat prostaglandin dalam jaringan tubuh dengan menghambat COX-1 dan COX-2 (DIH, 2009)
·      Dosis                                      :    Anak 6-12 tahun : 1-2 sendok teh
Anak 1-6 tahun : 1/2 – 1 sendok teh
Diberikan 3-4 x sehari.
·      Kontraindikasi                        :    Penyakit hepar.
·      Interaksi dengan  Obat           :    Alkohol, antokoagulan oral, klorampenikol, luminal.
·      Interaksi dengan Makanan     :    -
·      Efek Samping                         :    Alergi, mual.
·      Penyimpanan                          :    Simpan di tempat kering dan sejuk, serta terhindar dari sinar matahri langsung.
5.      Analisa Dosis
No.
Nama Obat
Dosis Obat
Dosis Literatur
Kesimpulan
Rekomendasi
1.
Xepaprim
2 x sehari 1 sdt.
2 x sehari 1 sdt.
Sesuai
-
2.
Diagro
1 x sehari 1 sdt.
20mg 1 x sehari
Sesuai
-
3.
Liprolac
2 x sehari 1 sach
1-2 x sehari 1 sach
Sesuai
-
4.
Progesic
4 x sehari 3/4 sdt.
3-4 x sehari 1 sdt.
Sesuai
-

6.      Perhitungan Racikan Obat : -
7.      Cara Menyiapkan Obat
a.       Siapkan Xepaprim sirup 1 botol, Diagro sirup 1 botol, Liprolac 5 sach., Progesic 1 botol.
b.      Lakukan pencatatan masing-masing obat pada kartu stok kecil meliputi tanggal obat diambil, nomor resep dan jumlah obat yang diambil.
c.       Masukkan masing-masing obat ke dalam plastik klip yang sesuai dan sertakan etiket putih kedalam  klip.
8.      Pembahasan
Skrining resep yang dilakukan meliputi skrining administratif, farmasetif dan klinis. Berdasarkan skrining administratif  data pasien kurang lengkap pada keterangan berat badan dan alamat pasien sehingga dapat ditanyakan kepada keluarga pasien saat menebus obat di apotek. Kegiatan skrining farmasetis tidak ditemukan adanya masalah. Sedangkan skrining klinis dilakukan dengan memberikan informasi tambahan kepada pasien atau wali pasien terkait lama permberian obat antibiotik dan suplemen zink.
Berdasarkan pemeriksaan klinis, pasien diduga mengalami diare akut. Dari hasil konseling dengan pasien Tn.K yang merupakan orangtua kandung pasien An.M dengan umur 5 tahun, bahwa pasien telah mengalami diare lebih dari 5 kali sehari dengan kondisi tubuh lemas, mengalami mual muntah dan terdapat darah di feses dan muntahan dengan pengobatan yang telah diberikan sebelumnya yaitu Biothicol yang diupayakan sebagai antibiotik profilaksis dan antiemetik, keluarga pasien diinformasikan untuk menghentikan pemberian antibiotik Biothicol dan mengganti dengan antibiotik yang diberikan oleh dokter. Dalam menentukan kesesuaian dosis pasien, dilakukan perbandingan dengan literatur. Berdasarkan hasil perbandingan tersebut diketahui bahwa dosis yang diberikan sudah sesuai dengan keluhan yang dialami pasien (dapat dilihat pada tabel skrining klinis), perbandingan aturan pakai obat dan dosis yang diberikan kepada pasien dalam  resep juga perlu dibandingkan dengan literatur. Pertimbangan klinis yang lain adalah  interaksi obat dalam hal kasus ini tidak terdapat interaksi sesama obat sedangkan untuk efek samping obat terdapat beberapa obat dengan efek samping mual muntah yang dapat diatasi dengan cara pemberian obat diberikan setelah makan.
9. KIE
a.       Pada awal penerimaan resep memperkenalkan diri kepada keluarga pasien dan meminta waktu sebentar untuk menjelasakan terkait obat dalam resep.
b.      Menanyakan kepada keluarga pasien apakah  pasien pernah mengalami sakit yang serupa atau mendapat obat tersebut sebelumnya atau belum.
c.       Saat penyerahan obat, memberikan informasi kepada keluarga pasien mengenai masing-masing kegunaan obat dan lama pemberian obat.
d.      Memberikan informasi kepada keluarga pasien tentang aturan pakai obat untuk diberikan kepada pasien yaitu : Xepaprim 2 kali sehari 1 sendok takar dihabiskan, Liprolac 2 kali seharu 1 sachet dapat dicampur dengan susu atau makanan anak, Diagro diminum sehari 1 kali 1 sendok takar dihabiskan, dan Progesic 4 kali sehari 1 sendok takar.
e.       Memberi informasi kepada keluarga pasien tentang kegunaan obat yaitu  Xepaprim sebagai antibiotik, Liprolac sebagai probiotik untuk memelihara saluran cerna anak, Diagro mengandung zink sebagai suplemen dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh anak terhadap diare berulang dan progesic digunakan untuk demam anak.
f.       Memberikan informasi kepada keluarga pasien apabila pasien mengalami gejala efek samping seperti mual muntah hebat atau demam tidak turun segera menghubungi dokter.
g.      Menekankan kepada keluarga pasien untuk mematuhi jadwal minum obat pasien.
h.      Menjelaskan kepada keluarga pasien bahwa obat harus dijauhkan dari jangkauan anak-anak, disimpan di tempat yang kering, tidak lembab, dan tidak terkena sinar matahari langsung.
i.        Menyarankan kepada pasien agar makan yang teratur dan istirahat yang cukup dan banyak meminum air putih dan apabila anak mengalami tanda-tanda dehidrasi seperi mata cekung mulut kering segera berikan oralit sebagai pengganti elektrolit dan mengatasi dehidrasi.